Begitu sampai di rumah sakit, ia langsung memberikan
berkas identitas sementara itu ke perawat di resepsionis. Arsa bertanya “apa
saya boleh melihat Maria??”. “Maria siapa pak?” tanya Ratih yang kebetulan
tengah duduk di sana. “wanita yang kamu ajak kembali itu, wanita korban
kecelakaan” jawab Arsa. “bapak sudah membuat identitas sementaranya?” tanya
Ratih. “ia namanya mulai hari ini Maria. Data selengkapnya ada dalam berkas
itu. Jadi saya boleh melihat Maria kan?” tanya Arsa. “ia pak” jawab perawat
yang berjaga di resepsionis. “tapi pak, ia telah dipindahkan ke ruang
perawatan” kata Ratih mencegah langkah Arsa. “dipindahkan?” tanya Arsa yang
akhirnya mengurungkan langkahnya untuk pergi ke ruangan ICU, karena hanya ruangan itu
yang ia tahu wanita itu berada. “ia, karena keadaannya semakin membaik, jadi dokter
memutuskan untuk memindahkannya keruangan perawatan. Ia sudah tidak perlu lagi
di ruang ICU pak” terang Ratih. “kalau begitu apa kamu mau mengantarkan saya?”
pinta Arsa. “baik pak” jawab Ratih yang kemudian langsung berdiri dan
melangkahkan kakinya ke ruangan yang dimaksud disusul dengan Arsa yang berjalan
tepat di sampingnya.
Ternyata Maria diletakkan di ruang kelas 3. Dimana dalam
satu ruangan terdapat 8 kasur dan kebetulan diruangan ini hanya ada 5 orang
termasuk Maria. Begitu mereka berada tepat di dekat ranjang Maria, Arsa pun
berkata “pergilah!”. Tanpa banyak bicara ratih pun melangkah mundur
meninggalkan Pak Arsa. Arsa melangkahkan kakinya menuju sisi kanan Maria,
menghadap dinding dan membelakangi pasien lainnya. Ranjang Maria berada paling
ujung dari ruangan ini. Matanya melihat sebuah kursi plastik yang berada di
samping lemari. Di ulurkan tangannya menggapai kursi plastik tersebut, kemudian
ia meletakkannya di tengah antara ranjang Maria dan ranjang kosong di
sebelahnya. Dihempaskan pantatnya diatas kursi tersebut. Arsa kembali mematung.
Matanya tak berkedip memandang wanita yang ia namai Maria itu. Pikirannya
berkata “dilihat dari mana pun tidak ada yang menarik dari dirinya, fisiknya...
mungkin yang terburuk dari semua wanita yang pernah mendekatiku. Mengingat seperti
apa ia dulu dengan 89 kg lemak ditubuhnya itu. Dan sekarang, setelah selang
pernapasannya dicabut. Ia seperti nenek-nenek peot. Tidak,,, apa yang aku
pikirkan. Dia baru saja selamat dari maut dan sekarang aku harus memikirkan ini
di depannya. Tidak,, tapi kenapa dia terus menarikku? Aah,, mungkin karna
wajahnya? Tidak. Wajahnya tidak cantik sama sekali, lebamnya bahkan masih ada
dan bekas lukanya juga masih jelas, tidak mungkin itu yang membuatku tertarik padanya”
kemudian Arsa menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya dengan kuat hingga
membuat wajahnya menunduk. Ia berkata “haa,,, I have no ide. Hei kau tahu? Aku
benar-benar tidak tahu siapa dirimu dan bagaimana kamu bisa menangkapku seperti
ini. Tapi apa kau tahu? Aku telah memberikanmu sesuatu yang tidak semua orang
bisa memberikannya. Nama. Aku memberikan mu nama. Sebuah nama yang sangat
indah. Dengar baik-baik, nama mu adalah” kemudian Arsa mendekatkan mulutnya
ketelinga wanita itu dan mengatakan namanya dengan sangat lembut “Maria, Maria
Zilvania. Karena kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan seorang wanita
bermartabat untukku”. Mendengar dirinya mengucapkan kata “untukku” membuat
dirinya terkejut dan di dalam hati ia berkata “untukku?? Apa yang baru saja ku
katakan?? Kenapa aku mengatakan untukku??apa aku sudah gila? Sejak kapan aku
mengatakan ini kepada seorang wanita?? Tunggu! Apa benar aku memilih nama ini
dengan tujuan seperti ini? Tidak. begitu ia sadar ia pasti akan mengatakan
namanya. Tunggu bagaimana jika ia mendengar apa yang aku katakan? Tidak,,
tidak,, dia itukan lagi pingsan. Tapi ada kemungkinan juga kan kalau ia bisa
mendengarku? Haaa,,, mati aku . tunggu tadi aku berbisikkan? tidak ada yang
mendengarkanku kan??” Arsa melihat sekeliling mengamati apa ada orang lain yang
melihatnya dan menyadari apa yang ia katakan. Namun di ruangan sebesar ini
hanya ada 4 pasien tanpa wali. Yang artinya MEREKA TIDAK MENGHIRAUKANMU.
