Sabtu, 12 November 2016

LOST MEMORY. REBORN

Seorang ibu tiba-tiba masuk kedalam kamar anaknya “Ya Allah... Fenny. Jam segini kamu masih belum tidur. Bukannya belajar malah nonton Naruto. Naruto ka naruto. Mau jadi apa kamu nanti nak, kalo begini terus kapan berubahnya nasib kita ini nak. Diinjek orang mulu, jadi orang susah teruslah” mamanya Fenny tengah memarahi Fenny putri bungsunya yang berusia 24 tahun itu namun masih kuliah semester 3 jurusan Akuntansi di salah satu PTN kenamaan. “ya ampun ma,,, baru jam dua gitu amat mah. lagian libur pun” ketus Fenny. “baru kamu bilang!, ini loh jam dua malam. Bentar lagi matahari mau terbit” sambung mama. Merasa dirinya takkan bisa menang melawan mamanya, Fenny dengan lembut dan tersenyum manis berkata “ia ma... ini udah selesai kok”. “baju untuk di bawa besok udah siap, perlengkapan yang penting2 udah dimasukin ke tas? Awas jangan sampe lupa besok bisa berabe loh” ingat mama. “ya elah ma. Aku loh Cuma mau daftar ulang. Bukan mau kuliah. Satu hari pun semuanya kelar kok. Yang penting duit nya dibawa. Hehehe” jawab Fenny dengan gurau. “ya udah bobok sana, besok kamu harus bangun pagi kan?” kata mama kemudian pergi meninggalkan Fenny sendirian di dalam kamarnya. Kemudian fenny mematikan laptopnya, mematikan lampu kamarnya dan tidur. Karena esok hari ia harus pergi ke Padang untuk mendaftar ulang buat semester 4.
Sekarang Fenny tinggal di muara labuh bersama orangtuanya. Setiap libur kuliah, Fenny selalu pulang ke Muara Labuh. “Fenny cepat bangun, mandi gih nanti ditinggalin mobil loh” terdengar suara mama yang membangunkan tidurnya. Fenny langsung berdiri, mengambil peralatan mandinya, dan baju gantinya kemudian keluar dari kamarnya. Ketika tengah berjalan menuju ke kamar mandi, mama bertanya “fenny kamu mau dibuatin sarapan gak?”. “gak usah mah, tapi kalau maksa gak nolak kok” jawab Fenny dengan nada serius. Kemudian Fenny masuk ke dalam kamar mandi dan mandi. Beberapa menit kemudian ia telah selesai mandi. Ia pun berlalu menuju kamarnya. Memakai pakaian, make up, dan hijab. Setelah selesai dengan dirinya, ia pun berjalan keluar kamarnya. “ini nasi gorengnya udah siap makan dulu gih, apa perlu mama ambilin kipas angin biar cepat dingin?” kata mama begitu melihat putri bungsunya keluar dari kamarnya. Tanpa berkata apapun Fenny langsung mengambil nasi goreng itu dan memakannya. “gimana mau diambilin kipas angin gak itu baru masak banget loh” tanya mama lagi. Tak lama setelah itu terdengar suara Fenny menjerit. “hah! Kenapa? Panas kan? Udah dari tadi dibilang mau diambilin kipas apa enggak kamunya malah diem aja” kata mama yang terlihat begitu panik. “hahaha... aku becanda kok” kata Fenny. “iiich nih anak suka banget ngerjain orangtua kualat loh” kata mama ngambek. “iiii nih mama. Ntar kalo nggak aku kerjain malah mamanya lagi yang kangen ku kerjain. Hehehe” ejek Fenny. “dikerjain kok kangen dasar anak ini” kata mama dengan nada lebih pelan namun masih terdengar jelas oleh Fenny.
