Sabtu, 10 Desember 2016

LOST MEMORY, REBORN 3

Begitu sampai di rumah sakit, ia langsung memberikan berkas identitas sementara itu ke perawat di resepsionis. Arsa bertanya “apa saya boleh melihat Maria??”. “Maria siapa pak?” tanya Ratih yang kebetulan tengah duduk di sana. “wanita yang kamu ajak kembali itu, wanita korban kecelakaan” jawab Arsa. “bapak sudah membuat identitas sementaranya?” tanya Ratih. “ia namanya mulai hari ini Maria. Data selengkapnya ada dalam berkas itu. Jadi saya boleh melihat Maria kan?” tanya Arsa. “ia pak” jawab perawat yang berjaga di resepsionis. “tapi pak, ia telah dipindahkan ke ruang perawatan” kata Ratih mencegah langkah Arsa. “dipindahkan?” tanya Arsa yang akhirnya mengurungkan langkahnya untuk pergi ke ruangan ICU, karena hanya ruangan itu yang ia tahu wanita itu berada. “ia, karena keadaannya semakin membaik, jadi dokter memutuskan untuk memindahkannya keruangan perawatan. Ia sudah tidak perlu lagi di ruang ICU pak” terang Ratih. “kalau begitu apa kamu mau mengantarkan saya?” pinta Arsa. “baik pak” jawab Ratih yang kemudian langsung berdiri dan melangkahkan kakinya ke ruangan yang dimaksud disusul dengan Arsa yang berjalan tepat di sampingnya.
Ternyata Maria diletakkan di ruang kelas 3. Dimana dalam satu ruangan terdapat 8 kasur dan kebetulan diruangan ini hanya ada 5 orang termasuk Maria. Begitu mereka berada tepat di dekat ranjang Maria, Arsa pun berkata “pergilah!”. Tanpa banyak bicara ratih pun melangkah mundur meninggalkan Pak Arsa. Arsa melangkahkan kakinya menuju sisi kanan Maria, menghadap dinding dan membelakangi pasien lainnya. Ranjang Maria berada paling ujung dari ruangan ini. Matanya melihat sebuah kursi plastik yang berada di samping lemari. Di ulurkan tangannya menggapai kursi plastik tersebut, kemudian ia meletakkannya di tengah antara ranjang Maria dan ranjang kosong di sebelahnya. Dihempaskan pantatnya diatas kursi tersebut. Arsa kembali mematung. Matanya tak berkedip memandang wanita yang ia namai Maria itu. Pikirannya berkata “dilihat dari mana pun tidak ada yang menarik dari dirinya, fisiknya... mungkin yang terburuk dari semua wanita yang pernah mendekatiku. Mengingat seperti apa ia dulu dengan 89 kg lemak ditubuhnya itu. Dan sekarang, setelah selang pernapasannya dicabut. Ia seperti nenek-nenek peot. Tidak,,, apa yang aku pikirkan. Dia baru saja selamat dari maut dan sekarang aku harus memikirkan ini di depannya. Tidak,, tapi kenapa dia terus menarikku? Aah,, mungkin karna wajahnya? Tidak. Wajahnya tidak cantik sama sekali, lebamnya bahkan masih ada dan bekas lukanya juga masih jelas, tidak mungkin itu yang membuatku tertarik padanya” kemudian Arsa menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya dengan kuat hingga membuat wajahnya menunduk. Ia berkata “haa,,, I have no ide. Hei kau tahu? Aku benar-benar tidak tahu siapa dirimu dan bagaimana kamu bisa menangkapku seperti ini. Tapi apa kau tahu? Aku telah memberikanmu sesuatu yang tidak semua orang bisa memberikannya. Nama. Aku memberikan mu nama. Sebuah nama yang sangat indah. Dengar baik-baik, nama mu adalah” kemudian Arsa mendekatkan mulutnya ketelinga wanita itu dan mengatakan namanya dengan sangat lembut “Maria, Maria Zilvania. Karena kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan seorang wanita bermartabat untukku”. Mendengar dirinya mengucapkan kata “untukku” membuat dirinya