“hufh,,, sukurlah. Tunggu sejak kapan aku seperti ini?” dirinya terdiam
sejenak, dipandanginya wajah wanita yang ia namai Maria itu, kemudian ia
tersenyum manis. “kamu pasti seorang penyihir, yang merubahku seperti ini.
Merubahku menjadi bukan diriku sendiri.” Pikir Arsa. Kemudian ia berdiri, di
dekatinya wajah Maria. Tangannya yang sedari tadi diam, mengayun menuju wajah Maria
hingga mendarat lembut di pipinya. Ia tersenyum sangat lebar seolah mengatakan
“aku akan kembali, semangat!!”. Arsa pun pergi meninggalkan Maria sendiri
terbaring di ranjangnya.
Sejak hari itu, Arsa selalu datang mengunjungi Maria.
Setiap jam kerjanya usai, ia selalu menyempatkan diri untuk menemui Maria.
Walau ia sangat sadar Maria tidak akan pernah menjawab pertanyaannya, namun
Arsa selalu mengajaknya berbicara. Tak jarang Arsa datang membawa buku dan
dengan sengaja membacanya dengan suara lebih keras bermaksud untuk
membacakannya untuk Maria. Perkembangan Maria jauh lebih membaik walau masih
tidak ada respon apapun dari Maria ketika ia di ajak bicara. Dokter dan
beberapa suster melihat Arsa yang terlalu perhatian sebagai orang dari Dinas
Sosial hanya senyam-senyum melihatnya dari kejauhan, karena hal ini memang
memberikan dampak positif bagi Maria sendiri. Disisi lain, bagi Arsa selalu
bersama Maria membuat dirinya menemukan dirinya yang lain. Dirinya yang selalu
tersenyum, dirinya yang merasa nyaman dan damai, dirinya yang bisa meluapkan
isi hatinya sendiri tanpa ragu dan beban. Entah mengapa Arsa dapat mencurahkan
seluruh isi hatinya begitu saja kepada Maria. Seorang wanita yang selalu
tertidur dihadapannya. Ntah mungkin karena ia tertidur dan tanpa respon kah
yang membuat dirinya sangat nyaman membagi segalanya kepada Maria, ntahlah, ia
pun tidak tahu.
Di sudut ruangan perawat, beberapa perawat wanita
berkumpul dan berbincang. “kalian tahu Maria Zilvania pasien yang ada dikamar
melati paling ujung itu gak?” tanya perawat 1 yang tengah duduk menghadap meja
komputer. “di rumah sakit ini siapa sih yang gak tahu dia. Mayat hidup yang
punya nasib sangat beruntung” jawab perawat 2 seseorang yang terlihat seperti
ketua diantara mereka. “ia. Biaya pengobatannya dibayarin pemerintah, selain
itu ntah dari mana datangnya kok bisa ya ada orang dinas sosial seganteng itu.
Huft,,, andai aja semua orang dinas sosial seganteng itu, pasti semua orang
berharap ditimpa musibah biar didatengin pria tampan terus” timpal perawat 3
yang sedari tadi tengah asik mengunyah makanan siangnya. “trus semua orang akan
berharap sakit jika semua dokter dan perawat itu tampan, gitu?” tanya perawat 2
dengan nada sedikit sewot. “tapi ya, kalau emang dia itu Cuma orang dari dinas
sosial, bukannya dia Cuma datang kalau pihak kita nelpon mereka ya? Tapi ini
setiap hari dia disini. Mmm,,, udah kayak suaminya gitu” kata perawat 1
berpendapat. “masak sih? Bukannya dia itu wanita tanpa identitas dan keluarga
ya??” tanya perawat 3 bingung. “itu Cuma sindiran kali” terang perawat 1. “tapi
kalau dipikir-pikir lagi aneh juga sih, kita semua gak tahu identitasnya, apa
lagi orang dinas itu. Tapi perlakuan dia, perhatian yang dia berikan, kayaknya
itu terlalu berlebihankan untuk seorang dinas sosial? Apa mungkin dia suka,
sama mayat hidup itu?” tanya perawat 2. “ia juga sih. Pasien-pasien yang satu
ruangan dengannya juga berpendapat yang sama loh. Tapi kalau dipikir lagi ya,
gimana caranya sih orang dinas itu bisa suka sama mayat hidup itu? Sedang kita
aja ya, yang tiap hari mandi 2x sehari, selalu pakai make up, pake parfum,
selalu modis, selalu bersikap baik, masih aja sulit untuk buat seseorang
terpikat dengan kita. Mayat hidup itu, namanya aja mayat. Cuma tidur aja.
Sifatnya gak tahu. Suaranya aja ntah seperti apa kita semua juga gak tahu.”
Kata perawat 1. “ach tapi kalau aku gak peduli orang itu seperti apa dan
bagaimana. Kalau dia itu bisa buat aku nyaman, bisa buat aku selalu ngemikirin
dia, itu udah cukup kok buat aku suka dan jatuh cinta sama dia” kata perawat 3.
“ia makanya cowok kamu itu jelek” sindir perawat 2.
Suatu hari saluran TV nasional memberitakan bahwa telah
terjadi letusan abu fulkanik di Gunung Sinabung dan Dinas Sosial menunjuk Arsa untuk ditugaskan pergi sebagai
perwakilan dari Dinas Sosial pusat serta memberikan dana bantuan kepada para
korban abu fulkanik di Medan, Sumatera Utara. Perjalanan dinas ini membutuhkan
waktu kurang lebih 10-14 hari. karena Arsa harus memeriksa seluruhnya, baik
korban, kerugian, penyakit yang diderita dan obat apa yang harus dilengkapi,
serta keperluan lain untuk para pengungsi. Tentu saja karena hal ini, Arsa
tidak pernah lagi datang menjenguk Maria. Dan seperti biasanya budaya tukang
gosip, hal ini langsung menjadi berita panas di Rumah Sakit. Ditambah lagi
kondisi Maria yang ntah kebetulan atau pun tidak menjadi semakin memburuk.
Sehingga tim dokter memutuskan untuk mengembalikan Maria ke ruang ICU. Tanda
vitalnya menurun, setiap hari paling tidak sekali tubuhnya mengalami kejang
mendadak. Tanpa tanda yang jelas tubuhnya bisa kejang-kejang. Kadang suhu
tubuhnya bisa mencapai 39° celcius. Dan kadang dibawah 30° celcius. Kondisinya
tak pernah separah ini, jelas sekali kalau dirinya marah karena Arsa tak pernah
lagi mengunjunginya, pikir tim medis. Namun ntah yang sebenarnya terjadi
seperti apa dan kenapa, tidak ada seorang pun yang tahu pasti, selain Tuhan.
Di medan, arsa tengah termenung memikirkan sesuatu. Walau
ia sadar ini hari terakhirnya, namun perasaannya tidak enak mengenai suatu hal.
Ia memikirkan Maria dan tidak enak akan perasaannya itu. “jadi lu disini?”
suara itu tiba-tiba datang dari arah belakang Arsa. Belum sempat Arsa menoleh
kebelakang, pria itu telah berjalan disampingnya. “heh, ada apa?” tanya Arsa
kepada pria disampingnya itu. Ia adalah teman Arsa dari dinas sosial yang juga
ditunjuk pergi bersamanya, Dino. “seharusnya gw yang nanya itu, lu ada apa?”
tanya Dino. “heheh, lu aneh ya, gak ada apa-apa kok” jawab Arsa. “ok. Gak ada
apa-apa ya? ... gimana kabar Maria?” tanya Dino. “huft,, gw gak tahu. Yang
jelas gw ngekhawatirin dia” jawab Arsa. “ooo,,, jadi lu kayak gini gara-gara
mikirin Maria??” tanya Dino yang puas jebakannya berhasil. “apa! Mikirin
Maria?? Gak kok. Gw itu,, ya gw itu,,” jawab Arsa terbata-bata. “haha,, udah
gak usah lu ngenutupinnya dari gw. Gw itu udah kenal elu dari kita SMP. Dan
kita udah berteman baik sejak SMA, trus kuliah dan sekarang kita satu tim di
satu dinas yang sama. Jadi jika di dunia ini ada orang yang paling kenal elu,
itu gw” terang Dino. “gw bilang gw gak apa-apa, dan. Lagian gw Cuma
ngekhawatirin dia kok bukan mikirin dia” jelas Arsa. “lu gak bisa ngibul. Sikap
lu ke mayat hidup itu udah jadi bahan gosip di rumah sakit dan bahkan dikantor
kita. Lu pikir anak-anak gak tahu apa setiap lu pulang kerja lu itu selalu
kerumah sakit. Dan lu bisa pulang tengah malam dari rumah sakit. Trus gw juga
denger kabar dari para suster di sana, katanya lu itu selalu ngomong sendiri,
ketawa sendiri, udah kayak orang gila tahu gak” kata Dino. “apa!” kata Arsa
sedikit sewot. Melihat expresi Arsa, membuat Dino menghela nafas panjang dan
berkata “ya gak salah lu perhatian sama orang, suka sama orang, dan cara yang
lu pake itu juga gak salah sih, tapi. Kita aja gak tahu identitasnya, dan juga
sampai detik ini tidak ada orang yang datang mengaku keluarganya, dia juga
masih belum sadar. Dia dipanggil mayat hidup. Trus apa yang ngebuat lu jadi
berubah seperti ini. Seinget gw cewe yang ngedeketin elu itu semuanya body
model dan blasteran. Sedangkan mayat hidup itu,,,”kata Dino terpotong dengan
perkataan Arsa “bisa gak sih lu gak manggil dia mayat hidup??”. “ok Maria”
jawab Dino disusul dengan helaan nafas yang berat. Mendadak suasana menjadi
hening. “gw juga gak tahu No. Ntah ini bisa dikatakan suka atau enggak. Tapi
yang jelas pada awalnya gw hanya kasian sama dia, trus gw penasaran sama dia.
Orang yang dinyatakan waktu kematiannya kemudian bisa menggenggam tangan
seseorang. Dan.. semakin lama gw ngelihat cewe itu, cewe itu jadi gak mau pergi
dari otak gw. Setelah sekian lama akhirnya gw bisa bahagia hanya dengan melihat
wajah orang lain. Sepertinya sudah sangat lama perasaan ini ada. Terakhir
perasaan ini ada ketika nyokap gw masih hidup. Itu artinya sudah 7 tahun gw gak
pernah sebahagia ini, sedamai ini. Kadang gw berpikir, wanita itu adalah
jelmaan Mami. ... ntahlah No, apakah ini bisa disebut suka atau enggak” kata
Arsa. Mendengarnya membuat dino tersenyum simpul dan berkata “ yeah, itu yang
gw maksud dengan berubah tadi. Lu jadi suka tersenyum, lu lebih ramah. Gw
seperti melihat Arsa ketika kita sekolah dulu”. Dino kemudian merangkulkan
tangannya ke bahu Arsa. Dengan senyuman persahabatan, ia berkata “gw dukung lu
seratus persen” disusul dengan acungan jempol disisi tangannya yang lain.
Melihat semua ini membuat Arsa jadi sangat tidak nyaman. Dengan sigap Arsa
melepaskan tangan Dino dan berkata “dukungan apaan! Gw gak lagi kampanye!”.
“yah dia balik lagi” kata Dino yang merasa sisi devil Arsa yang kembali ntah
dari mana.
ÀxÄÅÆØÄxÀ
Akhirnya pesawat telah mendarat di Bandara Internasional
MinangKabau. Begitu keluar di pintu bandara, Dino langsung di sambut oleh
keluarganya. Dino telah memiliki istri dan sepasang anak. Dan itu jualah yang
menyebabkan Dino memberikan semangat kepada Arsa ketika berada di tempat
pengungsian di Medan. Sedang Arsa pulang dengan taxi.
Setiba dirumah, kekhawatirannya kepada Maria semakin
memuncak. Dia langsung mengambil kunci mobilnya, dan menyetirkan mobilnya
menuju Rumah Sakit. Setiba di Rumah Sakit, Arsa langsung menuju ruangan tempat
Maria biasa berada. Ternyata yang ia lihat hanya ranjang hitam yang bahkan
sangat bersih, seperti tidak pernah ditempati sebelumnya. “Maria dipindahkan di
ruang ICU pak” suara seorang wantia muncul dari belakang. “Ratih? ICU? Kenapa
Maria dikembalikan lagi ke ruang ICU?” tanya Arsa panik. “selama Bapak tidak
mengunjunginya, setiap harinya ia selalu kejang. Dan bahkan suhu tubuhnya tidak
stabil. Kadang terlalu panas, dan kadang terlalu dingin. Makanya,,,” perkataan
Ratih terpotong karena Arsa langsung pergi meninggalkan Ratih. Seperti orang
kesetanan, ia berlari menuju ruang ICU. Ia tidak peduli berapa banyak orang
yang ia tabrak, yang ia pedulikan hanyalah Maria. Keadaannya memburuk tanpa
dirinya. Setiba di depan ruang ICU. Arsa termenung melihat kondisi Maria, seperti
pertama kali ia melihatnya. Hanya saja kali ini Maria tidak mengenakan selang
oksigen di mulutnya, tapi masker oksigen. Di ruangan ini tidak ada siapa-siapa.
Arsa pun langsung masuk kedalam dan menemui Maria. Setiba di dalam ruangan itu,
Arsa langsung berkata “kamu kenapa?? Kok keadaan kamu memburuk lagi sih. Apa
karena aku ya?? Aku minta maaf. Aku tidak pamit sebelumnya. Aku tahu ini
salahku, tapi maafin aku ya!?”. Ia berdiam diri sangat lama. Matanya terus
menatap lembut Maria. Dalam hati kecilnya ia berharap Maria terjaga. Hingga
tanpa sadar ia menitikkan air mata. Menyadari air matanya keluar, Arsa langsung
mengambil air mata itu dengan jemarinya. Ia perhatikan baik air matanya itu dan
berkata “bahkan kamu juga ingin melihatnya sadar ya?”. Seperti bergerak
sendiri, tubuhnya melangkah mendekati Maria, ia raih masker oksigennya dan ia lepaskan.
Wajahnya perlahan namun pasti mendekati wajah Maria yang tengah terbaring
lemah. Ditempelkannya dengan lembut bibirnya di bibir Maria. Rasanya,,, sangat
nyaman. Pikirannya jadi benar-benar kosong. Lumayan lama bibirnya melekat.
Matanya juga terpejam menikmati ciuman itu. Ciuman sederhana. Seperti mencium
kucing. Namun tak terpikirkan bagi Arsa untuk melepaskannya. Hingga disaat Arsa
dengan pelan menaikkan kelopak matanya. Ia melihat dua bola mata nan cantik
menatap lurus ke dalam matanya. Betapa kagetnya Arsa melihat kedua bola mata
itu yang akhirnya membuat dirinya terpental menjauh dari Maria. “kamu siapa??
Kenapa matamu bisa begitu dekat” tanya Maria masih sangat lemas. “ka,, kamu
bicara??” tanya Arsa kaget. Dan kali ini kagetnya jadi berlipat ganda. Tanpa
menjawab pertanyaan Maria, Arsa langsung berlari mencari dokter sambil
berteriak memanggilnya. Langkahnya langsung terhenti ketika melihat dokter
Adrian. “wowowow, anda tahukan ini Rumah Sakit??” tanya dokter Adrian yang tidak
suka melihat Arsa berlarian di lorong koridor. “Maria,,, Maria,,,” kata Arsa
yang sepertianya ia sudah kehilangan kata-kata. “kenapa?? ... anda tidak
melihat hantu Maria kan??” tanya dokter Adrian sedikit bercanda. “ini bukan
hantu. Dia,,, berbicara” kata Arsa. “apa!!” kata dokter Adrian. Mendengar hal
ini dokter Adrian dan yang lain langsung berlari menuju ruang ICU. Kabar ini
juga langsung terdengar oleh Dokter Kepala. Sesampainya di ruang ICU, mereka
langsung melihat hal yang sama yang dilihat oleh Arsa sebelumnya. Maria telah
sadar. Dokter Adrian langsung datang dan memeriksa keadaan Maria. “bagaimana
keadaan kamu sekarang??” tanya Dokter Adrian setelah ia menyelesaikan
pemeriksaan. “keadaanku??” tanya Maria lemah. “iah, yang kamu rasakan. sakit,
lemas, kaku,,,” jelas Dokter Adrian. “tidak, aku tidak merasakan apa-apa. Kamu
siapa??” tanya Maria. “saya adalah dokter kamu. Yah bisa dibilang yang
menyelamatkan nyawa kamu” jawab Dokter Adrian. “lalu aku ada dimana??” tanya
Maria lagi. “kamu ada di Rumah Sakit” jawab Dokter. “rumah sakit itu apa??”
tanya Maria. “ia tempat dimana semua orang sakit datang dan pulang setelah
sehat” terang Dokter Adrian. “ok. Lalu nama kamu siapa??” tanya Dokter Adrian.