Tak berapa lama setelah Fenny menghabiskan sarapannya, suara adzan subuh pun berkumandang. Terdengar suara mama dari dalam kamar mandi “Fenny tadi waktu mandi kamu langsung wudhu kan? Cepet gih sholatnya ntar ditinggalin mobil loh”. “ia mah” jawab Fenny sedikit berteriak sambil ia mengenakan mukenanya. Begitu adzan selesai dikumandangkan, Fenny pun langsung menyegerakan sholatnya. Ternyata benar, begitu ia selesai membereskan mukenanya, mobil langganannya pun datang. Setelah mencium tangan kedua orangtuanya, yaitu ritual wajib yang selalu dilakukan keluarga ini ketika ada yang hendak berpergian, fenny pun masuk kedalam mobil. Kurang lebih tiga setengah jam kemudian Fenny telah tiba di Padang. Semua rencananya hari ini berjalan mulus tanpa hambatan dan selesai lebih cepat. Untuk menghabiskan waktu, Fenny pergi kesebuah moll kenamaan di Padang. Beberapa jam kemudian, Fenny memutuskan untuk pulang kembali ke Muara Labuh. Karena hari sudah senja, Fenny memutuskan untuk pulang menggunakan Travel. Butuh dua jam untuk bermenung diterminal sampai mobil penuh penumpang. Dikarnakan Fenny pelanggan tetap agen travel  ini, mereka memberikan Fenny kursi tepat dibelakang sopir. Karena hanya diposisi ini Fenny tidak akan mabuk.
Setelah penumpang penuh, pak sopir pun muncul kepermukaan dan memasuki mobilnya. Sejurus kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil dalam keadaan normal pertama dihidupkan. Baru beberapa menit mobil melaju, pak supir mengarahkan mobilnya ke pom bensin. Mengisi bensinya full tank dan kembali melanjutkan perlajanan. Sepertinya dia bukan pak supir idola Fenny. Karena ia melaju dengan sangat cepat. Mual rasanya ingin muntah, padahal baru seperempat jalan. Tapi senja yang menjadi begitu gelap karena hujan lebat inilah yang membuat diriku ketakutan. Aku takut mobil yang aku tumpangi tergelincir dan... “aaaaa,,,” suara teriakan yang mendadak keluar dengan begitu histeris. Yang Fenny rasakan adalah tiba-tiba dia seperti mengambang ke atas. Jelas sekali itu terasa diperutnya. Dan seketika terasa berat kebawah dan tubuhnya terbentur begitu keras ke kursi. Kemudian terbentur kesana kemari. Sekali waktu tubuhnya membentur pintu dengan sangat keras hingga membuat dirinya terpental keluar dari mobil beserta pintunya. Hal ini dikarenakan bobot Fenny yang mencapai hampir 90 KG. Mobil yang tergelincir dan jatuh kejurang ini berulang kali berputar hingga membuat mobilnya penyok tak berbentuk. Sedang Fenny yang terbang bersama pintu, jatuh terpental jauh dan mendarat di atas pohon, kemudian turun kedahan di bawahnya, dan seterusnya hingga berada dibeberapa dahan terakhir. Yang membuat posisinya terbalik Fenny jatuh terlebih dahulu dan disusul dengan pintu mobil yang kali ini sukses membuat kepalanya yang terbentur berkali-kali jadi mengeluarkan darah yang sangat banyak. Hujan deras membuat darahnya mengalir ketempat yang sangat jauh dari tubuhnya berada.
Hujan yang lebat membuat evakuasi kecelakaan ditunda hingga esok pagi. Keesokkan harinya tim evakuasi datang, mereka mendapati semuanya telah menjadi mayat yang penuh dengan luka dan lebam. Keadaan mobil yang penyok membuat tim evakuasi mengalami sedikit kesulitan untuk mengevakuasi beberapa korban. Namun ada kejanggalan dengan mobil ini. Meraka mendapati mobil ini tidak memiliki pintu. Dilihat dari engsel pintu mobil, terlihat jelas kalau pintu ini lepas secara paksa ketika mobil ini ringsek ke jurang. Namun mereka memprioritaskan penumpang. Setelah semua penumpang berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Mereka langsung menggiring mobil keluar dari jurang tersebut.

Pihak agen travel di panggil mengenai identitas korban. Setelah agen travel melihat semua korban, ia berkata “pak masih kurang satu pak”. “kurang satu? Ini semua yang ada di dalam mobil” jawab petugas. “ia tapi mobil ini juga membawa penumpang seorang wanita bertubuh gemuk, mmm sangat gemuk malah dan dia duduk dibelakang supir” terang agen travel. “tidak mungkin,, tunggu pintu mobil!” kata petugas itu mengingat sesuatu. “pintu mobil?”
tanya agen travel bingung. “ia pertama kami tiba disana, kami tidak melihat pintu kanan mobil bagian belakang. Atau tepatnya belakang supir. Dan yah sepertinya ada kursi kosong yang tersisa. Tapi kami tidak menemukan apapun. Oh ia tolong sebarkan informasi kepada saudara korban untuk menjemput mereka kemari dan mengurus berkas2nya” perintah petugas itu yang kemudian langsung berlari keluar kamar mayat seperti telah menemukan sesuatu.
Petugas itu menelpon temannya, ia bertanya apakah mereka telah menemukan pintu mobil yang hilang itu? Dan ia juga menyuruh mereka untuk mencari mayat seorang wanita bertubuh gemuk yang kemungkinan letaknya tidak jauh dari pintu mobil itu. Begitu perintah tersebar, seluruh petugas mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari mayat seorang wanita bertubuh tambun itu dan sebuah pintu mobil. Satu hari telah berlalu sejak evakuasi dimulai. Dua hari, tiga hari, tapi mereka juga belum menemukan mayat atau pun pintu mobil. Bahkan setelah seluruh mayat di kamar mayat telah dijemput keluarga mereka, mayat wanita bertubuh tambun itu pun masih belum ditemukan. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mencarinya secara acak dan memperluas area pencarian. Dalam dua hari setelah metode ini digunakan, mereka telah menemukan pintu mobil yang cocok dengan mobil penyok itu. Lokasinya sekitar 500 meter dari mobil jatuh. Penemuan ini membuat semangat mereka semakin membara untuk mencari mayat seorang wanita tambun. Disela pencarian “ech bang ini bener2 aneh dech, kita kan udah ngehabisin waktu hampir 2 minggu buat ngelakuin pencarian mayat, tapi kok kita gak dapet clue apa-apa sih?” tanya petugas 1. “ia biasanya ya kalo mayat yang lebih dari 3 hari aja itu baunya bener bener bikin perut loyo kan?” timpal petugas 2. “apa jangan-jangan dia itu sebenarnya belum mati bang, trus ada warga yang menyelamatkan cewe itu bang” tambah petugas 1. “jangna ngaco lu, kalo pun itu bener pasti orang itu udah ngasih tau ke kita informasinya. Kan berita ini udah bener-bener gempar” timpal petugas 2 lagi. “ato jangan-jangan dia itu dimakan hantu atau penghuni hutan ini bang??” tanya petugas satu lagi. “wah parah lu. Bener bener ngaco lu udah ach tutup mulut lu trus cari mayatnya” perintah petugas 2. “tapi bang gimana lu bisa ngejelasin soal pintu yang melayang jauh itu, kalau bukan hantu atau penghuni hutan ini yang ngelakuinnya, siapa lagi coba? Bisa ajakan dia datang trus ngebuka paksa tu pintu dan mengambil wanita itu. Trus dijadiin makan malam mereka bang?” kata petugas 1 yang mulai ketakutan. “ya dan bentar lagi kalau lu gak mau ngenutup mulut lu, elu yang gw jadiin makan malam” kata petugas 2. Dan kemudian mereka melanjutkan pencarian.
“oooi di sini woi,, gw nemuin darah  woi,,,” terdengar suara teriakan yang lokasinya tidak begitu jauh dari lokasi ditemukannya pintu mobil tersebut. Mendengar teriakan ini membuat seluruh petugas berlari menuju arah suara itu. Salah satu dari mereka ada yang berlali terlalu cepat hingga membuat ia terjatuh. Ia langsung duduk dan berbalik arah, merasa penasaran kenapa ia jatuh. Ternyata ia melihat sebuah betis. Ia terdiam sejenak meredam rasa takut sekaligus kaget. Tak lama ia berteriak “wooi,, mayatnya disini...”. semua orang langsung berlari ketempat itu. Membersihkan mayat itu. Dan ternyata benar mayat seorang wanita bertubuh tambun ditemukan. Ia mengenakan hijab berwarna merah darah bermotif. Petugas langsung membawanya ke rumah sakit untuk melakukan otopsi.
Lagi, agen travel dipanggil untuk memastikan kebenaran korban adalah penumpang travel. Walau mukanya banyak lebab dan sedikit berubah, namun pakaian yang dikenakan korban sangat unik seperti baju buatan sendiri yang sangat mudah untuk dikenali. Hal ini membenarkan kalau mayat wanita bertubuh tambun itu adalah penumpang mobil tersebut. Setelah dikonfirmasi kebenarannya, pihak rumah sakit langsung melakukan otopsi. Betapa terkejutnya dokter yang melakukan otopsi ketika ia samar samar merasakan adanya hembusan dari hidung mayat wanita bertubuh tambun. Kali ini pemeriksaan agak berbeda. Mereka memeriksa detak jantung, tekanan darah, dan serangkaian tes lainnya. Ternyata didapati bahwa itu bukan mayat. Ia masih hidup. Pihak rumah sakit langsung menghubungi pihak Jasa Raharja. Untuk penanganan selanjutnya. Disamping itu, pihak rumah sakit juga telah memasukan foto wajah wanita bertubuh tambun itu ke media. Namun tidak ada yang datang untuk memberi tanggapan. Keterangan yang didapati dari pihak supir travel pun tidak ada yang mengetahui secara pasti identitas wanita bertubuh tambun itu. Dari foto yang di pos media memang tidak begitu jelas wajahnya seperti apa karena luka lebam yang ada disekujur wajah dan tubuhnya hingga merubah bentuk wajahnya.
Karena tidak adanya orang yang datang meng-klaim keluarga atau wali, proses asuransi menjadi terkendala. Dengan beberapa alasan pihak rumah sakit memindahkan korban ke rumah sakit lain yang katanya lebih besar dengan fasilitas yang lengkap. Namun begitu pihak rumah sakit tujuan mengetahui kalau asuransinya belum di proses dan tidak ada penanggung jawabnya, mereka hanya menerimanya beberapa hari lalu memindahkannya lagi. Begitu seterusnya hingga keputusan dibuat, kalau korban akan menjadi milik negara dan diasuh dan dirawat oleh negara hingga korban sembuh seperti sedia kala. Tak lama dana asuransi pun cair. Penanganan dan pengobatan berjalan dengan lancar.
Dua bulan kemudian, pihak rumah sakit mengeluarkan nota administrasi yang menyatakan berapa total yang harus dibayarkan. Ternyata jumlah tersebut telah mencapai limit dana ketentuan asuransi. Namun keadaan korban tidak membaik maupun memburuk. Dia seperti mayat hidup. Akhirnya pihak asuransi dan rumah sakit bersepakat untuk meminta petunjuk dan bantuan kepada pemerintah melalui dinas sosial. Tak lama surat balasan pun datang, mereka pun menyetujui untuk pemberian dana pengobatan korban. Namun dana hanya diberikan unutk kurun waktu 3 bulan kedepan saja. Dan pihak pemerintah harus melakukan pengecekan dan kontrol keadaan korban. Jika ada harapan untuk sembuh bantuan akan tetap diberikan, namun jika kemungkinan untuk sembuh tipis cendrung tidak ada, maka bantuan akan diberhentikan dan pihak rumah sakit dipersilahkan untuk menyatakan waktu kematian dan penguburan korban dengan selayaknya. Setelah didapati persetujuan dana, pemerintah mengirim seorang petugas untuk mengontrol keadaannya.
Seorang suster yang berada di meja resepsionis berteriak memanggil seorang dokter senior pria yang kebetulan lewat di depannya. Dokter itu pun berjalan mendekati suster. “ada apa?” tanya dokter begitu mendekati meja resepsionis. “pak tadi ada telephon dari dinas sosial, katanya mereka akan datang kesini untuk melihat korban kecelakaan itu, katanya mereka juga membawa berkas dan dana untuk pembayaran biaya perawatan selanjutnya” terang suster. “ooh, hemm, enak banget yah tu orang, duit banyak begitu aja mengalir ke dia” kata dokter. “ia tapi percuma aja pak kalo punya duit banyak tapi kayak mayat hidup gitu. Saya aja kalo ngecek tensinya susah banget ngedengerin denyut nadinya.” Kata suster. “hehe, ia nanti kalo orang dinas itu datang saya akan mencoba untuk mengajukan penghentian dana” kata dokter. “penghentian dana? Kan mereka udah repot2 mengurus semuanya pak, kok dananya mau dihentikan?” tanya suster bingung. “ia habis mau gimana lagi, selama 2 bulan dirawat disini, dia sama sekali tidak menunjukkan perkembangan. Bahkan sering menunjukan kemunduran. Trus buat apa kita mempertahankannya untuk hidup?? Lagian dia juga tidak memiliki keluarga yang mengharapkannya untuk hidup” kata dokter sambil berlalu meninggalkan meja resepsionis. “masa ada orang yang gak punya keluarga sih. Dia pasti punya keluarga yang menyayangi dia, tapi hanya saja mereka tidak disini dan bahkan mungkin sekarang kelurganya juga tengah panik mencari dirinya” pikir suster itu.



BERSAMBUNG