sebenarnya pria yang ku cari seperti apa,
dalam kesendirian aku merasa....
aku butuh seseorang tuk lawan sepiku
tapi siapakah yang pantas tuk mendampingiku??
aku hanya seorang gadis pemimpi
aku tidak suka bergerak
aku sulit untuk tersenyum
tidak ada hal normal yang membuat aku bahagia
aku bukan seperti gadis normal lainnya
yang menyukai kesederhanaan pasangannya
keheningan pasangannya
menerima bahwa pasangannya tidak menyukai hal yang menarik menurutnya
dan bersabar untuknya, menangis karenanya
tidak aku bukan wanita seperti itu
menurutku hal lucu itu hanya ada di anime, drama komedi dan segala hal yang bergenre komedi yang bersumber dari TV
otakku penuh dengan daya hayal
aku bisa menjadi orang yang penuh dengan jiwa hanya dengan menceritakan hayalanku
menceritakan karakter anime,
dan segala hal tentang anime yang menurut mereka orang normal itu sangat kekanak2an
aku sangat sangat sangat suka menghayal
apa ada pria yang menyukai wanita penghayal??
aku sangat sangat sangat suka berkata konyol, melucu dan mengerjai orang
apa ada pria yang suka dengan wanita yang seperti itu??
tapi aku sangat benci berbicara banyak ketika aku berada bukan di zona ku.
aku menjadi orang yang pendiam
sekalinya ku berkata, hanya akan menyakiti orang yang mendengarkan
hal ini pulalah yang membuat aku benci bersosialisasi
apa ada pria yang suka dengan wanita yang seperti itu??
wajahku tidak cantik, bahkan aku sering iri dan marah kepada Tuhan,
kenapa hanya aku wanita didunia ini yang tidak cantik
kenapa Tuhan tidak memberikan aku semolekul kecantikan-NYA
badanku super gendut, lebih gendut dari babi
apa ada pria yang menyukai wanita tanpa melihat fisiknya??
lalu dengan semua sifat dan sikapku yang buruk dan disempurnakan dengan fisikku yang buruk rupa.
apakah masih ada pria yang menganggap itu menyenangkan, mendebarkan, dan mencintaiku??
hingga ku putuskan untuk berhenti mengharapkan cinta
berhenti memikirkan masa depan dimana disitu ada seorang pendamping
karena, rasanya meminta dicintai seorang pria, seperti meminta air laut menjadi tawar
F3nnyclouD
Senin, 13 Februari 2017
Kamis, 15 Desember 2016
LOST MEMORY, REBORN 4
Setelah semua orang pergi, Arsa kembali masuk kedalam
ruang ICU. Ia melangkah mendekati Maria. “sukurlah kamu telah sadar. Selamat
datang kembali ke duniaku” kata Arsa. Ia terdiam sejenak, dipikirannya ia
berkata “ke duniaku??,, apa maksudnya duniaku?? Mana ku tahu. Mereka keluar
begitu saja dari mulutku. Ia, tapi mengapa aku mengatakan itu... tunggu. Aku
bicara dengan siapa.. ahh,, sial aku ini kenapa sih?”. Terjadi pertengkaran
hebat di dalam hatinya. Yang sejujurnya ia sendiri tidak tahu kenapa begitu.
Menyadari ia sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi, Arsa pun pergi
meninggalkan Maria sendirian di ruangannya dan pergi menuju apartemennya.
ÀxÄÅÆØÄxÀ
♪[music Maroon 5 – Sugar] ♪ terdengar dari handphone
Arsa. Ternyata itu adalah suara panggilan masuk dari Dokter Adrian. “halo”
jawab Arsa singkat. “pak kami telah mendapatkan hasil test Maria. Apa anda ada
waktu luang untuk ini?” tanya Dokter Adrian. “oh ya tentu saja nanti sore saya
akan kesana” jawab Arsa. Dan ketika Arsa hendak bertanya sesuatu, Dokter Adrian
langsung menutup telephonnya. Dan berkata “hah,,, aku masih saja ketakutan
dengannya. Padahal dia hanya menatapku saja. Hah,, aku bisa gila. Lagian kenapa
juga dia bisa marah seperti itu. Aku kan hanya mengatakan kebenaran. Dan lagi
sejak kapan orang dinas bisa begitu emosional dengan orang gak dikenal.
Hah,,,”.
Sore yang mereka maksud pun tiba. Arsa langsung datang ke
ruangan dokter Adrian. Setelah berbasa-basi yang agak garing, mereka kemudian
masuk pada pembicaraan inti. “kami tidak menemukan perbedaan hasil CT-scan dan
MRI yang sekarang dengan sebelumnya. Hanya saja kami menemukan sesuatu yang
sangat menarik dari keduanya. Yaitu dibagian ini [Dokter Adrian menunjuk ke
arah bagian belakang kepala di hasil CT-scan] di sini terdapat satu syaraf
kecil yang terputus. Logikanya jika ini terjadi seorang manusia bisa mati atau
pun gila dan bahkan ada yang lumpuh otak. Yang saya maksud lumpuh otak adalah
kehilangan segala kemampuan seperti berbicara, berpikir, hah! Seperti orang
terserang strook yang juga menderita kepikunan dalam bahasa awam. Tapi anehnya
dalam kasus Maria, ia hanya hilang ingatan. Dan lagi walau pada hasil test yang
kedua syaraf itu juga tidak menyambung alias benar-benar putus, namun
syaraf-syaraf berukuran sangat kecil disekitarnya tumbuh dengan sangat cepat.
Perkembangannya seperti otak manusia pada usia Golden Brain” terang Dokter
Adrian. “Golden Brain??” tanya Arsa. “ia. Perkembangan otak pada anak usia 3
tahun ke atas. Dimana pada masa ini anak lebih cendrung cepat mengingat dan
mempelajari hal baru. Menurutku,, Maria sebelumnya juga seorang wanita yang
cerdas. Namun karena insiden ini, ia jadi memiliki kecerdasan yang berlipat
ganda. Karena pertumbuhan regenerasi syaraf otaknya sangat cepat. Itu artinya
Maria mengalami amnesia permanen, disisi lain ia memiliki daya tangkap yang
sangat bagus. Dan sudah pasti ia akan mengejutkan kita semua terutama anda, Pak
Arsa” jawab Dokter Adrian.
Pembicaraan mereka berakhir begitu saja. Arsa yang
kemudian pergi meninggalkan Dokter adrian sendirian diruangannya, berjalan
seperti tanpa nyawa. Kata-kata Dokter Adrian masih berdengung keras di
ingatannya. ‘amnesia permanen’ dan juga ‘golden brain’ membuat dirinya sendiri
bertanya-tanya tentang apa itu yang sebenarnya. Ia sangat paham apa yang
dikatan oleh Dokter Adrian, namun bukankah itu terlalu. Seorang wanita yang
hilang ingatan dan kemudian memiliki kekuatan seperti anak umur 3 tahun. Akan
seperti apakah Maria nantinya?
Tanpa sadar ia telah berdiri disebuah ruangan. “ini
dimana?? Perasaan aku belum pernah ke ruangan ini?? Ahh,,, sial kenapa tubuhku
bisa berjalan sendiri ke sini sih.” Pikir Arsa. Karena sudah berada di ruangan
ini, Arsa pun berjalan-jalan di koridor ruangan ini sambil bermaksud mencari
jalan keluar dari ruangan ini. “ahh,,, rumah sakit ini seperti labirin. Aku
benar-benar tersesat di si...” perkataannya terhenti ketika matanya melihat
sebuah pemandangan yang sangat familiar namun tidak biasa. Ia melihat ke sudut
bangsal yang berada di pintu ke dua setelah kamar mandi. Ia benar terpana akan
pemandangan itu. Mentari senja yang terang telah memantulkan sinar dari wajah
seseorang yang selalu ia lihat dan selalu ia ajak bicara sebelumnya. Wajah itu
tidak hanya bersinar, namun juga menunjukkan seluruh gigi atasnya karena
tawanya. Terlihat jelas dari mata Arsa ia tengah berbincang dengan seorang
perawat yang juga ia kenal, dia adalah Ratih. Dan karena ini adalah ruang kelas
tiga, tentunya ada beberapa pasein lain yang juga berada di sana. Arsa melihat
Maria tertawa, itu membuatnya sangat bahagia, sebuah perasaan yang belum pernah
ia rasakan namun ia mengerti akan perasaan itu dan menikmatinya dari jauh.
Namun perasaan itu mendadak hilang ketika ia melihat ada seorang pria yang
terlihat seumuran dengan Maria yang juga tertawa bersama mereka. Ia juga
memakai pakaian yang sama yang dipakai oleh Maria dan Pasien-pasien lainnya.
Dan pria itu merangkulkan tangannya begitu saja ke bahu Maria. Seperti anak
kecil yang tidak ikhlas mainannya di ambil orang, Arsa langsung berjalan menuju
mereka dan berkata “bukankah ini terlalu berisik untuk rumah sakit??” “pak
Arsa??” kata Ratih yang tak menduga atas kedatangannya. “bukankah kamu seorang
perawat, seharunya kamu yang lebih tahu aturan di rumah sakit ini kan??” tanya
Arsa kembali. “hah,, anda itu terlalu serius, kami disini hanya untuk menghibur
Maria saja. Dia sangat kesepian di sini. Dan ternyata Maria itu orangnya sangat
humoris. Kita semua sampai nangis karenanya. Eh tapi kamu ini siapa sih. Dateng
dateng langsung marah-marah gitu?” tanya pria yang tadi merangkul Maria.
Mengingat apa yang telah dilakukan pria ini kepada Maria, membuat Arsa
benar-benar naik pitam. Ia mencengkram tangannya erat. Sepertinya ia sudah
tidak tahan lagi untuk tidak memukul wajah pria di depannya itu. “dasar pria
busuk, jelek, penyakitan, tidak tahu diuntung, memangnya siapa dia, beraninya
dia merangkul Maria, dan... dan dia menanyakan siapa aku, siapa aku,,,
benar-benar kunyuk bangsat. Apa harus kubunuh saja dia?? Atau aku potong saja
tangannya yang udah ngenyentuh Mariaku... haaahh,,, sial kenapa aku mengatakan
Maria ku lagi sih” kata Arsa di dalam hati. “aku? Kenapa kamu ingin tahu siapa
aku? Memangnya kamu itu siapa? Dinas kependudukan?? Hah?” tanya Arsa yang
menatap tajam ke arah pria itu. Seperti yang dirasakan oleh Dokter Adrian
sebelumnya, kali ini pria itu juga merasakan hal yang sama. Dirinya menjadi
sangat ketakutan. Tanpa banyak bicara, pria itu pergi. Tak lama setelahnya,
Ratih pun izin untuk pergi mengingat jam istirahatnya telah usai.
Setelah keributan ini usai, Arsa pun berjalan mendekati
Maria. “apa aku boleh duduk di sini??” tanya arsa sambil menunjuk ke pinggir
ranjang tempat Maria duduk. Maria hanya menjawabnya dengan mengangguk pelan.
Arsa pun dengan sangat hati-hati meletakkan pantatnya ke tepi ranjang tersebut.
Kemudian suasana kembali hening. Terlihat jelas suasana canggung di antara
keduanya. “itu,,,” kata Maria terputus. “kamu udah bisa duduk ya??” tanya Arsa
dangan senyumannya yang hangat. Melihat ekspresi itu membuat Maria terkejut.
Mengingat ekspresi pertama yang ia bawa kedalam ruangan ini seperti apa
sebelumnya. Maria pun menjawabnya dengan senyuman terbaiknya. Seketika mata
Arsa membulat melihat senyuman itu, sangat bersemangat, dan sejujurnya sangat
menggoda menurut matanya. Walau sebenarnya senyuman itu biasa saja. Arsa
mencoba mengalihkan pandangannya untuk mengusir perasaan aneh yang tengah ia
rasakan ini. “itu,,, kenapa kamu menciumku??” tanya Maria. Mendadak Arsa
melompat dari ranjang itu. Dia tak menyangka pertanyaan pertama yang diberikan
wanita ini adalah ciuman. “kamu tidak apa-apa??” tanya Maria yang panik melihat
Arsa yang tiba-tiba jatuh dari ranjang. “aa tidak aku tidak apa-apa, hanya
licin saja. Emm apa tadi yang kamu tanyakan??” tanya Arsa merasa tidak yakin
akan telinga nya. “uum,, aku memang tidak tahu itu ciuman apa tidak. Tapi
ketika aku menanyakannya kepada Ratih dan mereka, mereka bilang kalau itu
namanya ciuman.” Jawab maria. “apa! Kamu menceritakan apa yang aku lakukan
kepada semua orang??” tanya Arsa terkejut. “aaaa,,, tidak aku tidak
menceritakan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku. Aku hanya bertanya kepada
mereka kapan kita bisa melihat mata seseorang menjadi lebih besar dan dekat.
Dan mereka memberikanku banyak jawaban. Dan menurutku jawaban yang paling
mendekati adalah... ciuman. Mereka bilang jika bibir dua orang manusia
bersentuhan itu namanya ciuman. Dan jujur itu semua keluar dari mulut mereka
tanpa aku bertanya kok” jelas Maria dengan sangat lucu. Seketika ia teringat
dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Adrian. Anak usia tiga tahun. Dan
ekspresi itu sangat menggemaskan bagi Arsa. Dan entah mengapa amarahnya hilang
entah kemana. “hah,, ek,, huft,, gini. Aku tidak. Yah itu bisa dikatakan
ciuman. Anggap saja begitu. Tapi aku melakukannya tidak bermaksud apa-apa. Aku
hanya... memberi energi. Ingat ketika aku mencium kamu mata kamu langsung
terbuka??” tanya Arsa. Maria mengingat kembali kejadian itu dan menyadarinya,
ia menjawabnya dengan mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Arsa padanya.
“benar.. ya tentu saja. Itu benar. Ciuman itu bisa memberikan kekuatan kepada
orang lain... tapi hanya aku yang bisa melakukannya. Orang lain tidak bisa
melakukannya. Ya,, seperti super hero, ia super hero” sambung Arsa. “super
hero?? Super hero itu apa??” tanya Maria. “super hero?? Oach,, super hero itu
adalah pahlawan yang memiliki kekuatan super. Itu super hero” jawab Arsa.
“pahlawan itu apa??” tanya Maria lagi. “pahlawan?? Ya. Orang yang.. melakukan
lebih untuk orang lain?? I,,i,, ya,, begitulah kira-kira” jawab Arsa. “dia
emang benar-benar seperti anak kecil yang pintar ya, selalu bertanya apa pun
yang menurutnya baru” pikir Arsa. “jadi jika aku sakit lagi dan aku tidak
memiliki kekuatan yang cukup, apa kamu akan menciumku lagi??” tanya Maria.
Dengan sangat terkejut, Arsa menjawab pertanyaan itu “apa!! Mencium kamu lagi??
Ah,, ya tentu saja. Aku inikan super hero kamu”. “apa? Super hero kamu?? Aish,,
dasar pria bejat. Kenapa kamu mengatakan kata-kata seperti itu. Bodoh!” pikir
Arsa. “ha,, sukurlah. Sekarang aku tidak perlu khawatir jika keadaanku
memburuk, kan kamu bisa memberikan aku kekuatan” kata Maria sambil tersenyum
lembut. Mendengar perkataan itu membuat Arsa terdiam, kemudian dia tersenyum
manis melihat Maria. “tapi, sejujurnya selain aku tidak tahu siapa aku, aku
juga tidak tahu siapa kamu” kata Maria. “ah aku Arsa. Arsa Kenneth Dean. Ya
seperti yang kita tahu. Kita tidak tahu kamu ini siapa dan keluarga kamu siapa.
Jadi untuk sementara akulah walimu. Penanggung jawabmu. Aku bekerja di kantor
Dinas sosial. Aku yang bertanggung jawab atas dana operasional rumah sakit
kamu” jawab Arsa. “Dinas Sosial? Dana operasi?? Itu apa??” tanya Maria bingung.
“dinas sosial itu adalah badan yang dibentuk oleh pemerintah untuk membantu
orang lain” jawab Arsa. “aah super hero yang digaji ya??” kata Maria. “super
hero yang di gaji??” tanya Arsa yang bingung mendengar perkataan tak terduga
ini. “ia orang yang membantu orang lainkan super hero seperti kamu, sedangkan
pemerintah adalah orang yang bekerja untuk orang banyak dan digaji. Ia kan??”
terang Maria. “siapa yang mengatakan itu kepadamu?” tanya Arsa bingung. “ah..
itu mereka yang mengatakannya” jawab Maria. “mereka maksud kamu. Pria yang udah
menyentuh kamu itu??” tanya Arsa kembali emosi. “tidak, tapi perawat, dan
pasien yang lain juga mengatakan itu. Waktu mereka menonton tv. Aku mendengar
mereka bilang ‘dasar pemerintah bego!’ makanya aku tanya mereka ketika itu”
jawab Maria. “yah bisa dikatakan begitulah” kata Arsa. “maaf Pak Arsa, Maria
harus istirahat. Kunjungannya disambung besok lagi ya pak?” pinta perawat jaga
dengan suara lembut.
Walau pertemuan ini sesungguhnya masih belum terpuaskan
bagi Arsa, namun ia harus mengalahkan ego-nya demi kesehatan Maria. Secepatnya
Arsa berdiri dari tempat duduknya di pinggir ranjang Maria yang sebetulnya
tidak senyaman sofa di rumahnya, tapi membuatnya tak ingin beralih dari tempat
itu. “ya sudah, Maria. Aku pulang dulu ya. Ingat! Begitu aku pergi, kamu
langsung tidur ya...” kata Arsa dengan sangat manis. Maria pun menjawabnya
dengan senyuman imut khas anak kecil. Melihat respon itu membuat Arsa sangat
sulit untuk memerintahkan tubuhnya untuk pergi dari tempat itu. Walau akhirnya
ia berhasil mengusir dirinya sendiri.
Di dalam mobilnya, senyuman Maria, ekspresi Maria, dan
suara Maria terbayang jelas di matanya. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum.
Seolah bergerak sendiri, tepi bibirnya selalu tertarik di kedua sisinya. Tidak
seperti sebelum-sebelumnya, kali ini ia sangat menikmati perasaan “gilanya”
ini. Dia tidak memberontak sama sekali. Terutama pada dirinya sendiri.
£ € £ ¥ © ® ¥ € £
Ke esokan harinya, ketika mentari pagi menyilaukan
matanya, Maria membuka matanya. Diputarnya pupil matanya melihat kesekelilingnya.
Suasana pagi ini begitu hening. Perawat yang tengah dinas pagi melakukan
tugasnya seperti biasa. Terdengar suara orang berbicara dari kejauhan yang
sesungguhnya ia sendiri tak begitu mempedulikan suara itu. Seperti berusaha
mencari sesuatu dan menyadari apa yang ia cari tidak ada. Maria kembali
memejamkan matanya. Ia sadar dirinya begitu lemas. Ia sengaja mengistirahatkan
tubuhnya untuk sesuatu yang ia yakini pasti akan mendatanginya.
£ € £ ¥ © ® ¥ € £
to be continued.....
nantikan lost memory, reborn 5 ya teman-teman ^,^
Langganan:
Komentar (Atom)