terkejut dan di dalam hati ia berkata “untukku?? Apa yang baru saja ku katakan?? Kenapa aku mengatakan untukku??apa aku sudah gila? Sejak kapan aku mengatakan ini kepada seorang wanita?? Tunggu! Apa benar aku memilih nama ini dengan tujuan seperti ini? Tidak. begitu ia sadar ia pasti akan mengatakan namanya. Tunggu bagaimana jika ia mendengar apa yang aku katakan? Tidak,, tidak,, dia itukan lagi pingsan. Tapi ada kemungkinan juga kan kalau ia bisa mendengarku? Haaa,,, mati aku . tunggu tadi aku berbisikkan? tidak ada yang mendengarkanku kan??” Arsa melihat sekeliling mengamati apa ada orang lain yang melihatnya dan menyadari apa yang ia katakan. Namun di ruangan sebesar ini hanya ada 4 pasien tanpa wali. Yang artinya MEREKA TIDAK MENGHIRAUKANMU. “hufh,,, sukurlah. Tunggu sejak kapan aku seperti ini?” dirinya terdiam sejenak, dipandanginya wajah wanita yang ia namai Maria itu, kemudian ia tersenyum manis. “kamu pasti seorang penyihir, yang merubahku seperti ini. Merubahku menjadi bukan diriku sendiri.” Pikir Arsa. Kemudian ia berdiri, di dekatinya wajah Maria. Tangannya yang sedari tadi diam, mengayun menuju wajah Maria hingga mendarat lembut di pipinya. Ia tersenyum sangat lebar seolah mengatakan “aku akan kembali, semangat!!”. Arsa pun pergi meninggalkan Maria sendiri terbaring di ranjangnya.
Sejak hari itu, Arsa selalu datang mengunjungi Maria. Setiap jam kerjanya usai, ia selalu menyempatkan diri untuk menemui Maria. Walau ia sangat sadar Maria tidak akan pernah menjawab pertanyaannya, namun Arsa selalu mengajaknya berbicara. Tak jarang Arsa datang membawa buku dan dengan sengaja membacanya dengan suara lebih keras bermaksud untuk membacakannya untuk Maria. Perkembangan Maria jauh lebih membaik walau masih tidak ada respon apapun dari Maria ketika ia di ajak bicara. Dokter dan beberapa suster melihat Arsa yang terlalu perhatian sebagai orang dari Dinas Sosial hanya senyam-senyum melihatnya dari kejauhan, karena hal ini memang memberikan dampak positif bagi Maria sendiri. Disisi lain, bagi Arsa selalu bersama Maria membuat dirinya menemukan dirinya yang lain. Dirinya yang selalu tersenyum, dirinya yang merasa nyaman dan damai, dirinya yang bisa meluapkan isi hatinya sendiri tanpa ragu dan beban. Entah mengapa Arsa dapat mencurahkan seluruh isi hatinya begitu saja kepada Maria. Seorang wanita yang selalu tertidur dihadapannya. Ntah mungkin karena ia tertidur dan tanpa respon kah yang membuat dirinya sangat nyaman membagi segalanya kepada Maria, ntahlah, ia pun tidak tahu.
Di sudut ruangan perawat, beberapa perawat wanita berkumpul dan berbincang. “kalian tahu Maria Zilvania pasien yang ada dikamar melati paling ujung itu gak?” tanya perawat 1 yang tengah duduk menghadap meja komputer. “di rumah sakit ini siapa sih yang gak tahu dia. Mayat hidup yang punya nasib sangat beruntung” jawab perawat 2 seseorang yang terlihat seperti ketua diantara mereka. “ia. Biaya pengobatannya dibayarin pemerintah, selain itu ntah dari mana datangnya kok bisa ya ada orang dinas sosial seganteng itu. Huft,,, andai aja semua orang dinas sosial seganteng itu, pasti semua orang berharap ditimpa musibah biar didatengin pria tampan terus” timpal perawat 3 yang sedari tadi tengah asik mengunyah makanan siangnya. “trus semua orang akan berharap sakit jika semua dokter dan perawat itu tampan, gitu?” tanya perawat 2 dengan nada sedikit sewot. “tapi ya, kalau emang dia itu Cuma orang dari dinas sosial, bukannya dia Cuma datang kalau pihak kita nelpon mereka ya? Tapi ini setiap hari dia disini. Mmm,,, udah kayak suaminya gitu” kata perawat 1 berpendapat. “masak sih? Bukannya dia itu wanita tanpa identitas dan keluarga ya??” tanya perawat 3 bingung. “itu Cuma sindiran kali” terang perawat 1. “tapi kalau dipikir-pikir lagi aneh juga sih, kita semua gak tahu identitasnya, apa lagi orang dinas itu. Tapi perlakuan dia, perhatian yang dia berikan, kayaknya itu terlalu berlebihankan untuk seorang dinas sosial? Apa mungkin dia suka, sama mayat hidup itu?” tanya perawat 2. “ia juga sih. Pasien-pasien yang satu ruangan dengannya juga berpendapat yang sama loh. Tapi kalau dipikir lagi ya, gimana caranya sih orang dinas itu bisa suka sama mayat hidup itu? Sedang kita aja ya, yang tiap hari mandi 2x sehari, selalu pakai make up, pake parfum, selalu modis, selalu bersikap baik, masih aja sulit untuk buat seseorang terpikat dengan kita. Mayat hidup itu, namanya aja mayat. Cuma tidur aja. Sifatnya gak tahu. Suaranya aja ntah seperti apa kita semua juga gak tahu.” Kata perawat 1. “ach tapi kalau aku gak peduli orang itu seperti apa dan bagaimana. Kalau dia itu bisa buat aku nyaman, bisa buat aku selalu ngemikirin dia, itu udah cukup kok buat aku suka dan jatuh cinta sama dia” kata perawat 3. “ia makanya cowok kamu itu jelek” sindir perawat 2.
Suatu hari saluran TV nasional memberitakan bahwa telah terjadi letusan abu fulkanik di Gunung Sinabung dan Dinas Sosial menunjuk Arsa untuk ditugaskan pergi sebagai perwakilan dari Dinas Sosial pusat serta memberikan dana bantuan kepada para korban abu fulkanik di Medan, Sumatera Utara. Perjalanan dinas ini membutuhkan waktu kurang lebih 10-14 hari. karena Arsa harus memeriksa seluruhnya, baik korban, kerugian, penyakit yang diderita dan obat apa yang harus dilengkapi, serta keperluan lain untuk para pengungsi. Tentu saja karena hal ini, Arsa tidak pernah lagi datang menjenguk Maria. Dan seperti biasanya budaya tukang gosip, hal ini langsung menjadi berita panas di Rumah Sakit. Ditambah lagi kondisi Maria yang ntah kebetulan atau pun tidak menjadi semakin memburuk. Sehingga tim dokter memutuskan untuk mengembalikan Maria ke ruang ICU. Tanda vitalnya menurun, setiap hari paling tidak sekali tubuhnya mengalami kejang mendadak. Tanpa tanda yang jelas tubuhnya bisa kejang-kejang. Kadang suhu tubuhnya bisa mencapai 39° celcius. Dan kadang dibawah 30° celcius. Kondisinya tak pernah separah ini, jelas sekali kalau dirinya marah karena Arsa tak pernah lagi mengunjunginya, pikir tim medis. Namun ntah yang sebenarnya terjadi seperti apa dan kenapa, tidak ada seorang pun yang tahu pasti, selain Tuhan.



Di medan, arsa tengah termenung memikirkan sesuatu. Walau ia sadar ini hari terakhirnya, namun perasaannya tidak enak mengenai suatu hal. Ia memikirkan Maria dan tidak enak akan perasaannya itu. “jadi lu disini?” suara itu tiba-tiba datang dari arah belakang Arsa. Belum sempat Arsa menoleh kebelakang, pria itu telah berjalan disampingnya. “heh, ada apa?” tanya Arsa kepada pria disampingnya itu. Ia adalah teman Arsa dari dinas sosial yang juga ditunjuk pergi bersamanya, Dino. “seharusnya gw yang nanya itu, lu ada apa?” tanya Dino. “heheh, lu aneh ya, gak ada apa-apa kok” jawab Arsa. “ok. Gak ada apa-apa ya? ... gimana kabar Maria?” tanya Dino. “huft,, gw gak tahu. Yang jelas gw ngekhawatirin dia” jawab Arsa. “ooo,,, jadi lu kayak gini gara-gara mikirin Maria??” tanya Dino yang puas jebakannya berhasil. “apa! Mikirin Maria?? Gak kok. Gw itu,, ya gw itu,,” jawab Arsa terbata-bata. “haha,, udah gak usah lu ngenutupinnya dari gw. Gw itu udah kenal elu dari kita SMP. Dan kita udah berteman baik sejak SMA, trus kuliah dan sekarang kita satu tim di satu dinas yang sama. Jadi jika di dunia ini ada orang yang paling kenal elu, itu gw” terang Dino. “gw bilang gw gak apa-apa, dan. Lagian gw Cuma ngekhawatirin dia kok bukan mikirin dia” jelas Arsa. “lu gak bisa ngibul. Sikap lu ke mayat hidup itu udah jadi bahan gosip di rumah sakit dan bahkan dikantor kita. Lu pikir anak-anak gak tahu apa setiap lu pulang kerja lu itu selalu kerumah sakit. Dan lu bisa pulang tengah malam dari rumah sakit. Trus gw juga denger kabar dari para suster di sana, katanya lu itu selalu ngomong sendiri, ketawa sendiri, udah kayak orang gila tahu gak” kata Dino. “apa!” kata Arsa sedikit sewot. Melihat expresi Arsa, membuat Dino menghela nafas panjang dan berkata “ya gak salah lu perhatian sama orang, suka sama orang, dan cara yang lu pake itu juga gak salah sih, tapi. Kita aja gak tahu identitasnya, dan juga sampai detik ini tidak ada orang yang datang mengaku keluarganya, dia juga masih belum sadar. Dia dipanggil mayat hidup. Trus apa yang ngebuat lu jadi berubah seperti ini. Seinget gw cewe yang ngedeketin elu itu semuanya body model dan blasteran. Sedangkan mayat hidup itu,,,”kata Dino terpotong dengan perkataan Arsa “bisa gak sih lu gak manggil dia mayat hidup??”. “ok Maria” jawab Dino disusul dengan helaan nafas yang berat. Mendadak suasana menjadi hening. “gw juga gak tahu No. Ntah ini bisa dikatakan suka atau enggak. Tapi yang jelas pada awalnya gw hanya kasian sama dia, trus gw penasaran sama dia. Orang yang dinyatakan waktu kematiannya kemudian bisa menggenggam tangan seseorang. Dan.. semakin lama gw ngelihat cewe itu, cewe itu jadi gak mau pergi dari otak gw. Setelah sekian lama akhirnya gw bisa bahagia hanya dengan melihat wajah orang lain. Sepertinya sudah sangat lama perasaan ini ada. Terakhir perasaan ini ada ketika nyokap gw masih hidup. Itu artinya sudah 7 tahun gw gak pernah sebahagia ini, sedamai ini. Kadang gw berpikir, wanita itu adalah jelmaan Mami. ... ntahlah No, apakah ini bisa disebut suka atau enggak” kata Arsa. Mendengarnya membuat dino tersenyum simpul dan berkata “ yeah, itu yang gw maksud dengan berubah tadi. Lu jadi suka tersenyum, lu lebih ramah. Gw seperti melihat Arsa ketika kita sekolah dulu”. Dino kemudian merangkulkan tangannya ke bahu Arsa. Dengan senyuman persahabatan, ia berkata “gw dukung lu seratus persen” disusul dengan acungan jempol disisi tangannya yang lain. Melihat semua ini membuat Arsa jadi sangat tidak nyaman. Dengan sigap Arsa melepaskan tangan Dino dan berkata “dukungan apaan! Gw gak lagi kampanye!”. “yah dia balik lagi” kata Dino yang merasa sisi devil Arsa yang kembali ntah dari mana.
ÀxÄÅÆØÄxÀ

Akhirnya pesawat telah mendarat di Bandara Internasional MinangKabau. Begitu keluar di pintu bandara, Dino langsung di sambut oleh keluarganya. Dino telah memiliki istri dan sepasang anak. Dan itu jualah yang menyebabkan Dino memberikan semangat kepada Arsa ketika berada di tempat pengungsian di Medan. Sedang Arsa pulang dengan taxi.
Setiba dirumah, kekhawatirannya kepada Maria semakin memuncak. Dia langsung mengambil kunci mobilnya, dan menyetirkan mobilnya menuju Rumah Sakit. Setiba di Rumah Sakit, Arsa langsung menuju ruangan tempat Maria biasa berada. Ternyata yang ia lihat hanya ranjang hitam yang bahkan sangat bersih, seperti tidak pernah ditempati sebelumnya. “Maria dipindahkan di ruang ICU pak” suara seorang wantia muncul dari belakang. “Ratih? ICU? Kenapa Maria dikembalikan lagi ke ruang ICU?” tanya Arsa panik. “selama Bapak tidak mengunjunginya, setiap harinya ia selalu kejang. Dan bahkan suhu tubuhnya tidak stabil. Kadang terlalu panas, dan kadang terlalu dingin. Makanya,,,” perkataan Ratih terpotong karena Arsa langsung pergi meninggalkan Ratih. Seperti orang kesetanan, ia berlari menuju ruang ICU. Ia tidak peduli berapa banyak orang yang ia tabrak, yang ia pedulikan hanyalah Maria. Keadaannya memburuk tanpa dirinya. Setiba di depan ruang ICU. Arsa termenung melihat kondisi Maria, seperti pertama kali ia melihatnya. Hanya saja kali ini Maria tidak mengenakan selang oksigen di mulutnya, tapi masker oksigen. Di ruangan ini tidak ada siapa-siapa. Arsa pun langsung masuk kedalam dan menemui Maria. Setiba di dalam ruangan itu, Arsa langsung berkata “kamu kenapa?? Kok keadaan kamu memburuk lagi sih. Apa karena aku ya?? Aku minta maaf. Aku tidak pamit sebelumnya. Aku tahu ini salahku, tapi maafin aku ya!?”. Ia berdiam diri sangat lama. Matanya terus menatap lembut Maria. Dalam hati kecilnya ia berharap Maria terjaga. Hingga tanpa sadar ia menitikkan air mata. Menyadari air matanya keluar, Arsa langsung mengambil air mata itu dengan jemarinya. Ia perhatikan baik air matanya itu dan berkata “bahkan kamu juga ingin melihatnya sadar ya?”. Seperti bergerak sendiri, tubuhnya melangkah mendekati Maria, ia raih masker oksigennya dan ia lepaskan. Wajahnya perlahan namun pasti mendekati wajah Maria yang tengah terbaring lemah. Ditempelkannya dengan lembut bibirnya di bibir Maria. Rasanya,,, sangat nyaman. Pikirannya jadi benar-benar kosong. Lumayan lama bibirnya melekat. Matanya juga terpejam menikmati ciuman itu. Ciuman sederhana. Seperti mencium kucing. Namun tak terpikirkan bagi Arsa untuk melepaskannya. Hingga disaat Arsa dengan pelan menaikkan kelopak matanya. Ia melihat dua bola mata nan cantik menatap lurus ke dalam matanya. Betapa kagetnya Arsa melihat kedua bola mata itu yang akhirnya membuat dirinya terpental menjauh dari Maria. “kamu siapa?? Kenapa matamu bisa begitu dekat” tanya Maria masih sangat lemas. “ka,, kamu bicara??” tanya Arsa kaget. Dan kali ini kagetnya jadi berlipat ganda. Tanpa menjawab pertanyaan Maria, Arsa langsung berlari mencari dokter sambil berteriak memanggilnya. Langkahnya langsung terhenti ketika melihat dokter Adrian. “wowowow, anda tahukan ini Rumah Sakit??” tanya dokter Adrian yang tidak suka melihat Arsa berlarian di lorong koridor. “Maria,,, Maria,,,” kata Arsa yang sepertianya ia sudah kehilangan kata-kata. “kenapa?? ... anda tidak melihat hantu Maria kan??” tanya dokter Adrian sedikit bercanda. “ini bukan hantu. Dia,,, berbicara” kata Arsa. “apa!!” kata dokter Adrian. Mendengar hal ini dokter Adrian dan yang lain langsung berlari menuju ruang ICU. Kabar ini juga langsung terdengar oleh Dokter Kepala. Sesampainya di ruang ICU, mereka langsung melihat hal yang sama yang dilihat oleh Arsa sebelumnya. Maria telah sadar. Dokter Adrian langsung datang dan memeriksa keadaan Maria. “bagaimana keadaan kamu sekarang??” tanya Dokter Adrian setelah ia menyelesaikan pemeriksaan. “keadaanku??” tanya Maria lemah. “iah, yang kamu rasakan. sakit, lemas, kaku,,,” jelas Dokter Adrian. “tidak, aku tidak merasakan apa-apa. Kamu siapa??” tanya Maria. “saya adalah dokter kamu. Yah bisa dibilang yang menyelamatkan nyawa kamu” jawab Dokter Adrian. “lalu aku ada dimana??” tanya Maria lagi. “kamu ada di Rumah Sakit” jawab Dokter. “rumah sakit itu apa??” tanya Maria. “ia tempat dimana semua orang sakit datang dan pulang setelah sehat” terang Dokter Adrian. “ok. Lalu nama kamu siapa??” tanya Dokter Adrian. “nama itu apa??” tanya Maria. Mendengar pertanyaan ini membuat semuanya kaget. Mereka saling bertatapan. Seorang suster bertanya kepada Maria “memangnya kamu tidak ingat siapa kamu? Siapa orang tua kamu? Dan dari mana asal kamu??”. “orangtua itu apa? Dan apa kalian tidak bisa memberitahukan siapa aku?” tanya Maria. Semuanya menjadi sangat panik. Kembali mereka saling berpandangan. Arsa berjalan mendekati Maria dan berkata “nama kamu Maria. Tenanglah, jika kamu tidak bisa mengingatnya, jangan dipaksakan. Mendengar suara kamu saja itu sudah cukup”. “Maria,, apa yang kamu ingat? Apa saja? Apa ada sesuatu yang kamu ingat??” tanya dokter Adrian. “yang aku ingat??... yang aku ingat. Aku mendengar suara-suara” jawab Maria. “suara-suara?” tanya Dokter bingung. “suara menenangkan seperti suara pria itu [Maria menunjuk ke arah Arsa] kemudian aku melihat ada hitam diantara putih. Hanya itu yang aku ingat” jawab Maria. “hitam di antara putih?? Apa itu??” tanya dokter Adrian. “itu mataku!” jawab Arsa di dalam hatinya. Seketika Arsa menjadi panik. Ia takut jika wanita itu mengatakan kalau dirinya telah mencium Maria. Maria tidak menjawab pertanyaan itu, namun terlilhat jelas matanya sangat berat. Sepertinya perbincangan singkat ini telah menguras banyak tenaganya. Hingga ia benar menutup matanya. “Pak Arsa, bisa kita bicara sebentar??” ajak Dokter Adrian yang langsung berjalan keluar ruangan. Tanpa sepatah kata pun Arsa mengikuti langkah Dokter Adrian. Setiba diluar ruang ICU, Dokter Adrian membuka pembicaraan “seperti yang kita lihat, bahwa dia tidak bisa mengingat siapa dirinya. Dugaan sementara saya dapat menyimpulkan kalau dia itu amnesia. Namun untuk memastikannya, kita akan melakukan pengecekan lagi. Dan kali ini pasti hasilnya lebih sempurna, karena pasien telah sadar. Dan yah,, sepertinya Bapak harus lebih serius dalam pembuatan KTPnya”. “KTP??” tanya Arsa bingung. “ia kita tidak tahu apakah ini permanen atau tidak. Yang jelas, mengingat kecelakaan yang dia alami, traumatiknya pasti sangat besar... tapi,,, jika kita melakukannya saya tidak yakin berapa lama kami bisa merawatnya” terang Dokter Adrian. “maksud Dokter apa??” tanya Arsa. “ini masalah sisa dana yang ada” jawab dokter Adrian. Mereka semua  terdiam. “mm,, begini saja. Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Masalah dana itu bukan urusan kalian” jawab Arsa. “mm tapi bukannya dinas sosial tidak memberikan dana dua kali untuk ini??” tanya Dokter Adrian. “gw bilang itu urusan gw” kata Arsa yang mendadak berubah, ia mengatakannya dengan tatapan yang sangat dingin dan menyeramkan. Namun sebenarnya, seperti inilah Arsa yang sebenarnya setelah kematian Maminya. Melihat tatapan itu membuat Dokter Adrian ketakutan dan tanpa sadar tubuhnya gemetar. “pergilah lakukan pekerjaanmu!” kata Arsa tanpa melihat ke arahnya. Dengan tubuh yang masih gemetar, Dokter Adrian langsung berjalan meninggalkan Arsa, dan setelah kekuatannya kembali, ia pun mempercepat langkahnya kembali menuju ruangannya. “haah,,, perasaan apa ini, aku seperti bertemu dengan ajalku” kata Dokter Adrian sambil mengelus dadanya. Seakan tak percaya apa yang baru saja ia rasakan.

semoga kalian menikmati ceritanya ya....
bersambung ke LAST MEMORY, REBORN 4....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar