Kamis, 15 Desember 2016

LOST MEMORY, REBORN 4

Setelah semua orang pergi, Arsa kembali masuk kedalam ruang ICU. Ia melangkah mendekati Maria. “sukurlah kamu telah sadar. Selamat datang kembali ke duniaku” kata Arsa. Ia terdiam sejenak, dipikirannya ia berkata “ke duniaku??,, apa maksudnya duniaku?? Mana ku tahu. Mereka keluar begitu saja dari mulutku. Ia, tapi mengapa aku mengatakan itu... tunggu. Aku bicara dengan siapa.. ahh,, sial aku ini kenapa sih?”. Terjadi pertengkaran hebat di dalam hatinya. Yang sejujurnya ia sendiri tidak tahu kenapa begitu. Menyadari ia sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi, Arsa pun pergi meninggalkan Maria sendirian di ruangannya dan pergi menuju apartemennya.
ÀxÄÅÆØÄxÀ
♪[music Maroon 5 – Sugar] ♪ terdengar dari handphone Arsa. Ternyata itu adalah suara panggilan masuk dari Dokter Adrian. “halo” jawab Arsa singkat. “pak kami telah mendapatkan hasil test Maria. Apa anda ada waktu luang untuk ini?” tanya Dokter Adrian. “oh ya tentu saja nanti sore saya akan kesana” jawab Arsa. Dan ketika Arsa hendak bertanya sesuatu, Dokter Adrian langsung menutup telephonnya. Dan berkata “hah,,, aku masih saja ketakutan dengannya. Padahal dia hanya menatapku saja. Hah,, aku bisa gila. Lagian kenapa juga dia bisa marah seperti itu. Aku kan hanya mengatakan kebenaran. Dan lagi sejak kapan orang dinas bisa begitu emosional dengan orang gak dikenal. Hah,,,”.
Sore yang mereka maksud pun tiba. Arsa langsung datang ke ruangan dokter Adrian. Setelah berbasa-basi yang agak garing, mereka kemudian masuk pada pembicaraan inti. “kami tidak menemukan perbedaan hasil CT-scan dan MRI yang sekarang dengan sebelumnya. Hanya saja kami menemukan sesuatu yang sangat menarik dari keduanya. Yaitu dibagian ini [Dokter Adrian menunjuk ke arah bagian belakang kepala di hasil CT-scan] di sini terdapat satu syaraf kecil yang terputus. Logikanya jika ini terjadi seorang manusia bisa mati atau pun gila dan bahkan ada yang lumpuh otak. Yang saya maksud lumpuh otak adalah kehilangan segala kemampuan seperti berbicara, berpikir, hah! Seperti orang terserang strook yang juga menderita kepikunan dalam bahasa awam. Tapi anehnya dalam kasus Maria, ia hanya hilang ingatan. Dan lagi walau pada hasil test yang kedua syaraf itu juga tidak menyambung alias benar-benar putus, namun syaraf-syaraf berukuran sangat kecil disekitarnya tumbuh dengan sangat cepat. Perkembangannya seperti otak manusia pada usia Golden Brain” terang Dokter Adrian. “Golden Brain??” tanya Arsa. “ia. Perkembangan otak pada anak usia 3 tahun ke atas. Dimana pada masa ini anak lebih cendrung cepat mengingat dan mempelajari hal baru. Menurutku,, Maria sebelumnya juga seorang wanita yang cerdas. Namun karena insiden ini, ia jadi memiliki kecerdasan yang berlipat ganda. Karena pertumbuhan regenerasi syaraf otaknya sangat cepat. Itu artinya Maria mengalami amnesia permanen, disisi lain ia memiliki daya tangkap yang sangat bagus. Dan sudah pasti ia akan mengejutkan kita semua terutama anda, Pak Arsa” jawab Dokter Adrian.
Pembicaraan mereka berakhir begitu saja. Arsa yang kemudian pergi meninggalkan Dokter adrian sendirian diruangannya, berjalan seperti tanpa nyawa. Kata-kata Dokter Adrian masih berdengung keras di ingatannya. ‘amnesia permanen’ dan juga ‘golden brain’ membuat dirinya sendiri bertanya-tanya tentang apa itu yang sebenarnya. Ia sangat paham apa yang dikatan oleh Dokter Adrian, namun bukankah itu terlalu. Seorang wanita yang hilang ingatan dan kemudian memiliki kekuatan seperti anak umur 3 tahun. Akan seperti apakah Maria nantinya?
Tanpa sadar ia telah berdiri disebuah ruangan. “ini dimana?? Perasaan aku belum pernah ke ruangan ini?? Ahh,,, sial kenapa tubuhku bisa berjalan sendiri ke sini sih.” Pikir Arsa. Karena sudah berada di ruangan ini, Arsa pun berjalan-jalan di koridor ruangan ini sambil bermaksud mencari jalan keluar dari ruangan ini. “ahh,,, rumah sakit ini seperti labirin. Aku benar-benar tersesat di si...” perkataannya terhenti ketika matanya melihat sebuah pemandangan yang sangat familiar namun tidak biasa. Ia melihat ke sudut bangsal yang berada di pintu ke dua setelah kamar mandi. Ia benar terpana akan pemandangan itu. Mentari senja yang terang telah memantulkan sinar dari wajah seseorang yang selalu ia lihat dan selalu ia ajak bicara sebelumnya. Wajah itu tidak hanya bersinar, namun juga menunjukkan seluruh gigi atasnya karena tawanya. Terlihat jelas dari mata Arsa ia tengah berbincang dengan seorang perawat yang juga ia kenal, dia adalah Ratih. Dan karena ini adalah ruang kelas tiga, tentunya ada beberapa pasein lain yang juga berada di sana. Arsa melihat Maria tertawa, itu membuatnya sangat bahagia, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan namun ia mengerti akan perasaan itu dan menikmatinya dari jauh. Namun perasaan itu mendadak hilang ketika ia melihat ada seorang pria yang terlihat seumuran dengan Maria yang juga tertawa bersama mereka. Ia juga memakai pakaian yang sama yang dipakai oleh Maria dan Pasien-pasien lainnya. Dan pria itu merangkulkan tangannya begitu saja ke bahu Maria. Seperti anak kecil yang tidak ikhlas mainannya di ambil orang, Arsa langsung berjalan menuju mereka dan berkata “bukankah ini terlalu berisik untuk rumah sakit??” “pak Arsa??” kata Ratih yang tak menduga atas kedatangannya. “bukankah kamu seorang perawat, seharunya kamu yang lebih tahu aturan di rumah sakit ini kan??” tanya Arsa kembali. “hah,, anda itu terlalu serius, kami disini hanya untuk menghibur Maria saja. Dia sangat kesepian di sini. Dan ternyata Maria itu orangnya sangat humoris. Kita semua sampai nangis karenanya. Eh tapi kamu ini siapa sih. Dateng dateng langsung marah-marah gitu?” tanya pria yang tadi merangkul Maria. Mengingat apa yang telah dilakukan pria ini kepada Maria, membuat Arsa benar-benar naik pitam. Ia mencengkram tangannya erat. Sepertinya ia sudah tidak tahan lagi untuk tidak memukul wajah pria di depannya itu. “dasar pria busuk, jelek, penyakitan, tidak tahu diuntung, memangnya siapa dia, beraninya dia merangkul Maria, dan... dan dia menanyakan siapa aku, siapa aku,,, benar-benar kunyuk bangsat. Apa harus kubunuh saja dia?? Atau aku potong saja tangannya yang udah ngenyentuh Mariaku... haaahh,,, sial kenapa aku mengatakan Maria ku lagi sih” kata Arsa di dalam hati. “aku? Kenapa kamu ingin tahu siapa aku? Memangnya kamu itu siapa? Dinas kependudukan?? Hah?” tanya Arsa yang menatap tajam ke arah pria itu. Seperti yang dirasakan oleh Dokter Adrian sebelumnya, kali ini pria itu juga merasakan hal yang sama. Dirinya menjadi sangat ketakutan. Tanpa banyak bicara, pria itu pergi. Tak lama setelahnya, Ratih pun izin untuk pergi mengingat jam istirahatnya telah usai.
Setelah keributan ini usai, Arsa pun berjalan mendekati Maria. “apa aku boleh duduk di sini??” tanya arsa sambil menunjuk ke pinggir ranjang tempat Maria duduk. Maria hanya menjawabnya dengan mengangguk pelan. Arsa pun dengan sangat hati-hati meletakkan pantatnya ke tepi ranjang tersebut. Kemudian suasana kembali hening. Terlihat jelas suasana canggung di antara keduanya. “itu,,,” kata Maria terputus. “kamu udah bisa duduk ya??” tanya Arsa dangan senyumannya yang hangat. Melihat ekspresi itu membuat Maria terkejut. Mengingat ekspresi pertama yang ia bawa kedalam ruangan ini seperti apa sebelumnya. Maria pun menjawabnya dengan senyuman terbaiknya. Seketika mata Arsa membulat melihat senyuman itu, sangat bersemangat, dan sejujurnya sangat menggoda menurut matanya. Walau sebenarnya senyuman itu biasa saja. Arsa mencoba mengalihkan pandangannya untuk mengusir perasaan aneh yang tengah ia rasakan ini. “itu,,, kenapa kamu menciumku??” tanya Maria. Mendadak Arsa melompat dari ranjang itu. Dia tak menyangka pertanyaan pertama yang diberikan wanita ini adalah ciuman. “kamu tidak apa-apa??” tanya Maria yang panik melihat Arsa yang tiba-tiba jatuh dari ranjang. “aa tidak aku tidak apa-apa, hanya licin saja. Emm apa tadi yang kamu tanyakan??” tanya Arsa merasa tidak yakin akan telinga nya. “uum,, aku memang tidak tahu itu ciuman apa tidak. Tapi ketika aku menanyakannya kepada Ratih dan mereka, mereka bilang kalau itu namanya ciuman.” Jawab maria. “apa! Kamu menceritakan apa yang aku lakukan kepada semua orang??” tanya Arsa terkejut. “aaaa,,, tidak aku tidak menceritakan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku. Aku hanya bertanya kepada mereka kapan kita bisa melihat mata seseorang menjadi lebih besar dan dekat. Dan mereka memberikanku banyak jawaban. Dan menurutku jawaban yang paling mendekati adalah... ciuman. Mereka bilang jika bibir dua orang manusia bersentuhan itu namanya ciuman. Dan jujur itu semua keluar dari mulut mereka tanpa aku bertanya kok” jelas Maria dengan sangat lucu. Seketika ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Adrian. Anak usia tiga tahun. Dan ekspresi itu sangat menggemaskan bagi Arsa. Dan entah mengapa amarahnya hilang entah kemana. “hah,, ek,, huft,, gini. Aku tidak. Yah itu bisa dikatakan ciuman. Anggap saja begitu. Tapi aku melakukannya tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya... memberi energi. Ingat ketika aku mencium kamu mata kamu langsung terbuka??” tanya Arsa. Maria mengingat kembali kejadian itu dan menyadarinya, ia menjawabnya dengan mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Arsa padanya. “benar.. ya tentu saja. Itu benar. Ciuman itu bisa memberikan kekuatan kepada orang lain... tapi hanya aku yang bisa melakukannya. Orang lain tidak bisa melakukannya. Ya,, seperti super hero, ia super hero” sambung Arsa. “super hero?? Super hero itu apa??” tanya Maria. “super hero?? Oach,, super hero itu adalah pahlawan yang memiliki kekuatan super. Itu super hero” jawab Arsa. “pahlawan itu apa??” tanya Maria lagi. “pahlawan?? Ya. Orang yang.. melakukan lebih untuk orang lain?? I,,i,, ya,, begitulah kira-kira” jawab Arsa. “dia emang benar-benar seperti anak kecil yang pintar ya, selalu bertanya apa pun yang menurutnya baru” pikir Arsa. “jadi jika aku sakit lagi dan aku tidak memiliki kekuatan yang cukup, apa kamu akan menciumku lagi??” tanya Maria. Dengan sangat terkejut, Arsa menjawab pertanyaan itu “apa!! Mencium kamu lagi?? Ah,, ya tentu saja. Aku inikan super hero kamu”. “apa? Super hero kamu?? Aish,, dasar pria bejat. Kenapa kamu mengatakan kata-kata seperti itu. Bodoh!” pikir Arsa. “ha,, sukurlah. Sekarang aku tidak perlu khawatir jika keadaanku memburuk, kan kamu bisa memberikan aku kekuatan” kata Maria sambil tersenyum lembut. Mendengar perkataan itu membuat Arsa terdiam, kemudian dia tersenyum manis melihat Maria. “tapi, sejujurnya selain aku tidak tahu siapa aku, aku juga tidak tahu siapa kamu” kata Maria. “ah aku Arsa. Arsa Kenneth Dean. Ya seperti yang kita tahu. Kita tidak tahu kamu ini siapa dan keluarga kamu siapa. Jadi untuk sementara akulah walimu. Penanggung jawabmu. Aku bekerja di kantor Dinas sosial. Aku yang bertanggung jawab atas dana operasional rumah sakit kamu” jawab Arsa. “Dinas Sosial? Dana operasi?? Itu apa??” tanya Maria bingung. “dinas sosial itu adalah badan yang dibentuk oleh pemerintah untuk membantu orang lain” jawab Arsa. “aah super hero yang digaji ya??” kata Maria. “super hero yang di gaji??” tanya Arsa yang bingung mendengar perkataan tak terduga ini. “ia orang yang membantu orang lainkan super hero seperti kamu, sedangkan pemerintah adalah orang yang bekerja untuk orang banyak dan digaji. Ia kan??” terang Maria. “siapa yang mengatakan itu kepadamu?” tanya Arsa bingung. “ah.. itu mereka yang mengatakannya” jawab Maria. “mereka maksud kamu. Pria yang udah menyentuh kamu itu??” tanya Arsa kembali emosi. “tidak, tapi perawat, dan pasien yang lain juga mengatakan itu. Waktu mereka menonton tv. Aku mendengar mereka bilang ‘dasar pemerintah bego!’ makanya aku tanya mereka ketika itu” jawab Maria. “yah bisa dikatakan begitulah” kata Arsa. “maaf Pak Arsa, Maria harus istirahat. Kunjungannya disambung besok lagi ya pak?” pinta perawat jaga dengan suara lembut.
Walau pertemuan ini sesungguhnya masih belum terpuaskan bagi Arsa, namun ia harus mengalahkan ego-nya demi kesehatan Maria. Secepatnya Arsa berdiri dari tempat duduknya di pinggir ranjang Maria yang sebetulnya tidak senyaman sofa di rumahnya, tapi membuatnya tak ingin beralih dari tempat itu. “ya sudah, Maria. Aku pulang dulu ya. Ingat! Begitu aku pergi, kamu langsung tidur ya...” kata Arsa dengan sangat manis. Maria pun menjawabnya dengan senyuman imut khas anak kecil. Melihat respon itu membuat Arsa sangat sulit untuk memerintahkan tubuhnya untuk pergi dari tempat itu. Walau akhirnya ia berhasil mengusir dirinya sendiri.
Di dalam mobilnya, senyuman Maria, ekspresi Maria, dan suara Maria terbayang jelas di matanya. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Seolah bergerak sendiri, tepi bibirnya selalu tertarik di kedua sisinya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini ia sangat menikmati perasaan “gilanya” ini. Dia tidak memberontak sama sekali. Terutama pada dirinya sendiri.
£ € £ ¥ © ® ¥ € £
Ke esokan harinya, ketika mentari pagi menyilaukan matanya, Maria membuka matanya. Diputarnya pupil matanya melihat kesekelilingnya. Suasana pagi ini begitu hening. Perawat yang tengah dinas pagi melakukan tugasnya seperti biasa. Terdengar suara orang berbicara dari kejauhan yang sesungguhnya ia sendiri tak begitu mempedulikan suara itu. Seperti berusaha mencari sesuatu dan menyadari apa yang ia cari tidak ada. Maria kembali memejamkan matanya. Ia sadar dirinya begitu lemas. Ia sengaja mengistirahatkan tubuhnya untuk sesuatu yang ia yakini pasti akan mendatanginya.

£ € £ ¥ © ® ¥ € £

to be continued.....
nantikan lost memory, reborn 5 ya teman-teman ^,^

Sabtu, 10 Desember 2016

F3nnyclouD: LOST MEMORY, REBORN 3

F3nnyclouD: LOST MEMORY, REBORN 3: Begitu sampai di rumah sakit, ia langsung memberikan berkas identitas sementara itu ke perawat di resepsionis. Arsa bertanya “apa saya bole...

LOST MEMORY, REBORN 3

Begitu sampai di rumah sakit, ia langsung memberikan berkas identitas sementara itu ke perawat di resepsionis. Arsa bertanya “apa saya boleh melihat Maria??”. “Maria siapa pak?” tanya Ratih yang kebetulan tengah duduk di sana. “wanita yang kamu ajak kembali itu, wanita korban kecelakaan” jawab Arsa. “bapak sudah membuat identitas sementaranya?” tanya Ratih. “ia namanya mulai hari ini Maria. Data selengkapnya ada dalam berkas itu. Jadi saya boleh melihat Maria kan?” tanya Arsa. “ia pak” jawab perawat yang berjaga di resepsionis. “tapi pak, ia telah dipindahkan ke ruang perawatan” kata Ratih mencegah langkah Arsa. “dipindahkan?” tanya Arsa yang akhirnya mengurungkan langkahnya untuk pergi ke ruangan ICU, karena hanya ruangan itu yang ia tahu wanita itu berada. “ia, karena keadaannya semakin membaik, jadi dokter memutuskan untuk memindahkannya keruangan perawatan. Ia sudah tidak perlu lagi di ruang ICU pak” terang Ratih. “kalau begitu apa kamu mau mengantarkan saya?” pinta Arsa. “baik pak” jawab Ratih yang kemudian langsung berdiri dan melangkahkan kakinya ke ruangan yang dimaksud disusul dengan Arsa yang berjalan tepat di sampingnya.
Ternyata Maria diletakkan di ruang kelas 3. Dimana dalam satu ruangan terdapat 8 kasur dan kebetulan diruangan ini hanya ada 5 orang termasuk Maria. Begitu mereka berada tepat di dekat ranjang Maria, Arsa pun berkata “pergilah!”. Tanpa banyak bicara ratih pun melangkah mundur meninggalkan Pak Arsa. Arsa melangkahkan kakinya menuju sisi kanan Maria, menghadap dinding dan membelakangi pasien lainnya. Ranjang Maria berada paling ujung dari ruangan ini. Matanya melihat sebuah kursi plastik yang berada di samping lemari. Di ulurkan tangannya menggapai kursi plastik tersebut, kemudian ia meletakkannya di tengah antara ranjang Maria dan ranjang kosong di sebelahnya. Dihempaskan pantatnya diatas kursi tersebut. Arsa kembali mematung. Matanya tak berkedip memandang wanita yang ia namai Maria itu. Pikirannya berkata “dilihat dari mana pun tidak ada yang menarik dari dirinya, fisiknya... mungkin yang terburuk dari semua wanita yang pernah mendekatiku. Mengingat seperti apa ia dulu dengan 89 kg lemak ditubuhnya itu. Dan sekarang, setelah selang pernapasannya dicabut. Ia seperti nenek-nenek peot. Tidak,,, apa yang aku pikirkan. Dia baru saja selamat dari maut dan sekarang aku harus memikirkan ini di depannya. Tidak,, tapi kenapa dia terus menarikku? Aah,, mungkin karna wajahnya? Tidak. Wajahnya tidak cantik sama sekali, lebamnya bahkan masih ada dan bekas lukanya juga masih jelas, tidak mungkin itu yang membuatku tertarik padanya” kemudian Arsa menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya dengan kuat hingga membuat wajahnya menunduk. Ia berkata “haa,,, I have no ide. Hei kau tahu? Aku benar-benar tidak tahu siapa dirimu dan bagaimana kamu bisa menangkapku seperti ini. Tapi apa kau tahu? Aku telah memberikanmu sesuatu yang tidak semua orang bisa memberikannya. Nama. Aku memberikan mu nama. Sebuah nama yang sangat indah. Dengar baik-baik, nama mu adalah” kemudian Arsa mendekatkan mulutnya ketelinga wanita itu dan mengatakan namanya dengan sangat lembut “Maria, Maria Zilvania. Karena kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan seorang wanita bermartabat untukku”. Mendengar dirinya mengucapkan kata “untukku” membuat dirinya terkejut dan di dalam hati ia berkata “untukku?? Apa yang baru saja ku katakan?? Kenapa aku mengatakan untukku??apa aku sudah gila? Sejak kapan aku mengatakan ini kepada seorang wanita?? Tunggu! Apa benar aku memilih nama ini dengan tujuan seperti ini? Tidak. begitu ia sadar ia pasti akan mengatakan namanya. Tunggu bagaimana jika ia mendengar apa yang aku katakan? Tidak,, tidak,, dia itukan lagi pingsan. Tapi ada kemungkinan juga kan kalau ia bisa mendengarku? Haaa,,, mati aku . tunggu tadi aku berbisikkan? tidak ada yang mendengarkanku kan??” Arsa melihat sekeliling mengamati apa ada orang lain yang melihatnya dan menyadari apa yang ia katakan. Namun di ruangan sebesar ini hanya ada 4 pasien tanpa wali. Yang artinya MEREKA TIDAK MENGHIRAUKANMU. “hufh,,, sukurlah. Tunggu sejak kapan aku seperti ini?” dirinya terdiam sejenak, dipandanginya wajah wanita yang ia namai Maria itu, kemudian ia tersenyum manis. “kamu pasti seorang penyihir, yang merubahku seperti ini. Merubahku menjadi bukan diriku sendiri.” Pikir Arsa. Kemudian ia berdiri, di dekatinya wajah Maria. Tangannya yang sedari tadi diam, mengayun menuju wajah Maria hingga mendarat lembut di pipinya. Ia tersenyum sangat lebar seolah mengatakan “aku akan kembali, semangat!!”. Arsa pun pergi meninggalkan Maria sendiri terbaring di ranjangnya.
Sejak hari itu, Arsa selalu datang mengunjungi Maria. Setiap jam kerjanya usai, ia selalu menyempatkan diri untuk menemui Maria. Walau ia sangat sadar Maria tidak akan pernah menjawab pertanyaannya, namun Arsa selalu mengajaknya berbicara. Tak jarang Arsa datang membawa buku dan dengan sengaja membacanya dengan suara lebih keras bermaksud untuk membacakannya untuk Maria. Perkembangan Maria jauh lebih membaik walau masih tidak ada respon apapun dari Maria ketika ia di ajak bicara. Dokter dan beberapa suster melihat Arsa yang terlalu perhatian sebagai orang dari Dinas Sosial hanya senyam-senyum melihatnya dari kejauhan, karena hal ini memang memberikan dampak positif bagi Maria sendiri. Disisi lain, bagi Arsa selalu bersama Maria membuat dirinya menemukan dirinya yang lain. Dirinya yang selalu tersenyum, dirinya yang merasa nyaman dan damai, dirinya yang bisa meluapkan isi hatinya sendiri tanpa ragu dan beban. Entah mengapa Arsa dapat mencurahkan seluruh isi hatinya begitu saja kepada Maria. Seorang wanita yang selalu tertidur dihadapannya. Ntah mungkin karena ia tertidur dan tanpa respon kah yang membuat dirinya sangat nyaman membagi segalanya kepada Maria, ntahlah, ia pun tidak tahu.
Di sudut ruangan perawat, beberapa perawat wanita berkumpul dan berbincang. “kalian tahu Maria Zilvania pasien yang ada dikamar melati paling ujung itu gak?” tanya perawat 1 yang tengah duduk menghadap meja komputer. “di rumah sakit ini siapa sih yang gak tahu dia. Mayat hidup yang punya nasib sangat beruntung” jawab perawat 2 seseorang yang terlihat seperti ketua diantara mereka. “ia. Biaya pengobatannya dibayarin pemerintah, selain itu ntah dari mana datangnya kok bisa ya ada orang dinas sosial seganteng itu. Huft,,, andai aja semua orang dinas sosial seganteng itu, pasti semua orang berharap ditimpa musibah biar didatengin pria tampan terus” timpal perawat 3 yang sedari tadi tengah asik mengunyah makanan siangnya. “trus semua orang akan berharap sakit jika semua dokter dan perawat itu tampan, gitu?” tanya perawat 2 dengan nada sedikit sewot. “tapi ya, kalau emang dia itu Cuma orang dari dinas sosial, bukannya dia Cuma datang kalau pihak kita nelpon mereka ya? Tapi ini setiap hari dia disini. Mmm,,, udah kayak suaminya gitu” kata perawat 1 berpendapat. “masak sih? Bukannya dia itu wanita tanpa identitas dan keluarga ya??” tanya perawat 3 bingung. “itu Cuma sindiran kali” terang perawat 1. “tapi kalau dipikir-pikir lagi aneh juga sih, kita semua gak tahu identitasnya, apa lagi orang dinas itu. Tapi perlakuan dia, perhatian yang dia berikan, kayaknya itu terlalu berlebihankan untuk seorang dinas sosial? Apa mungkin dia suka, sama mayat hidup itu?” tanya perawat 2. “ia juga sih. Pasien-pasien yang satu ruangan dengannya juga berpendapat yang sama loh. Tapi kalau dipikir lagi ya, gimana caranya sih orang dinas itu bisa suka sama mayat hidup itu? Sedang kita aja ya, yang tiap hari mandi 2x sehari, selalu pakai make up, pake parfum, selalu modis, selalu bersikap baik, masih aja sulit untuk buat seseorang terpikat dengan kita. Mayat hidup itu, namanya aja mayat. Cuma tidur aja. Sifatnya gak tahu. Suaranya aja ntah seperti apa kita semua juga gak tahu.” Kata perawat 1. “ach tapi kalau aku gak peduli orang itu seperti apa dan bagaimana. Kalau dia itu bisa buat aku nyaman, bisa buat aku selalu ngemikirin dia, itu udah cukup kok buat aku suka dan jatuh cinta sama dia” kata perawat 3. “ia makanya cowok kamu itu jelek” sindir perawat 2.
Suatu hari saluran TV nasional memberitakan bahwa telah terjadi letusan abu fulkanik di Gunung Sinabung dan Dinas Sosial menunjuk Arsa untuk ditugaskan pergi sebagai perwakilan dari Dinas Sosial pusat serta memberikan dana bantuan kepada para korban abu fulkanik di Medan, Sumatera Utara. Perjalanan dinas ini membutuhkan waktu kurang lebih 10-14 hari. karena Arsa harus memeriksa seluruhnya, baik korban, kerugian, penyakit yang diderita dan obat apa yang harus dilengkapi, serta keperluan lain untuk para pengungsi. Tentu saja karena hal ini, Arsa tidak pernah lagi datang menjenguk Maria. Dan seperti biasanya budaya tukang gosip, hal ini langsung menjadi berita panas di Rumah Sakit. Ditambah lagi kondisi Maria yang ntah kebetulan atau pun tidak menjadi semakin memburuk. Sehingga tim dokter memutuskan untuk mengembalikan Maria ke ruang ICU. Tanda vitalnya menurun, setiap hari paling tidak sekali tubuhnya mengalami kejang mendadak. Tanpa tanda yang jelas tubuhnya bisa kejang-kejang. Kadang suhu tubuhnya bisa mencapai 39° celcius. Dan kadang dibawah 30° celcius. Kondisinya tak pernah separah ini, jelas sekali kalau dirinya marah karena Arsa tak pernah lagi mengunjunginya, pikir tim medis. Namun ntah yang sebenarnya terjadi seperti apa dan kenapa, tidak ada seorang pun yang tahu pasti, selain Tuhan.



Di medan, arsa tengah termenung memikirkan sesuatu. Walau ia sadar ini hari terakhirnya, namun perasaannya tidak enak mengenai suatu hal. Ia memikirkan Maria dan tidak enak akan perasaannya itu. “jadi lu disini?” suara itu tiba-tiba datang dari arah belakang Arsa. Belum sempat Arsa menoleh kebelakang, pria itu telah berjalan disampingnya. “heh, ada apa?” tanya Arsa kepada pria disampingnya itu. Ia adalah teman Arsa dari dinas sosial yang juga ditunjuk pergi bersamanya, Dino. “seharusnya gw yang nanya itu, lu ada apa?” tanya Dino. “heheh, lu aneh ya, gak ada apa-apa kok” jawab Arsa. “ok. Gak ada apa-apa ya? ... gimana kabar Maria?” tanya Dino. “huft,, gw gak tahu. Yang jelas gw ngekhawatirin dia” jawab Arsa. “ooo,,, jadi lu kayak gini gara-gara mikirin Maria??” tanya Dino yang puas jebakannya berhasil. “apa! Mikirin Maria?? Gak kok. Gw itu,, ya gw itu,,” jawab Arsa terbata-bata. “haha,, udah gak usah lu ngenutupinnya dari gw. Gw itu udah kenal elu dari kita SMP. Dan kita udah berteman baik sejak SMA, trus kuliah dan sekarang kita satu tim di satu dinas yang sama. Jadi jika di dunia ini ada orang yang paling kenal elu, itu gw” terang Dino. “gw bilang gw gak apa-apa, dan. Lagian gw Cuma ngekhawatirin dia kok bukan mikirin dia” jelas Arsa. “lu gak bisa ngibul. Sikap lu ke mayat hidup itu udah jadi bahan gosip di rumah sakit dan bahkan dikantor kita. Lu pikir anak-anak gak tahu apa setiap lu pulang kerja lu itu selalu kerumah sakit. Dan lu bisa pulang tengah malam dari rumah sakit. Trus gw juga denger kabar dari para suster di sana, katanya lu itu selalu ngomong sendiri, ketawa sendiri, udah kayak orang gila tahu gak” kata Dino. “apa!” kata Arsa sedikit sewot. Melihat expresi Arsa, membuat Dino menghela nafas panjang dan berkata “ya gak salah lu perhatian sama orang, suka sama orang, dan cara yang lu pake itu juga gak salah sih, tapi. Kita aja gak tahu identitasnya, dan juga sampai detik ini tidak ada orang yang datang mengaku keluarganya, dia juga masih belum sadar. Dia dipanggil mayat hidup. Trus apa yang ngebuat lu jadi berubah seperti ini. Seinget gw cewe yang ngedeketin elu itu semuanya body model dan blasteran. Sedangkan mayat hidup itu,,,”kata Dino terpotong dengan perkataan Arsa “bisa gak sih lu gak manggil dia mayat hidup??”. “ok Maria” jawab Dino disusul dengan helaan nafas yang berat. Mendadak suasana menjadi hening. “gw juga gak tahu No. Ntah ini bisa dikatakan suka atau enggak. Tapi yang jelas pada awalnya gw hanya kasian sama dia, trus gw penasaran sama dia. Orang yang dinyatakan waktu kematiannya kemudian bisa menggenggam tangan seseorang. Dan.. semakin lama gw ngelihat cewe itu, cewe itu jadi gak mau pergi dari otak gw. Setelah sekian lama akhirnya gw bisa bahagia hanya dengan melihat wajah orang lain. Sepertinya sudah sangat lama perasaan ini ada. Terakhir perasaan ini ada ketika nyokap gw masih hidup. Itu artinya sudah 7 tahun gw gak pernah sebahagia ini, sedamai ini. Kadang gw berpikir, wanita itu adalah jelmaan Mami. ... ntahlah No, apakah ini bisa disebut suka atau enggak” kata Arsa. Mendengarnya membuat dino tersenyum simpul dan berkata “ yeah, itu yang gw maksud dengan berubah tadi. Lu jadi suka tersenyum, lu lebih ramah. Gw seperti melihat Arsa ketika kita sekolah dulu”. Dino kemudian merangkulkan tangannya ke bahu Arsa. Dengan senyuman persahabatan, ia berkata “gw dukung lu seratus persen” disusul dengan acungan jempol disisi tangannya yang lain. Melihat semua ini membuat Arsa jadi sangat tidak nyaman. Dengan sigap Arsa melepaskan tangan Dino dan berkata “dukungan apaan! Gw gak lagi kampanye!”. “yah dia balik lagi” kata Dino yang merasa sisi devil Arsa yang kembali ntah dari mana.
ÀxÄÅÆØÄxÀ

Akhirnya pesawat telah mendarat di Bandara Internasional MinangKabau. Begitu keluar di pintu bandara, Dino langsung di sambut oleh keluarganya. Dino telah memiliki istri dan sepasang anak. Dan itu jualah yang menyebabkan Dino memberikan semangat kepada Arsa ketika berada di tempat pengungsian di Medan. Sedang Arsa pulang dengan taxi.
Setiba dirumah, kekhawatirannya kepada Maria semakin memuncak. Dia langsung mengambil kunci mobilnya, dan menyetirkan mobilnya menuju Rumah Sakit. Setiba di Rumah Sakit, Arsa langsung menuju ruangan tempat Maria biasa berada. Ternyata yang ia lihat hanya ranjang hitam yang bahkan sangat bersih, seperti tidak pernah ditempati sebelumnya. “Maria dipindahkan di ruang ICU pak” suara seorang wantia muncul dari belakang. “Ratih? ICU? Kenapa Maria dikembalikan lagi ke ruang ICU?” tanya Arsa panik. “selama Bapak tidak mengunjunginya, setiap harinya ia selalu kejang. Dan bahkan suhu tubuhnya tidak stabil. Kadang terlalu panas, dan kadang terlalu dingin. Makanya,,,” perkataan Ratih terpotong karena Arsa langsung pergi meninggalkan Ratih. Seperti orang kesetanan, ia berlari menuju ruang ICU. Ia tidak peduli berapa banyak orang yang ia tabrak, yang ia pedulikan hanyalah Maria. Keadaannya memburuk tanpa dirinya. Setiba di depan ruang ICU. Arsa termenung melihat kondisi Maria, seperti pertama kali ia melihatnya. Hanya saja kali ini Maria tidak mengenakan selang oksigen di mulutnya, tapi masker oksigen. Di ruangan ini tidak ada siapa-siapa. Arsa pun langsung masuk kedalam dan menemui Maria. Setiba di dalam ruangan itu, Arsa langsung berkata “kamu kenapa?? Kok keadaan kamu memburuk lagi sih. Apa karena aku ya?? Aku minta maaf. Aku tidak pamit sebelumnya. Aku tahu ini salahku, tapi maafin aku ya!?”. Ia berdiam diri sangat lama. Matanya terus menatap lembut Maria. Dalam hati kecilnya ia berharap Maria terjaga. Hingga tanpa sadar ia menitikkan air mata. Menyadari air matanya keluar, Arsa langsung mengambil air mata itu dengan jemarinya. Ia perhatikan baik air matanya itu dan berkata “bahkan kamu juga ingin melihatnya sadar ya?”. Seperti bergerak sendiri, tubuhnya melangkah mendekati Maria, ia raih masker oksigennya dan ia lepaskan. Wajahnya perlahan namun pasti mendekati wajah Maria yang tengah terbaring lemah. Ditempelkannya dengan lembut bibirnya di bibir Maria. Rasanya,,, sangat nyaman. Pikirannya jadi benar-benar kosong. Lumayan lama bibirnya melekat. Matanya juga terpejam menikmati ciuman itu. Ciuman sederhana. Seperti mencium kucing. Namun tak terpikirkan bagi Arsa untuk melepaskannya. Hingga disaat Arsa dengan pelan menaikkan kelopak matanya. Ia melihat dua bola mata nan cantik menatap lurus ke dalam matanya. Betapa kagetnya Arsa melihat kedua bola mata itu yang akhirnya membuat dirinya terpental menjauh dari Maria. “kamu siapa?? Kenapa matamu bisa begitu dekat” tanya Maria masih sangat lemas. “ka,, kamu bicara??” tanya Arsa kaget. Dan kali ini kagetnya jadi berlipat ganda. Tanpa menjawab pertanyaan Maria, Arsa langsung berlari mencari dokter sambil berteriak memanggilnya. Langkahnya langsung terhenti ketika melihat dokter Adrian. “wowowow, anda tahukan ini Rumah Sakit??” tanya dokter Adrian yang tidak suka melihat Arsa berlarian di lorong koridor. “Maria,,, Maria,,,” kata Arsa yang sepertianya ia sudah kehilangan kata-kata. “kenapa?? ... anda tidak melihat hantu Maria kan??” tanya dokter Adrian sedikit bercanda. “ini bukan hantu. Dia,,, berbicara” kata Arsa. “apa!!” kata dokter Adrian. Mendengar hal ini dokter Adrian dan yang lain langsung berlari menuju ruang ICU. Kabar ini juga langsung terdengar oleh Dokter Kepala. Sesampainya di ruang ICU, mereka langsung melihat hal yang sama yang dilihat oleh Arsa sebelumnya. Maria telah sadar. Dokter Adrian langsung datang dan memeriksa keadaan Maria. “bagaimana keadaan kamu sekarang??” tanya Dokter Adrian setelah ia menyelesaikan pemeriksaan. “keadaanku??” tanya Maria lemah. “iah, yang kamu rasakan. sakit, lemas, kaku,,,” jelas Dokter Adrian. “tidak, aku tidak merasakan apa-apa. Kamu siapa??” tanya Maria. “saya adalah dokter kamu. Yah bisa dibilang yang menyelamatkan nyawa kamu” jawab Dokter Adrian. “lalu aku ada dimana??” tanya Maria lagi. “kamu ada di Rumah Sakit” jawab Dokter. “rumah sakit itu apa??” tanya Maria. “ia tempat dimana semua orang sakit datang dan pulang setelah sehat” terang Dokter Adrian. “ok. Lalu nama kamu siapa??” tanya Dokter Adrian. “nama itu apa??” tanya Maria. Mendengar pertanyaan ini membuat semuanya kaget. Mereka saling bertatapan. Seorang suster bertanya kepada Maria “memangnya kamu tidak ingat siapa kamu? Siapa orang tua kamu? Dan dari mana asal kamu??”. “orangtua itu apa? Dan apa kalian tidak bisa memberitahukan siapa aku?” tanya Maria. Semuanya menjadi sangat panik. Kembali mereka saling berpandangan. Arsa berjalan mendekati Maria dan berkata “nama kamu Maria. Tenanglah, jika kamu tidak bisa mengingatnya, jangan dipaksakan. Mendengar suara kamu saja itu sudah cukup”. “Maria,, apa yang kamu ingat? Apa saja? Apa ada sesuatu yang kamu ingat??” tanya dokter Adrian. “yang aku ingat??... yang aku ingat. Aku mendengar suara-suara” jawab Maria. “suara-suara?” tanya Dokter bingung. “suara menenangkan seperti suara pria itu [Maria menunjuk ke arah Arsa] kemudian aku melihat ada hitam diantara putih. Hanya itu yang aku ingat” jawab Maria. “hitam di antara putih?? Apa itu??” tanya dokter Adrian. “itu mataku!” jawab Arsa di dalam hatinya. Seketika Arsa menjadi panik. Ia takut jika wanita itu mengatakan kalau dirinya telah mencium Maria. Maria tidak menjawab pertanyaan itu, namun terlilhat jelas matanya sangat berat. Sepertinya perbincangan singkat ini telah menguras banyak tenaganya. Hingga ia benar menutup matanya. “Pak Arsa, bisa kita bicara sebentar??” ajak Dokter Adrian yang langsung berjalan keluar ruangan. Tanpa sepatah kata pun Arsa mengikuti langkah Dokter Adrian. Setiba diluar ruang ICU, Dokter Adrian membuka pembicaraan “seperti yang kita lihat, bahwa dia tidak bisa mengingat siapa dirinya. Dugaan sementara saya dapat menyimpulkan kalau dia itu amnesia. Namun untuk memastikannya, kita akan melakukan pengecekan lagi. Dan kali ini pasti hasilnya lebih sempurna, karena pasien telah sadar. Dan yah,, sepertinya Bapak harus lebih serius dalam pembuatan KTPnya”. “KTP??” tanya Arsa bingung. “ia kita tidak tahu apakah ini permanen atau tidak. Yang jelas, mengingat kecelakaan yang dia alami, traumatiknya pasti sangat besar... tapi,,, jika kita melakukannya saya tidak yakin berapa lama kami bisa merawatnya” terang Dokter Adrian. “maksud Dokter apa??” tanya Arsa. “ini masalah sisa dana yang ada” jawab dokter Adrian. Mereka semua  terdiam. “mm,, begini saja. Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Masalah dana itu bukan urusan kalian” jawab Arsa. “mm tapi bukannya dinas sosial tidak memberikan dana dua kali untuk ini??” tanya Dokter Adrian. “gw bilang itu urusan gw” kata Arsa yang mendadak berubah, ia mengatakannya dengan tatapan yang sangat dingin dan menyeramkan. Namun sebenarnya, seperti inilah Arsa yang sebenarnya setelah kematian Maminya. Melihat tatapan itu membuat Dokter Adrian ketakutan dan tanpa sadar tubuhnya gemetar. “pergilah lakukan pekerjaanmu!” kata Arsa tanpa melihat ke arahnya. Dengan tubuh yang masih gemetar, Dokter Adrian langsung berjalan meninggalkan Arsa, dan setelah kekuatannya kembali, ia pun mempercepat langkahnya kembali menuju ruangannya. “haah,,, perasaan apa ini, aku seperti bertemu dengan ajalku” kata Dokter Adrian sambil mengelus dadanya. Seakan tak percaya apa yang baru saja ia rasakan.

semoga kalian menikmati ceritanya ya....
bersambung ke LAST MEMORY, REBORN 4....

Kamis, 01 Desember 2016

LOST MEMORY, REBORN 2

Di Muara Labuh, orangtua Fenny tengah panik mencari anaknya yang sudah berminggu-minggu tidak pulang dan tanpa kabar. Mengingat SMS terakhir yang dikirim Fenny adalah dia akan pergi mengunjungi temannya, membuat pada awalnya mereka tidak begitu panik melihat putri bungsunya itu tidak pulang. Ditambah lagi kabar kecelakaan mobil yang masuk jurang yang mereka dengar membuat mereka juga tidak begitu panik. Namun ini sudah lebih dari 2 minggu, masa perkuliahan akan segera dimulai. Namun putri mereka belum juga pulang. Mereka menghubungi teman2 Fenny, namun tidak ada satu pun dari mereka yang pernah bertemu atau bahkan melihat Fenny selama masa liburan. Kemudian mereka teringat akan berita kecelakaan mobil yang masuk jurang yang menewaskan semua penumpang itu. Kalau dipikir lagi, hari kejadiannya bertepatan dengan hari Fenny ke Padang. Mereka kemudian mengambil inisiatif untuk ke Padang dan mencari rumah sakit yang diberitakan di media.
Sesampainya di rumah sakit tersebut, mereka langsung mencari informasi mengenai putri mereka. Namun informasi yang mereka dapat dari meja resepsionis adalah “maaf pak semua korban kecelakaan mobil itu telah tewas dan telah dijemput oleh keluarganya masing-masing. Dan biasanya pak, buk jika mayat korban kecelakaan dirumah sakit ini kalau dalam kurun waktu tertentu tidak ada orang yang mengaku keluarganya, akan langsung dimakamkan. Biar korban bisa cepat damai dialamnya”. Mendengar hal itu membuat hati orangtua Fenny merasa hancur berkeping-keping. Tubuh mama seperti kehilangan jiwanya sangat lemah dan langsung ambruk. Papa fenny tiada bisa menahan sedihnya atas segala luka dan penyesalan yang mereka rasakan. Tangisannya terdengar begitu keras. Andai saja mereka langsung pergi mencari tahu kebenaran informasi mengenai kecelakaan itu ketika mereka mendengar kabarnya, pasti mereka bisa melihat wajah putri bungsu kesayangan mereka walau untuk terakhir kalinya. Dengan menahan isak-tangisnya, papa bertanya “lalu dimana dimakamkan putri kami?”. “maaf pak itu bukan wewenang kami. Sejujurnya kami tidak tahu kalau soal urusan pemakaman. Itu tanggung jawab pihak asuransi sama pemerintah. Kan mereka yang bertanggung jawab soal dana kecelakaan lalu lintas. Kami hanya memeriksa mayat atau mengobati pasien” jawab perawat tersebut. Dikarenakan terbatasnya uang yang mereka bawa, membuat mereka menghentikan pencarian dan memutuskan untuk kembali ke Muara Labuh. Berat memang untuk memilih keputusan ini dan menerima kenyataan pahit ini. Begitu sampai di Muara labuh, mereka langsung mengadakan ritual kematian sesuai dengan adat tradisi yang ada. Walau mereka tidak tahu pasti kapan kematian Fenny terjadi, namun mereka tetap berniat untuk melalukan ritual kematian mulai dari awal. Yaitu mengaji 3 hari, mengaji 7 hari, mengaji 2 x 7, mengaji 3 x 7, dan terakhir mengaji 100 hari. kabar kematian Fenny yang sangat mengejutkan ini ditambah dengan cara kematiannya yang sangat tragis serta wajah putri mereka yang tidak bisa mereka lihat untuk terakhir kalinya, membuat semua keluarga besar dan seluruh warga desa berduka sekaligus terkejut. Kabar kecelakaan mobil yang jatuh kejurang ini kembali menjadi tapik yang hangat diperbincangkan warga desa.
ÀxÄÅÆØÄxÀ

“waah,,, ganteng banget tuh cowo, tipe gw banget nih” kata perawat diresepsionis yang bertubuh paling tinggi. Mendengar perkataan itu membuat yang lain berusaha menyatukan pandangan ke arah pria ganteng yang dimaksud itu. Dan wallah!!, komentar para gadis yang tengah melihat pria tampan pun mengalir begitu saja dan membuat mereka sangat ceria. “hei lihat pria itu kemari,, pria itu kemari” kata perawat yang memiliki tahi lalat di dekat hidungnya itu. Pria tampan itu berjalan mendekati meja resepsionis. Bibirnya tersenyum tipis dan berkata “saya dari dinas sosial, saya ingin melihat pasien korban kecelakaan itu”. Kedua perawat itu hanya diam terpana. “apa ada yang bisa membantu saya?” tanya pria tampan dari dinas itu sekali lagi. “ha 'ah yah. Bapak sudah menunggu di ruangannya. Lurus dan belok kanan” kata perawat yang berbadan tinggi dengan wajah yang masih terpana. Tanpa banyak berbicara lagi, pria itu langsung berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan perawat tersebut. 
Begitu mengetuk pintu, pintunya langsung terbuka perlahan akibat tekanan ketukannya. “oh silakan masuk. Ada apa ya??” tanya dokter kepala. Pria itu langsung masuk, sesuai arahan dari gimik yang diberikan dokter kepala, pria itu pun langsung duduk. Setelah menyamankan dirinya di kursi sofa yang begitu nyaman, pria itu membuka mulutnya “saya dari dinas sosial. Nama saya Arsa Kenneth Dean. Seperti yang sudah diberitahukan kepada kalian, saya ingin melihat keadaan pasien korban kecelakaan itu”. “wah wah wah, bahkan saya belum memberikan anda minuman. Anda pria yang sangat to the poin ya?” kata dokter kepala. “ya sudah jika kamu sudah tidak sabar, mari ikut saya!” sambung dokter kepala sambil mengangkat pantatnya yang sedari tadi telah nyaman berada di kursinya dan berjalan keluar dari ruangannya. Arsa pun tanpa dikomando langsung mengikuti dokter kepala.
Begitu sampai diruang ICU, dokter kepala langsung meminta berkas pasien tersebut kepada perawat jaga. Kemudian mereka meneruskan perjalanan mereka menuju ruangan pasien korban kecelakaan tersebut. Diluar ruangan, mereka bisa melihat pasien di dalam ICU dari balik kaca. “bagaimana keadaannya dok?” tanya Arsa. “ya keadaannya stabil, tidak membaik dan juga tidak memburuk. Tanda kehidupan selalu terbaca oleh alat medis kami, tapi... yah bapak tahukan jika suatu keadaan dimana sipemilik tubuh tidak menginginkan apa-apa atau bahkan mengingginkan kematian, namun tuhan tidak kunjung memberikannya kematian. Yah, bisa dikatakan seperti itu.” Jelas dokter kepala. “lalu bagaimana kalau kita mencabut semua alat bantunya??” suara itu tiba-tiba muncul dari belakang mereka. Ternyata suara itu berasal dari dokter pria senior yang tadi berbicara dengan suster penjaga. “dokter adrian?” sapa dokter kepala. “dokter kepala?” balas sapa dari dokter yang ternyata diketahui bernama Adrian. “kenapa anda berkata seperti itu?” tanya Arsa bingung cendrung marah. “ia pak. Kita sudah berusaha sangat keras untuk membantunya, tapi dia juga tidak mau membantu dirinya. Intinya bisa dikatakan hanya kita yang memaksanya untuk tetap hidup dengan alat-alat itu. Bukankah akan lebih baik jika kita menuruti keinginannya??” terang dokter Adrian. “jika dia ingin mati, tentunya dia sudah mati dari dulu. Semua orang yang bersamanya didalam mobil yang langsung ditemukan setelah kejadian saja semua telah tewas, tapi dia berada ditengah hutan selama 2 minggu. dan dia masih hidup.” Kata Arsa. “itu yang saya katakan tadi. Tuhan tidak menginginkan kematian atas dirinya” timpal dokter kepala. “tapi pak, selama ini kita tidak menemukan perkembangannya sama sekali. Bahkan lemak ditubuhnya telah mulai menghilang” protes dokter Adrian. “itu pertanda bagus. Jika lemak ditubuhnya mulai berangsur menghilang, berarti tubuhnya juga ikut membantu menyembuhkan dirinya. Yah walau obesitas itu buruk, namun dalam keadaan seperti ini akan sangat membantu untuk penyembuhan pasien” jelas dokter kepala. “iya kalau tidak salah menurut data yang ada, pertama kali mereka menemukannya ia memiliki bobok 89 KG” kata Arsa. “apa saya boleh masuk kedalam??” tambah Arsa. Dihatinya ia sangat penasaran akan wanita di depan matanya. Kenapa dia bisa seberuntung itu? Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawanya seperti yang lainnya? Apakah Tuhan telah menyiapkan rencana yang indah tuk dirinya? Atau Tuhan hanya ingin menunjukkan kuasanya saja? Ataukah Tuhan mengirimnya untuk menguji orang lain? Atau menguji seseorang? Berbagai pertanyaan seketika bermunculan dalam benaknya. Sampai ia berdiri tepat di depan wanita itu. Ia hanya terdiam. Otaknya penuh dengan pikirannya hingga ia tak mendengar apa yang dikatakan oleh dokter kepala dan dokter Adrian. Hingga mereka memutuskan untuk meninggalkan Arsa sendirian di dalam ruangan itu. Matanya menatap lurus kearah kaki wanita itu dan bergerak lurus terus keatas dan berakhir menuju wajahnya. Seketika otaknya menjadi kosong. Tidak ada lagi pertanyaan yang menghujani otaknya. Pikirannya sangat tenang. Walau lebam diwajahnya sudah menghilang, namun bekas luka diwajahnya tetap setia berada disana. Namun itu tidak menjadi masalah bagi pandangannya. Matanya terpaku menatap wajah itu. Ntah kenapa tiada rasa kasihan yang muncul atau perasaan apapun ketika melihatnya. Hanya kosong. Namun membuat matanya tidak beralih pandang. Dia mendekati wanita itu. Meletakkan tangannya di atas kening wanita itu. Ia merasakan dingin di telapak tangannya. Ia kemudian menyentuh lengan wanita itu dan meletakkan jemarinya tepat di urat nadi. “ia benar, terasa sangat pelan dan lembut denyut nadinya” kata Arsa pelan. Kemudian ia kembali menatap wajah wanita itu dan berkata “hei! Aku tidak tahu siapa kamu, tapi apa kamu tidak bosan tidur terus, bangunlah! Sungguh. Aku benar ingin berbicara denganmu. Aku... jika tidak ingin bangun. Jangan membuat semua orang menjadi repot karenamu” dan mengakhirinya dengan senyuman pemberi semangat. Kemudian Arsya keluar dari ruangan itu dan disambut oleh dokter adrian. Mereka kemudian berjalan menuju ruangan dokter kepala untuk membahas tindakan selanjutnya. 
“kamu telah melihat keadaannya kan? Jadi bagaimana keputusanmu pak Arsa??” tanya dokter kepala. “seperti yang sudah dikatakan sebelumnya jika dia tidak memiliki perkembangan, kalian bisa mencabut peralatan itu dari tubuhnya. Lalu beritahukan kepada saya tanggal waktu kematiannya dan lakukan prosedur selanjutnya. Namun jika ada perkembangan lakukan pekerjaan kalian. Soal dana akan diberikan begitu kalian menyerahkan notanya kepada kami” kata Arsa memberi penerangan. “lalu bagaimana menurut dokter Adrian??” tanya dokter kepala lagi. “itu sudah jelaskan pak??” jawab Dokter Adrian mengisaratkan pilihan selanjutnya. Yaitu melepaskan alat bantu penunjang hidupnya dan mengumumkan waktu kematiannya. “lalu kapan akan kalian lakukan??” tanya Arsa. “kita akan memberikan dia kesempatan dua hari lagi. Siapa tahu semuanya akan membaik” kata dokter kepala. “ya sudah dua hari lagi saya akan kembali lagi kesini” kata Arsa yang sesaat kemudian langsung berdiri dan meninggalkan ruangan itu. “pak kenapa bapak masih menundanya pak??” tanya dokter Adrian bingung. “kita hanya dokter. Bukan izrael. Kita hanya melakukan pengobatan dan apa yang kita bisa. Bukan mencabut nyawa seseorang” jawab dokter kepala. “ tapi pak...”kata-katanya terhenti dan “baiklah pak, saya permisi” kemudian dokter Adrian meninggalkan dokter kepala sendirian diruangannya.
Di dalam kamarnya, ketika semua pekerjaan yang harus dilakukannya telah selesai, Arsa membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang sangat luas dan nyaman. Tiba-tiba wajah wanita yang ia temui di rumah sakit itu muncul dalam benaknya. Bahkan ia telah berusaha memikirkan hal lain, namun wajah wanita itu tetap ada dalam pikirannya. Setelah sekian lama melawan pikirannya sendiri, akhirnya ia tertidur setelah mengalah dengan pikirannya. Wanita itu bahkan muncul dalam mimpinya. Wanita itu tidak berkata apa-apa, tidak melakukan apa-apa seperti apa wajah yang ia lihat dirumah sakit, seperti itu pula yang ia lihat dalam mimpinya. Bahkan ketika esok harinya di kantor pun ia masih terbayang wajah wanita itu. Hanya saja kali ini perasaan lain muncul dalam dirinya. Yaitu ingin menemuinya lagi.
Hari yang dimaksud pun tiba. Dua hari setelah hari terakhir ia datang ke rumah sakit. Kali ini mereka langsung bertemu di depan ruang ICU. Karena Arsa telah terlebih dahulu menuju ke ruang ICU dan melihat wanita itu. Posisinya tak bergeming. Sejak tiba ia hanya berdiri dari balik kaca. Matanya pun terpaku ke arah wanita itu. Seakan ia adalah kekasihnya yang sangat ia cintai dan sangat takut kehilangannya. “pak Arsa?” sapa dokter Adrian. Arsa menolehkan wajahnya ke arah suara berasal. Ternyata dokter Adrian tidak datang sendirian. Selain dengan Dokter Kepala, beberapa suster lain pun juga bersama mereka. “bagaimana perkembangannya? Apa kalian sudah membuat keputusan??” tanya Arsa. “rekam medisnya sejak dua hari belakangan ini menunjukkan keadaannya memburuk. Alat vitalnya melemah. Dan laporan dari pemeriksaan yang dilakukan tadi pagi pun menunjukkan keadaannya semakin tidak baik. Bisa dikatakan jantungnya sekarang ini berdetak hanya karena dipompa oleh mesin” jelas dokter Adrian. “lalu bagaimana menurut pak Arsa sendiri?” tanya dokter kepala. “lakukan final test, dan. Apapun keputusan kalian aku akan mengikutinya” jawab Arsa.
Kemudian mereka pun masuk kedalam ruangan ICU dan memeriksa keadaan wanita itu.  Selama hampir satu jam mereka memerika dan melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan nyawanya. Namun yang ada malah sebaliknya mesin pendeteksi kehidupan memberikan gambar garis lurus dengan tekanan jantung nol per nol. Moment ini juga disaksikan oleh mata kepala Arsa sendiri. Mereka pun mengumumkan kematian wanita itu. Dan mereka mulai melepaskan alat medis yang selama ini menunjang kehidupan wanita itu. Ritual terakhir yang selalu dilakukan oleh para dokter rumah sakit ini untuk pasien yang meninggal adalah memberikan doa sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing. Setelah doa selesai dilakukan, satu persatu para dokter dan perawat pun keluar. Kecuali seorang perawat yang sejak pertama wanita itu datang di rumah sakit ini ditugaskan untuk merawatnya. Ia berdiri lama melihat wanita itu polos tanpa alat bantu medis. Terlihat jelas kerutan kulitnya, kulitnya mengering dan pipi wanita itu kini terlihat sangat peot. Mungkin karena selang oksigen yang selama ini ada di mulutnya membuat pipinya terlihat gemuk. Perawat itu tak bisa menahan air matanya. Walau ia hanya merawat mayat hidup, namun sepertinya rasa sayangnya telah tumbuh. “kamu ngapain diam disitu? Cepat bawa dia ke kamar mayat. Sebentar lagi mobil ambulans telah siap” perintah dokter Adrian. “tapi dok. Kita belum melakukan yang terbaik. Dia tidak mungkin pergi begitu saja” jawab perawat itu dengan penuh isak tangis. “kita sudah melakukan segala upaya yang terbaik, dan ini hasilnya. Kamu harus mengiklaskannya. Lagian dia itu kan bukan siapa-siapa kamu” kata dokter Adrian. “dia memang bukan siapa-siapa ku tapi aku tidak tahu kenapa sepertinya aku telah terikat dengannya” perkataan perawat itu membuat Arsa menyadari sesuatu. Ia juga baru pertama kali bertemu dengan wanita itu, tapi sepertinya ia telah terikat oleh wanita itu yang bahkan identitasnya tidak diketahui. “aku percaya. Aku percaya dia disini karena satu alasan. Dan apapun alasannya... itu bukan untuk kematian” sambung perawat itu.
“hei kamu yang waras, dia jelas-jelas sudah mati. Dan jangan buat keributan disini. Ini rumah sakit” kata dokter Adrian yang kemudian langsung membelakangi perawat itu dan pergi meninggalkannya. Perawat itu mencoba menenangkan dirinya, ia melangkah mendekati wanita itu. Menggapai tangannya yang sudah sangat dingin. Dari balik cermin Arsa mengamati semuanya dan karena itu pula membuat dokter Adrian berhenti dan berdiri didekat Arsa. Perawat itu menggenggam erat tangan wanita itu dan berkata “sepertinya hanya aku yang mengharapkan kamu untuk hidup. Apapun yang terjadi, aku tetap.. aku tetap, tidak akan mengucapkan selamat tinggal”.
“Kenapa bapak masih di sini?... ach, perawat itu. Perawat itu sudah ditugaskan untuk mengurus wanita itu sejak pertama kali kami menerimanya. Dia itu perawat magang. Dari kampung. Ya,, mungkin karena di sini ia tidak punya siapa-siapa jadi dia merasa kalau pasien itu adalah kerabatnya. Tidak usah bapak pikirkan. Mari pak, kita ke ruangan Dokter Kepala!” terang dokter Adrian. “oh, benarkah? Ya sudah kalau begitu” jawab Arsa dan mereka kemudian melangkahkan kaki mereka menuju ruangan dokter kepala, namun...
Kemudian perawat itu melepaskan genggaman tangannya dan menarik tangannya. Ia membalikan badannya. Tiba-tiba badannya berhenti membalik. Seperti ada yang menahan tangannya. Ia membalikkan kepalanya dan mendaratkan pandangannya ke arah tangannya. Betapa terkejutnya ia melihat tangannya tengah digenggam erat oleh tangan wanita yang baru saja diumumkan waktu kematiannya. Tanpa berusaha melepaskan genggamannya, perawat itu berteriak memanggil dokter. “DOKTER!!! DOKTER!!! SINI DOKTER!!!”. Teriakan perawat itu membuat dokter Adrian dan Arsa terkejut. Terutama dokter Adrian yang sangat geram akan teriakan itu. Mereka berdua langsung berlari menuju ruang ICU disusul dengan yang lain yang juga mendengar teriakan perawat itu. “KAMU GILA YA, SUDAH SAYA BILANG JANGAN TERIAK-TERIAK!!” kata dokter Adrian yang tak kuasa menahan emosinya. “Dok lihat!” kata perawat itu sambil menunjuk ke arah tangannya. Betapa terkejutnya mereka ketika mereka melihat mayat memegang tangan seseorang. “cepat lakukan pemeriksaan!” perintah Arsa. Perkataan ini langsung membuat dokter Adrian dan beberapa perawat yang kebetulan ada disana bergegas melakukan penanganan medis dan memeriksa keadaanya. Mereka langsung memasang kembali alat-alat medis ke tubuh wanita itu. Setelah semuanya terpasang dengan baik, “dok tekanan darah meningkat menuju normal” kata perawat 1. “suhu tubuhnya tidak stabil dok, tapi menunjukan peningkatan” sela perawat 2. “dia kembali, kakakku kembali” kata perawat yang tadi berdebat dengan dokter Adrian. Arsa melangkah mendekati perawat itu dan berkata “nama kamu siapa?”. “ah? Nama saya Ratih. Ratih pak” jawab perawat itu yang ternyata diketahui bernama Ratih. “kamu, mendatangkan keajaiban. Kamu telah membawanya kembali” kata Arsa.
tak butuh waktu lama, berita ini telah tersebar luas hingga ke Dokter Kepala. “jadi, dia tidak mau matikan??” tanya dokter kepala didepan dokter Adrian, pak Arsa dan beberapa dokter dan perawat lainnya di depan ruang ICU. Arsa hanya menjawabnya dengan senyum simpulnya. Sedang dokter Adrian menjawabnya dengan menunduk malu. “lalu bagaimana selanjutnya pak Arsa?” tanya dokter Kepala lagi. “tentu saja, kami akan mengeluarkan dana untuk pengobatannya” jawab Arsa. “tapi pak, kami tidak tahu kepada siapa dana ini harus diberikan??” tanya Ratih. “ya kepada pasien itulah” jawab dokter Adrian. “pasien itu,,lah. Bukan nama kan??” tanya Ratih lagi. “itu benar. Tanpa identitas kami tidak bisa menerimanya. Terutama dalam berkasnya. Selama ini kami hanya mengisi nama pasien itu dengan Korban Kecelakaan. Dan sepertinya itu tidak pantas bukan. Coba pikirkan jika dia sadar dan melihat namanya sendiri ‘Korban Kecelakaan’ apa yang akan dia katakan?” tanya Dokter kepala. “ia, bukankah ini bukan masalah baru dalam kasus ini. Saya akan membuat identitas baru untuk dirinya” jawab Arsa. “identitas baru?” tanya Ratih bingung. “ ia identitas sementara hingga ia sadar dan memberitahukan identitas aslinya kepada kita semua” jawab Arsa. Perbincangan ini berakhir dengan perginya Arsa meninggalkan rumah sakit dan menuju ke kantornya untuk mengurus semuanya, termasuk identitas sementara untuk pasien itu.
“kamu telah melihat keadaannya kan? Jadi bagaimana keputusanmu pak Arsa??” tanya dokter kepala. “seperti yang sudah dikatakan sebelumnya jika dia tidak memiliki perkembangan, kalian bisa mencabut peralatan itu dari tubuhnya. Lalu beritahukan kepada saya tanggal waktu kematiannya dan lakukan prosedur selanjutnya. Namun jika ada perkembangan lakukan pekerjaan kalian. Soal dana akan diberikan begitu kalian menyerahkan notanya kepada kami” kata Arsa memberi penerangan. “lalu bagaimana menurut dokter Adrian??” tanya dokter kepala lagi. “itu sudah jelaskan pak??” jawab Dokter Adrian mengisaratkan pilihan selanjutnya. Yaitu melepaskan alat bantu penunjang hidupnya dan mengumumkan waktu kematiannya. “lalu kapan akan kalian lakukan??” tanya Arsa. “kita akan memberikan dia kesempatan dua hari lagi. Siapa tahu semuanya akan membaik” kata dokter kepala. “ya sudah dua hari lagi saya akan kembali lagi kesini” kata Arsa yang sesaat kemudian langsung berdiri dan meninggalkan ruangan itu. “pak kenapa bapak masih menundanya pak??” tanya dokter Adrian bingung. “kita hanya dokter. Bukan izrael. Kita hanya melakukan pengobatan dan apa yang kita bisa. Bukan mencabut nyawa seseorang” jawab dokter kepala. “ tapi pak...”kata-katanya terhenti dan “baiklah pak saya permisi” kemudian dokter Adrian meninggalkan dokter kepala sendirian diruangannya.
Di dalam kamarnya, ketika semua pekerjaan yang harus dilakukannya telah selesai, Arsa membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang sangat luas dan nyaman. Tiba-tiba wajah wanita yang ia temui di rumah sakit itu muncul dalam benaknya. Bahkan ia telah berusaha memikirkan hal lain, namun wajah wanita itu tetap ada dalam pikirannya. Setelah sekian lama melawan pikirannya sendiri, akhirnya ia tertidur setelah mengalah dengan pikirannya. Wanita itu bahkan muncul dalam mimpinya. Wanita itu tidak berkata apa-apa, tidak melakukan apa-apa seperti apa wajah yang ia lihat dirumah sakit, seperti itu pula yang ia lihat dalam mimpinya. Bahkan ketika esok harinya di kantor pun ia masih terbayang wajah wanita itu. Hanya saja kali ini perasaan lain muncul dalam dirinya. Yaitu ingin menemuinya lagi.
Hari yang dimaksud pun tiba. Dua hari setelah hari terakhir ia datang ke rumah sakit. Kali ini mereka langsung bertemu di depan ruang ICU. Karena Arsa telah terlebih dahulu menuju ke ruang ICU dan melihat wanita itu. Posisinya tak bergeming. Sejak tiba ia hanya berdiri dari balik kaca. Matanya pun terpaku ke arah wanita itu. Seakan ia adalah kekasihnya yang sangat ia cintai dan sangat takut kehilangannya. “pak Arsa?” sapa dokter Adrian. Arsa menolehkan wajahnya ke arah suara berasal. Ternyata dokter Adrian tidak datang sendirian. Selain dengan Dokter Kepala, beberapa suster lain pun juga bersama mereka. “bagaimana perkembangannya? Apa kalian sudah membuat keputusan??” tanya Arsa. “rekam medisnya sejak dua hari belakangan ini menunjukkan keadaannya memburuk. Alat vitalnya melemah. Dan laporan dari pemeriksaan yang dilakukan tadi pagi pun menunjukkan keadaannya semakin tidak baik. Bisa dikatakan jantungnya sekarang ini berdetak hanya karena dipompa oleh mesin” jelas dokter Adrian. “lalu bagaimana menurut pak Arsa sendiri?” tanya dokter kepala. “lakukan final test, dan. Apapun keputusan kalian aku akan mengikutinya” jawab Arsa.
Kemudian mereka pun masuk kedalam ruangan ICU dan memeriksa keadaan wanita itu.  Selama hampir satu jam mereka memerika dan melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan nyawanya. Namun yang ada malah sebaliknya mesin pendeteksi kehidupan memberikan gambar garis lurus dengan tekanan jantung nol per nol. Moment ini juga disaksikan oleh mata kepala Arsa sendiri. Mereka pun mengumumkan kematian wanita itu. Dan mereka mulai melepaskan alat medis yang selama ini menunjang kehidupan wanita itu. Ritual terakhir yang selalu dilakukan oleh para dokter rumah sakit ini untuk pasien yang meninggal adalah memberikan doa sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing. Setelah doa selesai dilakukan, satu persatu para dokter dan perawat pun keluar. Kecuali seorang perawat yang sejak pertama wanita itu datang di rumah sakit ini ditugaskan untuk merawatnya. Ia berdiri lama melihat wanita itu polos tanpa alat bantu medis. Terlihat jelas kerutan kulitnya, kulitnya mengering dan pipi wanita itu kini terlihat sangat peot. Mungkin karena selang oksigen yang selama ini ada di mulutnya membuat pipinya terlihat gemuk. Perawat itu tak bisa menahan air matanya. Walau ia hanya merawat mayat hidup, namun sepertinya rasa sayangnya telah tumbuh. “kamu ngapain diam disitu? Cepat bawa dia ke kamar mayat. Sebentar lagi mobil ambulans telah siap” perintah dokter Adrian. “tapi dok. Kita belum melakukan yang terbaik. Dia tidak mungkin pergi begitu saja” jawab perawat itu dengan penuh isak tangis. “kita sudah melakukan segala upaya yang terbaik, dan ini hasilnya. Kamu harus mengiklaskannya. Lagian dia itu kan bukan siapa-siapa kamu” kata dokter Adrian. “dia memang bukan siapa-siapa ku tapi aku tidak tahu kenapa sepertinya aku telah terikat dengannya” perkataan perawat itu membuat Arsa menyadari sesuatu. Ia juga baru pertama kali bertemu dengan wanita itu, tapi sepertinya ia telah terikat oleh wanita itu yang bahkan identitasnya tidak diketahui. “aku percaya. Aku percaya dia disini karena satu alasan. Dan apapun alasannya... itu bukan untuk kematian” sambung perawat itu.
“hei kamu yang waras, dia jelas-jelas sudah mati. Dan jangan buat keributan disini. Ini rumah sakit” kata dokter Adrian yang kemudian langsung membelakangi perawat itu dan pergi meninggalkannya. Perawat itu mencoba menenangkan dirinya, ia melangkah mendekati wanita itu. Menggapai tangannya yang sudah sangat dingin. Dari balik cermin Arsa mengamati semuanya dan karena itu pula membuat dokter Adrian berhenti dan berdiri didekat Arsa. Perawat itu menggenggam erat tangan wanita itu dan berkata “sepertinya hanya aku yang mengharapkan kamu untuk hidup. Apapun yang terjadi, aku tetap.. aku tetap, tidak akan mengucapkan selamat tinggal”. “kenapa bapak masih di sini?... ach, perawat itu. Perawat itu sudah ditugaskan untuk mengurus wanita itu sejak pertama kali kami menerimanya. Dia itu perawat magang. Dari kampung. Ya,, mungkin karena di sini ia tidak punya siapa-siapa jadi dia merasa kalau pasien itu adalah kerabatnya. Tidak usah bapak pikirkan. Mari pak, kita ke ruangan Dokter Kepala!” terang dokter Adrian. “oh, benarkah? Ya sudah kalau begitu” jawab Arsa dan mereka kemudian melangkahkan kaki mereka menuju ruangan dokter kepala, namun...
Kemudian perawat itu melepaskan genggaman tangannya dan menarik tangannya. Ia membalikan badannya. Tiba-tiba badannya berhenti membalik. Seperti ada yang menahan tangannya. Ia membalikkan kepalanya dan mendaratkan pandangannya ke arah tangannya. Betapa terkejutnya ia melihat tangannya tengah digenggam erat oleh tangan wanita yang baru saja diumumkan waktu kematiannya. Tanpa berusaha melepaskan genggamannya, perawat itu berteriak memanggil dokter. “DOKTER!!! DOKTER!!! SINI DOKTER!!!”. Teriakan perawat itu membuat dokter Adrian dan Arsa terkejut. Terutama dokter Adrian yang sangat geram akan teriakan itu. Mereka berdua langsung berlari menuju ruang ICU disusul dengan yang lain yang juga mendengar teriakan perawat itu. “KAMU GILA YA, SUDAH SAYA BILANG JANGAN TERIAK-TERIAK!!” kata dokter Adrian yang tak kuasa menahan emosinya. “Dok lihat!” kata perawat itu sambil menunjuk ke arah tangannya. Betapa terkejutnya mereka ketika mereka melihat mayat memegang tangan seseorang. “cepat lakukan pemeriksaan!” perintah Arsa. Perkataan ini langsung membuat dokter Adrian dan beberapa perawat yang kebetulan ada disana bergegas melakukan penanganan medis dan memeriksa keadaanya. Mereka langsung memasang kembali alat-alat medis ke tubuh wanita itu. Setelah semuanya terpasang dengan baik, “dok tekanan darah meningkat menuju normal” kata perawat 1. “suhu tubuhnya tidak stabil dok, tapi menunjukan peningkatan” sela perawat 2. “dia kembali, kakakku kembali” kata perawat yang tadi berdebat dengan dokter Adrian. Arsa melangkah mendekati perawat itu dan berkata “nama kamu siapa?”. “ah? Nama saya Ratih. Ratih pak” jawab perawat itu yang ternyata diketahui bernama Ratih. “kamu, mendatangkan keajaiban. Kamu telah membawanya kembali” kata Arsa.
tak butuh waktu lama, berita ini telah tersebar luas hingga ke Dokter Kepala. “jadi, dia tidak mau matikan??” tanya dokter kepala didepan dokter Adrian, pak Arsa dan beberapa dokter dan perawat lainnya di depan ruang ICU. Arsa hanya menjawabnya dengan senyum simpulnya. Sedang dokter Adrian menjawabnya dengan menunduk malu. “lalu bagaimana selanjutnya pak Arsa?” tanya dokter Kepala lagi. “tentu saja, kami akan mengeluarkan dana untuk pengobatannya” jawab Arsa. “tapi pak, kami tidak tahu kepada siapa dana ini harus diberikan??” tanya Ratih. “ya kepada pasien itulah” jawab dokter Adrian. “pasien itu,,lah. Bukan nama kan??” tanya Ratih lagi. “itu benar. Tanpa identitas kami tidak bisa menerimanya. Terutama dalam berkasnya. Selama ini kami hanya mengisi nama pasien itu dengan Korban Kecelakaan. Dan sepertinya itu tidak pantas bukan. Coba pikirkan jika dia sadar dan melihat namanya sendiri ‘Korban Kecelakaan’ apa yang akan dia katakan?” tanya Dokter kepala. “ia, bukankah ini bukan masalah baru dalam kasus ini. Saya akan membuat identitas baru untuk dirinya” jawab Arsa. “identitas baru?” tanya Ratih bingung. “ ia identitas sementara hingga ia sadar dan memberitahukan identitas aslinya kepada kita semua” jawab Arsa. Perbincangan ini berakhir dengan perginya Arsa meninggalkan rumah sakit dan menuju ke kantornya untuk mengurus semuanya, termasuk identitas sementara untuk pasien itu.
Sesampainya di kantor, Arsa langsung bergegas menyelesaikan tugasnya. Terakhir adalah membuat identitas sementara untuk wanita anti maut itu. Pikir Arsa. Ketika matanya menuju tulisan nama, ia termenung memikirkan nama apa yang cocok itu wanita itu. Kemudian ia memikirkan sebuah nama. Nama yang sangat cocok dengan perjuangannya melawan maut ‘Maria’. Nama itu yang terpikirkan olehnya. Ia mengingat perjuangan Bunda Maria dalam melahirkan Tuhan Yesus. Nama itu begitu saja ia tulis dalam kolom nama. ‘Maria Zilvania’ yaitu Maria hadiah dari Tuhan berupa perempuan yang bermartabat. Kemudian tanggal dan tempat lahir adalah di jakarta, 8 September tahun 1996. Dan beragama Kristen. Sama dengan Arsa. Semua data telah selesai dibuat, tinggal menunggu persetujuan, maka dana pun langsung keluar. Untuk mempercepat transaksi, seharusnya Arsa mengirimkan berkas itu melalui seseorang detik ini juga. Namun ia malah membiarkan berkas itu berada di atas mejanya hingga jam kerjanya usai. Diambilnya tasnya dan dimasukannya berkas wanita yang kini ia namai dengan Maria Zilvania itu. Kemudian ia melangkahkan kaki ke tempat parkir. Kakinya langsung menuju kesebuah mobil BMW mini berwarna biru tua gelap. Di bukanya pintu mobilnya, dan dihempaskannya pantatnya ke jok mobil yang sangat empuk itu. Di hidupkannya mobil mewah itu dan ia lajukan mobil itu menuju ke rumah sakit. 

BERSAMBUNG....
nantikan next LOST MEMORY, REBORN ya....!? ^,^

Sabtu, 12 November 2016

LOST MEMORY. REBORN

Seorang ibu tiba-tiba masuk kedalam kamar anaknya “Ya Allah... Fenny. Jam segini kamu masih belum tidur. Bukannya belajar malah nonton Naruto. Naruto ka naruto. Mau jadi apa kamu nanti nak, kalo begini terus kapan berubahnya nasib kita ini nak. Diinjek orang mulu, jadi orang susah teruslah” mamanya Fenny tengah memarahi Fenny putri bungsunya yang berusia 24 tahun itu namun masih kuliah semester 3 jurusan Akuntansi di salah satu PTN kenamaan. “ya ampun ma,,, baru jam dua gitu amat mah. lagian libur pun” ketus Fenny. “baru kamu bilang!, ini loh jam dua malam. Bentar lagi matahari mau terbit” sambung mama. Merasa dirinya takkan bisa menang melawan mamanya, Fenny dengan lembut dan tersenyum manis berkata “ia ma... ini udah selesai kok”. “baju untuk di bawa besok udah siap, perlengkapan yang penting2 udah dimasukin ke tas? Awas jangan sampe lupa besok bisa berabe loh” ingat mama. “ya elah ma. Aku loh Cuma mau daftar ulang. Bukan mau kuliah. Satu hari pun semuanya kelar kok. Yang penting duit nya dibawa. Hehehe” jawab Fenny dengan gurau. “ya udah bobok sana, besok kamu harus bangun pagi kan?” kata mama kemudian pergi meninggalkan Fenny sendirian di dalam kamarnya. Kemudian fenny mematikan laptopnya, mematikan lampu kamarnya dan tidur. Karena esok hari ia harus pergi ke Padang untuk mendaftar ulang buat semester 4.
Sekarang Fenny tinggal di muara labuh bersama orangtuanya. Setiap libur kuliah, Fenny selalu pulang ke Muara Labuh. “Fenny cepat bangun, mandi gih nanti ditinggalin mobil loh” terdengar suara mama yang membangunkan tidurnya. Fenny langsung berdiri, mengambil peralatan mandinya, dan baju gantinya kemudian keluar dari kamarnya. Ketika tengah berjalan menuju ke kamar mandi, mama bertanya “fenny kamu mau dibuatin sarapan gak?”. “gak usah mah, tapi kalau maksa gak nolak kok” jawab Fenny dengan nada serius. Kemudian Fenny masuk ke dalam kamar mandi dan mandi. Beberapa menit kemudian ia telah selesai mandi. Ia pun berlalu menuju kamarnya. Memakai pakaian, make up, dan hijab. Setelah selesai dengan dirinya, ia pun berjalan keluar kamarnya. “ini nasi gorengnya udah siap makan dulu gih, apa perlu mama ambilin kipas angin biar cepat dingin?” kata mama begitu melihat putri bungsunya keluar dari kamarnya. Tanpa berkata apapun Fenny langsung mengambil nasi goreng itu dan memakannya. “gimana mau diambilin kipas angin gak itu baru masak banget loh” tanya mama lagi. Tak lama setelah itu terdengar suara Fenny menjerit. “hah! Kenapa? Panas kan? Udah dari tadi dibilang mau diambilin kipas apa enggak kamunya malah diem aja” kata mama yang terlihat begitu panik. “hahaha... aku becanda kok” kata Fenny. “iiich nih anak suka banget ngerjain orangtua kualat loh” kata mama ngambek. “iiii nih mama. Ntar kalo nggak aku kerjain malah mamanya lagi yang kangen ku kerjain. Hehehe” ejek Fenny. “dikerjain kok kangen dasar anak ini” kata mama dengan nada lebih pelan namun masih terdengar jelas oleh Fenny.
Tak berapa lama setelah Fenny menghabiskan sarapannya, suara adzan subuh pun berkumandang. Terdengar suara mama dari dalam kamar mandi “Fenny tadi waktu mandi kamu langsung wudhu kan? Cepet gih sholatnya ntar ditinggalin mobil loh”. “ia mah” jawab Fenny sedikit berteriak sambil ia mengenakan mukenanya. Begitu adzan selesai dikumandangkan, Fenny pun langsung menyegerakan sholatnya. Ternyata benar, begitu ia selesai membereskan mukenanya, mobil langganannya pun datang. Setelah mencium tangan kedua orangtuanya, yaitu ritual wajib yang selalu dilakukan keluarga ini ketika ada yang hendak berpergian, fenny pun masuk kedalam mobil. Kurang lebih tiga setengah jam kemudian Fenny telah tiba di Padang. Semua rencananya hari ini berjalan mulus tanpa hambatan dan selesai lebih cepat. Untuk menghabiskan waktu, Fenny pergi kesebuah moll kenamaan di Padang. Beberapa jam kemudian, Fenny memutuskan untuk pulang kembali ke Muara Labuh. Karena hari sudah senja, Fenny memutuskan untuk pulang menggunakan Travel. Butuh dua jam untuk bermenung diterminal sampai mobil penuh penumpang. Dikarnakan Fenny pelanggan tetap agen travel  ini, mereka memberikan Fenny kursi tepat dibelakang sopir. Karena hanya diposisi ini Fenny tidak akan mabuk.
Setelah penumpang penuh, pak sopir pun muncul kepermukaan dan memasuki mobilnya. Sejurus kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil dalam keadaan normal pertama dihidupkan. Baru beberapa menit mobil melaju, pak supir mengarahkan mobilnya ke pom bensin. Mengisi bensinya full tank dan kembali melanjutkan perlajanan. Sepertinya dia bukan pak supir idola Fenny. Karena ia melaju dengan sangat cepat. Mual rasanya ingin muntah, padahal baru seperempat jalan. Tapi senja yang menjadi begitu gelap karena hujan lebat inilah yang membuat diriku ketakutan. Aku takut mobil yang aku tumpangi tergelincir dan... “aaaaa,,,” suara teriakan yang mendadak keluar dengan begitu histeris. Yang Fenny rasakan adalah tiba-tiba dia seperti mengambang ke atas. Jelas sekali itu terasa diperutnya. Dan seketika terasa berat kebawah dan tubuhnya terbentur begitu keras ke kursi. Kemudian terbentur kesana kemari. Sekali waktu tubuhnya membentur pintu dengan sangat keras hingga membuat dirinya terpental keluar dari mobil beserta pintunya. Hal ini dikarenakan bobot Fenny yang mencapai hampir 90 KG. Mobil yang tergelincir dan jatuh kejurang ini berulang kali berputar hingga membuat mobilnya penyok tak berbentuk. Sedang Fenny yang terbang bersama pintu, jatuh terpental jauh dan mendarat di atas pohon, kemudian turun kedahan di bawahnya, dan seterusnya hingga berada dibeberapa dahan terakhir. Yang membuat posisinya terbalik Fenny jatuh terlebih dahulu dan disusul dengan pintu mobil yang kali ini sukses membuat kepalanya yang terbentur berkali-kali jadi mengeluarkan darah yang sangat banyak. Hujan deras membuat darahnya mengalir ketempat yang sangat jauh dari tubuhnya berada.
Hujan yang lebat membuat evakuasi kecelakaan ditunda hingga esok pagi. Keesokkan harinya tim evakuasi datang, mereka mendapati semuanya telah menjadi mayat yang penuh dengan luka dan lebam. Keadaan mobil yang penyok membuat tim evakuasi mengalami sedikit kesulitan untuk mengevakuasi beberapa korban. Namun ada kejanggalan dengan mobil ini. Meraka mendapati mobil ini tidak memiliki pintu. Dilihat dari engsel pintu mobil, terlihat jelas kalau pintu ini lepas secara paksa ketika mobil ini ringsek ke jurang. Namun mereka memprioritaskan penumpang. Setelah semua penumpang berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Mereka langsung menggiring mobil keluar dari jurang tersebut.

Pihak agen travel di panggil mengenai identitas korban. Setelah agen travel melihat semua korban, ia berkata “pak masih kurang satu pak”. “kurang satu? Ini semua yang ada di dalam mobil” jawab petugas. “ia tapi mobil ini juga membawa penumpang seorang wanita bertubuh gemuk, mmm sangat gemuk malah dan dia duduk dibelakang supir” terang agen travel. “tidak mungkin,, tunggu pintu mobil!” kata petugas itu mengingat sesuatu. “pintu mobil?”
tanya agen travel bingung. “ia pertama kami tiba disana, kami tidak melihat pintu kanan mobil bagian belakang. Atau tepatnya belakang supir. Dan yah sepertinya ada kursi kosong yang tersisa. Tapi kami tidak menemukan apapun. Oh ia tolong sebarkan informasi kepada saudara korban untuk menjemput mereka kemari dan mengurus berkas2nya” perintah petugas itu yang kemudian langsung berlari keluar kamar mayat seperti telah menemukan sesuatu.
Petugas itu menelpon temannya, ia bertanya apakah mereka telah menemukan pintu mobil yang hilang itu? Dan ia juga menyuruh mereka untuk mencari mayat seorang wanita bertubuh gemuk yang kemungkinan letaknya tidak jauh dari pintu mobil itu. Begitu perintah tersebar, seluruh petugas mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari mayat seorang wanita bertubuh tambun itu dan sebuah pintu mobil. Satu hari telah berlalu sejak evakuasi dimulai. Dua hari, tiga hari, tapi mereka juga belum menemukan mayat atau pun pintu mobil. Bahkan setelah seluruh mayat di kamar mayat telah dijemput keluarga mereka, mayat wanita bertubuh tambun itu pun masih belum ditemukan. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mencarinya secara acak dan memperluas area pencarian. Dalam dua hari setelah metode ini digunakan, mereka telah menemukan pintu mobil yang cocok dengan mobil penyok itu. Lokasinya sekitar 500 meter dari mobil jatuh. Penemuan ini membuat semangat mereka semakin membara untuk mencari mayat seorang wanita tambun. Disela pencarian “ech bang ini bener2 aneh dech, kita kan udah ngehabisin waktu hampir 2 minggu buat ngelakuin pencarian mayat, tapi kok kita gak dapet clue apa-apa sih?” tanya petugas 1. “ia biasanya ya kalo mayat yang lebih dari 3 hari aja itu baunya bener bener bikin perut loyo kan?” timpal petugas 2. “apa jangan-jangan dia itu sebenarnya belum mati bang, trus ada warga yang menyelamatkan cewe itu bang” tambah petugas 1. “jangna ngaco lu, kalo pun itu bener pasti orang itu udah ngasih tau ke kita informasinya. Kan berita ini udah bener-bener gempar” timpal petugas 2 lagi. “ato jangan-jangan dia itu dimakan hantu atau penghuni hutan ini bang??” tanya petugas satu lagi. “wah parah lu. Bener bener ngaco lu udah ach tutup mulut lu trus cari mayatnya” perintah petugas 2. “tapi bang gimana lu bisa ngejelasin soal pintu yang melayang jauh itu, kalau bukan hantu atau penghuni hutan ini yang ngelakuinnya, siapa lagi coba? Bisa ajakan dia datang trus ngebuka paksa tu pintu dan mengambil wanita itu. Trus dijadiin makan malam mereka bang?” kata petugas 1 yang mulai ketakutan. “ya dan bentar lagi kalau lu gak mau ngenutup mulut lu, elu yang gw jadiin makan malam” kata petugas 2. Dan kemudian mereka melanjutkan pencarian.
“oooi di sini woi,, gw nemuin darah  woi,,,” terdengar suara teriakan yang lokasinya tidak begitu jauh dari lokasi ditemukannya pintu mobil tersebut. Mendengar teriakan ini membuat seluruh petugas berlari menuju arah suara itu. Salah satu dari mereka ada yang berlali terlalu cepat hingga membuat ia terjatuh. Ia langsung duduk dan berbalik arah, merasa penasaran kenapa ia jatuh. Ternyata ia melihat sebuah betis. Ia terdiam sejenak meredam rasa takut sekaligus kaget. Tak lama ia berteriak “wooi,, mayatnya disini...”. semua orang langsung berlari ketempat itu. Membersihkan mayat itu. Dan ternyata benar mayat seorang wanita bertubuh tambun ditemukan. Ia mengenakan hijab berwarna merah darah bermotif. Petugas langsung membawanya ke rumah sakit untuk melakukan otopsi.
Lagi, agen travel dipanggil untuk memastikan kebenaran korban adalah penumpang travel. Walau mukanya banyak lebab dan sedikit berubah, namun pakaian yang dikenakan korban sangat unik seperti baju buatan sendiri yang sangat mudah untuk dikenali. Hal ini membenarkan kalau mayat wanita bertubuh tambun itu adalah penumpang mobil tersebut. Setelah dikonfirmasi kebenarannya, pihak rumah sakit langsung melakukan otopsi. Betapa terkejutnya dokter yang melakukan otopsi ketika ia samar samar merasakan adanya hembusan dari hidung mayat wanita bertubuh tambun. Kali ini pemeriksaan agak berbeda. Mereka memeriksa detak jantung, tekanan darah, dan serangkaian tes lainnya. Ternyata didapati bahwa itu bukan mayat. Ia masih hidup. Pihak rumah sakit langsung menghubungi pihak Jasa Raharja. Untuk penanganan selanjutnya. Disamping itu, pihak rumah sakit juga telah memasukan foto wajah wanita bertubuh tambun itu ke media. Namun tidak ada yang datang untuk memberi tanggapan. Keterangan yang didapati dari pihak supir travel pun tidak ada yang mengetahui secara pasti identitas wanita bertubuh tambun itu. Dari foto yang di pos media memang tidak begitu jelas wajahnya seperti apa karena luka lebam yang ada disekujur wajah dan tubuhnya hingga merubah bentuk wajahnya.
Karena tidak adanya orang yang datang meng-klaim keluarga atau wali, proses asuransi menjadi terkendala. Dengan beberapa alasan pihak rumah sakit memindahkan korban ke rumah sakit lain yang katanya lebih besar dengan fasilitas yang lengkap. Namun begitu pihak rumah sakit tujuan mengetahui kalau asuransinya belum di proses dan tidak ada penanggung jawabnya, mereka hanya menerimanya beberapa hari lalu memindahkannya lagi. Begitu seterusnya hingga keputusan dibuat, kalau korban akan menjadi milik negara dan diasuh dan dirawat oleh negara hingga korban sembuh seperti sedia kala. Tak lama dana asuransi pun cair. Penanganan dan pengobatan berjalan dengan lancar.
Dua bulan kemudian, pihak rumah sakit mengeluarkan nota administrasi yang menyatakan berapa total yang harus dibayarkan. Ternyata jumlah tersebut telah mencapai limit dana ketentuan asuransi. Namun keadaan korban tidak membaik maupun memburuk. Dia seperti mayat hidup. Akhirnya pihak asuransi dan rumah sakit bersepakat untuk meminta petunjuk dan bantuan kepada pemerintah melalui dinas sosial. Tak lama surat balasan pun datang, mereka pun menyetujui untuk pemberian dana pengobatan korban. Namun dana hanya diberikan unutk kurun waktu 3 bulan kedepan saja. Dan pihak pemerintah harus melakukan pengecekan dan kontrol keadaan korban. Jika ada harapan untuk sembuh bantuan akan tetap diberikan, namun jika kemungkinan untuk sembuh tipis cendrung tidak ada, maka bantuan akan diberhentikan dan pihak rumah sakit dipersilahkan untuk menyatakan waktu kematian dan penguburan korban dengan selayaknya. Setelah didapati persetujuan dana, pemerintah mengirim seorang petugas untuk mengontrol keadaannya.
Seorang suster yang berada di meja resepsionis berteriak memanggil seorang dokter senior pria yang kebetulan lewat di depannya. Dokter itu pun berjalan mendekati suster. “ada apa?” tanya dokter begitu mendekati meja resepsionis. “pak tadi ada telephon dari dinas sosial, katanya mereka akan datang kesini untuk melihat korban kecelakaan itu, katanya mereka juga membawa berkas dan dana untuk pembayaran biaya perawatan selanjutnya” terang suster. “ooh, hemm, enak banget yah tu orang, duit banyak begitu aja mengalir ke dia” kata dokter. “ia tapi percuma aja pak kalo punya duit banyak tapi kayak mayat hidup gitu. Saya aja kalo ngecek tensinya susah banget ngedengerin denyut nadinya.” Kata suster. “hehe, ia nanti kalo orang dinas itu datang saya akan mencoba untuk mengajukan penghentian dana” kata dokter. “penghentian dana? Kan mereka udah repot2 mengurus semuanya pak, kok dananya mau dihentikan?” tanya suster bingung. “ia habis mau gimana lagi, selama 2 bulan dirawat disini, dia sama sekali tidak menunjukkan perkembangan. Bahkan sering menunjukan kemunduran. Trus buat apa kita mempertahankannya untuk hidup?? Lagian dia juga tidak memiliki keluarga yang mengharapkannya untuk hidup” kata dokter sambil berlalu meninggalkan meja resepsionis. “masa ada orang yang gak punya keluarga sih. Dia pasti punya keluarga yang menyayangi dia, tapi hanya saja mereka tidak disini dan bahkan mungkin sekarang kelurganya juga tengah panik mencari dirinya” pikir suster itu.



BERSAMBUNG