“nama itu apa??” tanya Maria. Mendengar pertanyaan ini membuat semuanya kaget.
Mereka saling bertatapan. Seorang suster bertanya kepada Maria “memangnya kamu
tidak ingat siapa kamu? Siapa orang tua kamu? Dan dari mana asal kamu??”.
“orangtua itu apa? Dan apa kalian tidak bisa memberitahukan siapa aku?” tanya
Maria. Semuanya menjadi sangat panik. Kembali mereka saling berpandangan. Arsa
berjalan mendekati Maria dan berkata “nama kamu Maria. Tenanglah, jika kamu
tidak bisa mengingatnya, jangan dipaksakan. Mendengar suara kamu saja itu sudah
cukup”. “Maria,, apa yang kamu ingat? Apa saja? Apa ada sesuatu yang kamu
ingat??” tanya dokter Adrian. “yang aku ingat??... yang aku ingat. Aku
mendengar suara-suara” jawab Maria. “suara-suara?” tanya Dokter bingung. “suara
menenangkan seperti suara pria itu [Maria menunjuk ke arah Arsa] kemudian aku melihat
ada hitam diantara putih. Hanya itu yang aku ingat” jawab Maria. “hitam di
antara putih?? Apa itu??” tanya dokter Adrian. “itu mataku!” jawab Arsa di
dalam hatinya. Seketika Arsa menjadi panik. Ia takut jika wanita itu mengatakan
kalau dirinya telah mencium Maria. Maria tidak menjawab pertanyaan itu, namun
terlilhat jelas matanya sangat berat. Sepertinya perbincangan singkat ini telah
menguras banyak tenaganya. Hingga ia benar menutup matanya. “Pak Arsa, bisa
kita bicara sebentar??” ajak Dokter Adrian yang langsung berjalan keluar
ruangan. Tanpa sepatah kata pun Arsa mengikuti langkah Dokter Adrian. Setiba
diluar ruang ICU, Dokter Adrian membuka pembicaraan “seperti yang kita lihat,
bahwa dia tidak bisa mengingat siapa dirinya. Dugaan sementara saya dapat
menyimpulkan kalau dia itu amnesia. Namun untuk memastikannya, kita akan
melakukan pengecekan lagi. Dan kali ini pasti hasilnya lebih sempurna, karena
pasien telah sadar. Dan yah,, sepertinya Bapak harus lebih serius dalam
pembuatan KTPnya”. “KTP??” tanya Arsa bingung. “ia kita tidak tahu apakah ini
permanen atau tidak. Yang jelas, mengingat kecelakaan yang dia alami,
traumatiknya pasti sangat besar... tapi,,, jika kita melakukannya saya tidak
yakin berapa lama kami bisa merawatnya” terang Dokter Adrian. “maksud Dokter
apa??” tanya Arsa. “ini masalah sisa dana yang ada” jawab dokter Adrian. Mereka
semua terdiam. “mm,, begini saja.
Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Masalah dana itu bukan urusan kalian”
jawab Arsa. “mm tapi bukannya dinas sosial tidak memberikan dana dua kali untuk
ini??” tanya Dokter Adrian. “gw bilang itu urusan gw” kata Arsa yang mendadak
berubah, ia mengatakannya dengan tatapan yang sangat dingin dan menyeramkan.
Namun sebenarnya, seperti inilah Arsa yang sebenarnya setelah kematian Maminya.
Melihat tatapan itu membuat Dokter Adrian ketakutan dan tanpa sadar tubuhnya
gemetar. “pergilah lakukan pekerjaanmu!” kata Arsa tanpa melihat ke arahnya.
Dengan tubuh yang masih gemetar, Dokter Adrian langsung berjalan meninggalkan
Arsa, dan setelah kekuatannya kembali, ia pun mempercepat langkahnya kembali
menuju ruangannya. “haah,,, perasaan apa ini, aku seperti bertemu dengan
ajalku” kata Dokter Adrian sambil mengelus dadanya. Seakan tak percaya apa yang
baru saja ia rasakan.
semoga kalian menikmati ceritanya ya....
bersambung ke LAST MEMORY, REBORN 4....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar