Di Muara Labuh, orangtua Fenny tengah panik mencari
anaknya yang sudah berminggu-minggu tidak pulang dan tanpa kabar. Mengingat SMS
terakhir yang dikirim Fenny adalah dia akan pergi mengunjungi temannya, membuat
pada awalnya mereka tidak begitu panik melihat putri bungsunya itu tidak
pulang. Ditambah lagi kabar kecelakaan mobil yang masuk jurang yang mereka
dengar membuat mereka juga tidak begitu panik. Namun ini sudah lebih dari 2 minggu,
masa perkuliahan akan segera dimulai. Namun putri mereka belum juga pulang.
Mereka menghubungi teman2 Fenny, namun tidak ada satu pun dari mereka yang
pernah bertemu atau bahkan melihat Fenny selama masa liburan. Kemudian mereka
teringat akan berita kecelakaan mobil yang masuk jurang yang menewaskan semua
penumpang itu. Kalau dipikir lagi, hari kejadiannya bertepatan dengan hari
Fenny ke Padang. Mereka kemudian mengambil inisiatif untuk ke Padang dan
mencari rumah sakit yang diberitakan di media.
Sesampainya di rumah sakit tersebut, mereka langsung
mencari informasi mengenai putri mereka. Namun informasi yang mereka dapat dari
meja resepsionis adalah “maaf pak semua korban kecelakaan mobil itu telah tewas
dan telah dijemput oleh keluarganya masing-masing. Dan biasanya pak, buk jika
mayat korban kecelakaan dirumah sakit ini kalau dalam kurun waktu tertentu tidak ada orang yang mengaku keluarganya, akan
langsung dimakamkan. Biar korban bisa cepat damai dialamnya”. Mendengar hal itu
membuat hati orangtua Fenny merasa hancur berkeping-keping. Tubuh mama seperti
kehilangan jiwanya sangat lemah dan langsung ambruk. Papa fenny tiada bisa
menahan sedihnya atas segala luka dan penyesalan yang mereka rasakan. Tangisannya
terdengar begitu keras. Andai saja mereka langsung pergi mencari tahu kebenaran
informasi mengenai kecelakaan itu ketika mereka mendengar kabarnya, pasti
mereka bisa melihat wajah putri bungsu kesayangan mereka walau untuk terakhir
kalinya. Dengan menahan isak-tangisnya, papa bertanya “lalu dimana dimakamkan
putri kami?”. “maaf pak itu bukan wewenang kami. Sejujurnya kami tidak tahu
kalau soal urusan pemakaman. Itu tanggung jawab pihak asuransi sama pemerintah.
Kan mereka yang bertanggung jawab soal dana kecelakaan lalu lintas. Kami hanya
memeriksa mayat atau mengobati pasien” jawab perawat tersebut. Dikarenakan terbatasnya uang yang mereka bawa, membuat mereka menghentikan pencarian dan memutuskan
untuk kembali ke Muara Labuh. Berat memang untuk memilih keputusan ini dan
menerima kenyataan pahit ini. Begitu sampai di Muara labuh, mereka langsung
mengadakan ritual kematian sesuai dengan adat tradisi yang ada. Walau mereka
tidak tahu pasti kapan kematian Fenny terjadi, namun mereka tetap berniat untuk
melalukan ritual kematian mulai dari awal. Yaitu mengaji 3 hari, mengaji 7
hari, mengaji 2 x 7, mengaji 3 x 7, dan terakhir mengaji 100 hari. kabar
kematian Fenny yang sangat mengejutkan ini ditambah dengan cara kematiannya
yang sangat tragis serta wajah putri mereka yang tidak bisa mereka lihat untuk
terakhir kalinya, membuat semua keluarga besar dan seluruh warga desa berduka
sekaligus terkejut. Kabar kecelakaan mobil yang jatuh kejurang ini kembali
menjadi tapik yang hangat diperbincangkan warga desa.
ÀxÄÅÆØÄxÀ
“waah,,, ganteng banget tuh cowo, tipe gw banget nih”
kata perawat diresepsionis yang bertubuh paling tinggi. Mendengar perkataan
itu membuat yang lain berusaha menyatukan pandangan ke arah pria ganteng yang
dimaksud itu. Dan wallah!!, komentar para gadis yang tengah melihat pria tampan
pun mengalir begitu saja dan membuat mereka sangat ceria. “hei lihat pria itu
kemari,, pria itu kemari” kata perawat yang memiliki tahi lalat di dekat
hidungnya itu. Pria tampan itu berjalan mendekati meja resepsionis. Bibirnya
tersenyum tipis dan berkata “saya dari dinas sosial, saya ingin melihat pasien korban
kecelakaan itu”. Kedua perawat itu hanya diam terpana. “apa ada yang bisa
membantu saya?” tanya pria tampan dari dinas itu sekali lagi. “ha 'ah yah. Bapak
sudah menunggu di ruangannya. Lurus dan belok kanan” kata perawat yang berbadan
tinggi dengan wajah yang masih terpana. Tanpa banyak berbicara lagi, pria itu
langsung berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan perawat tersebut.
Begitu
mengetuk pintu, pintunya langsung terbuka perlahan akibat tekanan ketukannya.
“oh silakan masuk. Ada apa ya??” tanya dokter kepala. Pria itu langsung masuk,
sesuai arahan dari gimik yang diberikan dokter kepala, pria itu pun langsung
duduk. Setelah menyamankan dirinya di kursi sofa yang begitu nyaman, pria itu
membuka mulutnya “saya dari dinas sosial. Nama saya Arsa Kenneth Dean. Seperti
yang sudah diberitahukan kepada kalian, saya ingin melihat keadaan pasien
korban kecelakaan itu”. “wah wah wah, bahkan saya belum memberikan anda
minuman. Anda pria yang sangat to the poin ya?” kata dokter kepala. “ya sudah
jika kamu sudah tidak sabar, mari ikut saya!” sambung dokter kepala sambil
mengangkat pantatnya yang sedari tadi telah nyaman berada di kursinya dan
berjalan keluar dari ruangannya. Arsa pun tanpa dikomando langsung mengikuti
dokter kepala.
Begitu sampai diruang ICU, dokter
kepala langsung meminta berkas pasien tersebut kepada perawat jaga. Kemudian
mereka meneruskan perjalanan mereka menuju ruangan pasien korban kecelakaan
tersebut. Diluar ruangan, mereka bisa melihat pasien di dalam ICU dari balik
kaca. “bagaimana keadaannya dok?” tanya Arsa. “ya keadaannya stabil, tidak
membaik dan juga tidak memburuk. Tanda kehidupan selalu terbaca oleh alat medis
kami, tapi... yah bapak tahukan jika suatu keadaan dimana sipemilik tubuh tidak
menginginkan apa-apa atau bahkan mengingginkan kematian, namun tuhan tidak
kunjung memberikannya kematian. Yah, bisa dikatakan seperti itu.” Jelas dokter
kepala. “lalu bagaimana kalau kita mencabut semua alat bantunya??” suara itu
tiba-tiba muncul dari belakang mereka. Ternyata suara itu berasal dari dokter
pria senior yang tadi berbicara dengan suster penjaga. “dokter adrian?” sapa
dokter kepala. “dokter kepala?” balas sapa dari dokter yang ternyata diketahui
bernama Adrian. “kenapa anda berkata seperti itu?” tanya Arsa bingung cendrung
marah. “ia pak. Kita sudah berusaha sangat keras untuk membantunya, tapi dia
juga tidak mau membantu dirinya. Intinya bisa dikatakan hanya kita yang
memaksanya untuk tetap hidup dengan alat-alat itu. Bukankah akan lebih baik
jika kita menuruti keinginannya??” terang dokter Adrian. “jika dia ingin mati,
tentunya dia sudah mati dari dulu. Semua orang yang bersamanya didalam mobil
yang langsung ditemukan setelah kejadian saja semua telah tewas, tapi dia
berada ditengah hutan selama 2 minggu. dan dia masih hidup.” Kata Arsa. “itu
yang saya katakan tadi. Tuhan tidak menginginkan kematian atas dirinya” timpal
dokter kepala. “tapi pak, selama ini kita tidak menemukan perkembangannya sama
sekali. Bahkan lemak ditubuhnya telah mulai menghilang” protes dokter Adrian.
“itu pertanda bagus. Jika lemak ditubuhnya mulai berangsur menghilang, berarti
tubuhnya juga ikut membantu menyembuhkan dirinya. Yah walau obesitas itu buruk,
namun dalam keadaan seperti ini akan sangat membantu untuk penyembuhan pasien”
jelas dokter kepala. “iya kalau tidak salah menurut data yang ada, pertama kali
mereka menemukannya ia memiliki bobok 89 KG” kata Arsa. “apa saya boleh masuk
kedalam??” tambah Arsa. Dihatinya ia sangat penasaran akan wanita di depan
matanya. Kenapa dia bisa seberuntung itu? Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawanya
seperti yang lainnya? Apakah Tuhan telah menyiapkan rencana yang indah tuk
dirinya? Atau Tuhan hanya ingin menunjukkan kuasanya saja? Ataukah Tuhan
mengirimnya untuk menguji orang lain? Atau menguji seseorang? Berbagai pertanyaan
seketika bermunculan dalam benaknya. Sampai ia berdiri tepat di depan wanita
itu. Ia hanya terdiam. Otaknya penuh dengan pikirannya hingga ia tak mendengar
apa yang dikatakan oleh dokter kepala dan dokter Adrian. Hingga mereka
memutuskan untuk meninggalkan Arsa sendirian di dalam ruangan itu. Matanya
menatap lurus kearah kaki wanita itu dan bergerak lurus terus keatas dan
berakhir menuju wajahnya. Seketika otaknya menjadi kosong. Tidak ada lagi
pertanyaan yang menghujani otaknya. Pikirannya sangat tenang. Walau lebam
diwajahnya sudah menghilang, namun bekas luka diwajahnya tetap setia berada
disana. Namun itu tidak menjadi masalah bagi pandangannya. Matanya terpaku
menatap wajah itu. Ntah kenapa tiada rasa kasihan yang muncul atau perasaan
apapun ketika melihatnya. Hanya kosong. Namun membuat matanya tidak beralih
pandang. Dia mendekati wanita itu. Meletakkan tangannya di atas kening wanita itu. Ia
merasakan dingin di telapak tangannya. Ia kemudian menyentuh lengan wanita itu
dan meletakkan jemarinya tepat di urat nadi. “ia benar, terasa sangat pelan dan
lembut denyut nadinya” kata Arsa pelan. Kemudian ia kembali menatap wajah
wanita itu dan berkata “hei! Aku tidak tahu siapa kamu, tapi apa kamu tidak
bosan tidur terus, bangunlah! Sungguh. Aku benar ingin berbicara denganmu.
Aku... jika tidak ingin bangun. Jangan membuat semua orang menjadi repot
karenamu” dan mengakhirinya dengan senyuman pemberi semangat. Kemudian Arsya
keluar dari ruangan itu dan disambut oleh dokter adrian. Mereka kemudian
berjalan menuju ruangan dokter kepala untuk membahas tindakan selanjutnya.
“kamu telah melihat keadaannya kan? Jadi bagaimana
keputusanmu pak Arsa??” tanya dokter kepala. “seperti yang sudah dikatakan
sebelumnya jika dia tidak memiliki perkembangan, kalian bisa mencabut peralatan
itu dari tubuhnya. Lalu beritahukan kepada saya tanggal waktu kematiannya dan
lakukan prosedur selanjutnya. Namun jika ada perkembangan lakukan pekerjaan
kalian. Soal dana akan diberikan begitu kalian menyerahkan notanya kepada kami”
kata Arsa memberi penerangan. “lalu bagaimana menurut dokter Adrian??” tanya
dokter kepala lagi. “itu sudah jelaskan pak??” jawab Dokter Adrian
mengisaratkan pilihan selanjutnya. Yaitu melepaskan alat bantu penunjang
hidupnya dan mengumumkan waktu kematiannya. “lalu kapan akan kalian lakukan??”
tanya Arsa. “kita akan memberikan dia kesempatan dua hari lagi. Siapa tahu
semuanya akan membaik” kata dokter kepala. “ya sudah dua hari lagi saya akan
kembali lagi kesini” kata Arsa yang sesaat kemudian langsung berdiri dan
meninggalkan ruangan itu. “pak kenapa bapak masih menundanya pak??” tanya
dokter Adrian bingung. “kita hanya dokter. Bukan izrael. Kita hanya melakukan
pengobatan dan apa yang kita bisa. Bukan mencabut nyawa seseorang” jawab dokter
kepala. “ tapi pak...”kata-katanya terhenti dan “baiklah pak, saya permisi”
kemudian dokter Adrian meninggalkan dokter kepala sendirian diruangannya.
Di dalam kamarnya, ketika semua pekerjaan yang harus
dilakukannya telah selesai, Arsa membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang
sangat luas dan nyaman. Tiba-tiba wajah wanita yang ia temui di rumah sakit itu
muncul dalam benaknya. Bahkan ia telah berusaha memikirkan hal lain, namun
wajah wanita itu tetap ada dalam pikirannya. Setelah sekian lama melawan
pikirannya sendiri, akhirnya ia tertidur setelah mengalah dengan pikirannya.
Wanita itu bahkan muncul dalam mimpinya. Wanita itu tidak berkata apa-apa,
tidak melakukan apa-apa seperti apa wajah yang ia lihat dirumah sakit, seperti
itu pula yang ia lihat dalam mimpinya. Bahkan ketika esok harinya di kantor pun
ia masih terbayang wajah wanita itu. Hanya saja kali ini perasaan lain muncul
dalam dirinya. Yaitu ingin menemuinya lagi.
Hari yang dimaksud pun tiba. Dua hari setelah hari
terakhir ia datang ke rumah sakit. Kali ini mereka langsung bertemu di depan
ruang ICU. Karena Arsa telah terlebih dahulu menuju ke ruang ICU dan melihat
wanita itu. Posisinya tak bergeming. Sejak tiba ia hanya berdiri dari balik
kaca. Matanya pun terpaku ke arah wanita itu. Seakan ia adalah kekasihnya yang
sangat ia cintai dan sangat takut kehilangannya. “pak Arsa?” sapa dokter
Adrian. Arsa menolehkan wajahnya ke arah suara berasal. Ternyata dokter Adrian tidak
datang sendirian. Selain dengan Dokter Kepala, beberapa suster lain pun juga
bersama mereka. “bagaimana perkembangannya? Apa kalian sudah membuat
keputusan??” tanya Arsa. “rekam medisnya sejak dua hari belakangan ini
menunjukkan keadaannya memburuk. Alat vitalnya melemah. Dan laporan dari
pemeriksaan yang dilakukan tadi pagi pun menunjukkan keadaannya semakin tidak
baik. Bisa dikatakan jantungnya sekarang ini berdetak hanya karena dipompa oleh
mesin” jelas dokter Adrian. “lalu bagaimana menurut pak Arsa sendiri?” tanya
dokter kepala. “lakukan final test, dan. Apapun keputusan kalian aku akan
mengikutinya” jawab Arsa.
Kemudian mereka pun masuk kedalam ruangan ICU dan
memeriksa keadaan wanita itu. Selama
hampir satu jam mereka memerika dan melakukan berbagai upaya untuk
menyelamatkan nyawanya. Namun yang ada malah sebaliknya mesin pendeteksi
kehidupan memberikan gambar garis lurus dengan tekanan jantung nol per nol.
Moment ini juga disaksikan oleh mata kepala Arsa sendiri. Mereka pun
mengumumkan kematian wanita itu. Dan mereka mulai melepaskan alat medis yang
selama ini menunjang kehidupan wanita itu. Ritual terakhir yang selalu
dilakukan oleh para dokter rumah sakit ini untuk pasien yang meninggal adalah
memberikan doa sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing. Setelah doa
selesai dilakukan, satu persatu para dokter dan perawat pun keluar. Kecuali
seorang perawat yang sejak pertama wanita itu datang di rumah sakit ini
ditugaskan untuk merawatnya. Ia berdiri lama melihat wanita itu polos tanpa
alat bantu medis. Terlihat jelas kerutan kulitnya, kulitnya mengering dan pipi
wanita itu kini terlihat sangat peot. Mungkin karena selang oksigen yang selama
ini ada di mulutnya membuat pipinya terlihat gemuk. Perawat itu tak bisa
menahan air matanya. Walau ia hanya merawat mayat hidup, namun sepertinya rasa
sayangnya telah tumbuh. “kamu ngapain diam disitu? Cepat bawa dia ke kamar
mayat. Sebentar lagi mobil ambulans telah siap” perintah dokter Adrian. “tapi
dok. Kita belum melakukan yang terbaik. Dia tidak mungkin pergi begitu saja”
jawab perawat itu dengan penuh isak tangis. “kita sudah melakukan segala upaya
yang terbaik, dan ini hasilnya. Kamu harus mengiklaskannya. Lagian dia itu kan
bukan siapa-siapa kamu” kata dokter Adrian. “dia memang bukan siapa-siapa ku tapi
aku tidak tahu kenapa sepertinya aku telah terikat dengannya” perkataan perawat
itu membuat Arsa menyadari sesuatu. Ia juga baru pertama kali bertemu dengan
wanita itu, tapi sepertinya ia telah terikat oleh wanita itu yang bahkan
identitasnya tidak diketahui. “aku percaya. Aku percaya dia disini karena satu
alasan. Dan apapun alasannya... itu bukan untuk kematian” sambung perawat itu.
“hei kamu yang waras, dia jelas-jelas sudah mati. Dan
jangan buat keributan disini. Ini rumah sakit” kata dokter Adrian yang kemudian
langsung membelakangi perawat itu dan pergi meninggalkannya. Perawat itu
mencoba menenangkan dirinya, ia melangkah mendekati wanita itu. Menggapai
tangannya yang sudah sangat dingin. Dari balik cermin Arsa mengamati semuanya
dan karena itu pula membuat dokter Adrian berhenti dan berdiri didekat Arsa.
Perawat itu menggenggam erat tangan wanita itu dan berkata “sepertinya hanya
aku yang mengharapkan kamu untuk hidup. Apapun yang terjadi, aku tetap.. aku
tetap, tidak akan mengucapkan selamat tinggal”.
“Kenapa bapak masih di sini?...
ach, perawat itu. Perawat itu sudah ditugaskan untuk mengurus wanita itu sejak
pertama kali kami menerimanya. Dia itu perawat magang. Dari kampung. Ya,,
mungkin karena di sini ia tidak punya siapa-siapa jadi dia merasa kalau pasien
itu adalah kerabatnya. Tidak usah bapak pikirkan. Mari pak, kita ke ruangan
Dokter Kepala!” terang dokter Adrian. “oh, benarkah? Ya sudah kalau begitu”
jawab Arsa dan mereka kemudian melangkahkan kaki mereka menuju ruangan dokter
kepala, namun...
Kemudian perawat itu melepaskan genggaman tangannya dan
menarik tangannya. Ia membalikan badannya. Tiba-tiba badannya berhenti
membalik. Seperti ada yang menahan tangannya. Ia membalikkan kepalanya dan
mendaratkan pandangannya ke arah tangannya. Betapa terkejutnya ia melihat
tangannya tengah digenggam erat oleh tangan wanita yang baru saja diumumkan
waktu kematiannya. Tanpa berusaha melepaskan genggamannya, perawat itu
berteriak memanggil dokter. “DOKTER!!! DOKTER!!! SINI DOKTER!!!”. Teriakan
perawat itu membuat dokter Adrian dan Arsa terkejut. Terutama dokter Adrian
yang sangat geram akan teriakan itu. Mereka berdua langsung berlari menuju
ruang ICU disusul dengan yang lain yang juga mendengar teriakan perawat itu.
“KAMU GILA YA, SUDAH SAYA BILANG JANGAN TERIAK-TERIAK!!” kata dokter Adrian
yang tak kuasa menahan emosinya. “Dok lihat!” kata perawat itu sambil menunjuk
ke arah tangannya. Betapa terkejutnya mereka ketika mereka melihat mayat
memegang tangan seseorang. “cepat lakukan pemeriksaan!” perintah Arsa.
Perkataan ini langsung membuat dokter Adrian dan beberapa perawat yang
kebetulan ada disana bergegas melakukan penanganan medis dan memeriksa
keadaanya. Mereka langsung memasang kembali alat-alat medis ke tubuh wanita
itu. Setelah semuanya terpasang dengan baik, “dok tekanan darah meningkat
menuju normal” kata perawat 1. “suhu tubuhnya tidak stabil dok, tapi menunjukan
peningkatan” sela perawat 2. “dia kembali, kakakku kembali” kata perawat yang
tadi berdebat dengan dokter Adrian. Arsa melangkah mendekati perawat itu dan
berkata “nama kamu siapa?”. “ah? Nama saya Ratih. Ratih pak” jawab perawat itu
yang ternyata diketahui bernama Ratih. “kamu, mendatangkan keajaiban. Kamu
telah membawanya kembali” kata Arsa.
tak butuh waktu lama, berita ini telah tersebar luas
hingga ke Dokter Kepala. “jadi, dia tidak mau matikan??” tanya dokter kepala
didepan dokter Adrian, pak Arsa dan beberapa dokter dan perawat lainnya di
depan ruang ICU. Arsa hanya menjawabnya dengan senyum simpulnya. Sedang dokter
Adrian menjawabnya dengan menunduk malu. “lalu bagaimana selanjutnya pak Arsa?”
tanya dokter Kepala lagi. “tentu saja, kami akan mengeluarkan dana untuk
pengobatannya” jawab Arsa. “tapi pak, kami tidak tahu kepada siapa dana ini
harus diberikan??” tanya Ratih. “ya kepada pasien itulah” jawab dokter Adrian.
“pasien itu,,lah. Bukan nama kan??” tanya Ratih lagi. “itu benar. Tanpa
identitas kami tidak bisa menerimanya. Terutama dalam berkasnya. Selama ini
kami hanya mengisi nama pasien itu dengan Korban Kecelakaan. Dan sepertinya itu
tidak pantas bukan. Coba pikirkan jika dia sadar dan melihat namanya sendiri
‘Korban Kecelakaan’ apa yang akan dia katakan?” tanya Dokter kepala. “ia,
bukankah ini bukan masalah baru dalam kasus ini. Saya akan membuat identitas
baru untuk dirinya” jawab Arsa. “identitas baru?” tanya Ratih bingung. “ ia
identitas sementara hingga ia sadar dan memberitahukan identitas aslinya kepada
kita semua” jawab Arsa. Perbincangan ini berakhir dengan perginya Arsa
meninggalkan rumah sakit dan menuju ke kantornya untuk mengurus semuanya,
termasuk identitas sementara untuk pasien itu.
“kamu telah melihat keadaannya kan? Jadi bagaimana
keputusanmu pak Arsa??” tanya dokter kepala. “seperti yang sudah dikatakan
sebelumnya jika dia tidak memiliki perkembangan, kalian bisa mencabut peralatan
itu dari tubuhnya. Lalu beritahukan kepada saya tanggal waktu kematiannya dan
lakukan prosedur selanjutnya. Namun jika ada perkembangan lakukan pekerjaan
kalian. Soal dana akan diberikan begitu kalian menyerahkan notanya kepada kami”
kata Arsa memberi penerangan. “lalu bagaimana menurut dokter Adrian??” tanya
dokter kepala lagi. “itu sudah jelaskan pak??” jawab Dokter Adrian
mengisaratkan pilihan selanjutnya. Yaitu melepaskan alat bantu penunjang
hidupnya dan mengumumkan waktu kematiannya. “lalu kapan akan kalian lakukan??”
tanya Arsa. “kita akan memberikan dia kesempatan dua hari lagi. Siapa tahu
semuanya akan membaik” kata dokter kepala. “ya sudah dua hari lagi saya akan
kembali lagi kesini” kata Arsa yang sesaat kemudian langsung berdiri dan
meninggalkan ruangan itu. “pak kenapa bapak masih menundanya pak??” tanya
dokter Adrian bingung. “kita hanya dokter. Bukan izrael. Kita hanya melakukan
pengobatan dan apa yang kita bisa. Bukan mencabut nyawa seseorang” jawab dokter
kepala. “ tapi pak...”kata-katanya terhenti dan “baiklah pak saya permisi”
kemudian dokter Adrian meninggalkan dokter kepala sendirian diruangannya.
Di dalam kamarnya, ketika semua pekerjaan yang harus
dilakukannya telah selesai, Arsa membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang
sangat luas dan nyaman. Tiba-tiba wajah wanita yang ia temui di rumah sakit itu
muncul dalam benaknya. Bahkan ia telah berusaha memikirkan hal lain, namun
wajah wanita itu tetap ada dalam pikirannya. Setelah sekian lama melawan
pikirannya sendiri, akhirnya ia tertidur setelah mengalah dengan pikirannya.
Wanita itu bahkan muncul dalam mimpinya. Wanita itu tidak berkata apa-apa,
tidak melakukan apa-apa seperti apa wajah yang ia lihat dirumah sakit, seperti
itu pula yang ia lihat dalam mimpinya. Bahkan ketika esok harinya di kantor pun
ia masih terbayang wajah wanita itu. Hanya saja kali ini perasaan lain muncul
dalam dirinya. Yaitu ingin menemuinya lagi.
Hari yang dimaksud pun tiba. Dua hari setelah hari
terakhir ia datang ke rumah sakit. Kali ini mereka langsung bertemu di depan
ruang ICU. Karena Arsa telah terlebih dahulu menuju ke ruang ICU dan melihat
wanita itu. Posisinya tak bergeming. Sejak tiba ia hanya berdiri dari balik
kaca. Matanya pun terpaku ke arah wanita itu. Seakan ia adalah kekasihnya yang
sangat ia cintai dan sangat takut kehilangannya. “pak Arsa?” sapa dokter
Adrian. Arsa menolehkan wajahnya ke arah suara berasal. Ternyata dokter Adrian tidak
datang sendirian. Selain dengan Dokter Kepala, beberapa suster lain pun juga
bersama mereka. “bagaimana perkembangannya? Apa kalian sudah membuat
keputusan??” tanya Arsa. “rekam medisnya sejak dua hari belakangan ini
menunjukkan keadaannya memburuk. Alat vitalnya melemah. Dan laporan dari
pemeriksaan yang dilakukan tadi pagi pun menunjukkan keadaannya semakin tidak
baik. Bisa dikatakan jantungnya sekarang ini berdetak hanya karena dipompa oleh
mesin” jelas dokter Adrian. “lalu bagaimana menurut pak Arsa sendiri?” tanya
dokter kepala. “lakukan final test, dan. Apapun keputusan kalian aku akan
mengikutinya” jawab Arsa.
Kemudian mereka pun masuk kedalam ruangan ICU dan
memeriksa keadaan wanita itu. Selama
hampir satu jam mereka memerika dan melakukan berbagai upaya untuk
menyelamatkan nyawanya. Namun yang ada malah sebaliknya mesin pendeteksi
kehidupan memberikan gambar garis lurus dengan tekanan jantung nol per nol.
Moment ini juga disaksikan oleh mata kepala Arsa sendiri. Mereka pun
mengumumkan kematian wanita itu. Dan mereka mulai melepaskan alat medis yang
selama ini menunjang kehidupan wanita itu. Ritual terakhir yang selalu
dilakukan oleh para dokter rumah sakit ini untuk pasien yang meninggal adalah
memberikan doa sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing. Setelah doa
selesai dilakukan, satu persatu para dokter dan perawat pun keluar. Kecuali
seorang perawat yang sejak pertama wanita itu datang di rumah sakit ini
ditugaskan untuk merawatnya. Ia berdiri lama melihat wanita itu polos tanpa
alat bantu medis. Terlihat jelas kerutan kulitnya, kulitnya mengering dan pipi
wanita itu kini terlihat sangat peot. Mungkin karena selang oksigen yang selama
ini ada di mulutnya membuat pipinya terlihat gemuk. Perawat itu tak bisa
menahan air matanya. Walau ia hanya merawat mayat hidup, namun sepertinya rasa
sayangnya telah tumbuh. “kamu ngapain diam disitu? Cepat bawa dia ke kamar
mayat. Sebentar lagi mobil ambulans telah siap” perintah dokter Adrian. “tapi
dok. Kita belum melakukan yang terbaik. Dia tidak mungkin pergi begitu saja”
jawab perawat itu dengan penuh isak tangis. “kita sudah melakukan segala upaya
yang terbaik, dan ini hasilnya. Kamu harus mengiklaskannya. Lagian dia itu kan
bukan siapa-siapa kamu” kata dokter Adrian. “dia memang bukan siapa-siapa ku tapi
aku tidak tahu kenapa sepertinya aku telah terikat dengannya” perkataan perawat
itu membuat Arsa menyadari sesuatu. Ia juga baru pertama kali bertemu dengan
wanita itu, tapi sepertinya ia telah terikat oleh wanita itu yang bahkan
identitasnya tidak diketahui. “aku percaya. Aku percaya dia disini karena satu
alasan. Dan apapun alasannya... itu bukan untuk kematian” sambung perawat itu.
“hei kamu yang waras, dia jelas-jelas sudah mati. Dan
jangan buat keributan disini. Ini rumah sakit” kata dokter Adrian yang kemudian
langsung membelakangi perawat itu dan pergi meninggalkannya. Perawat itu
mencoba menenangkan dirinya, ia melangkah mendekati wanita itu. Menggapai
tangannya yang sudah sangat dingin. Dari balik cermin Arsa mengamati semuanya
dan karena itu pula membuat dokter Adrian berhenti dan berdiri didekat Arsa.
Perawat itu menggenggam erat tangan wanita itu dan berkata “sepertinya hanya
aku yang mengharapkan kamu untuk hidup. Apapun yang terjadi, aku tetap.. aku
tetap, tidak akan mengucapkan selamat tinggal”. “kenapa bapak masih di sini?...
ach, perawat itu. Perawat itu sudah ditugaskan untuk mengurus wanita itu sejak
pertama kali kami menerimanya. Dia itu perawat magang. Dari kampung. Ya,,
mungkin karena di sini ia tidak punya siapa-siapa jadi dia merasa kalau pasien
itu adalah kerabatnya. Tidak usah bapak pikirkan. Mari pak, kita ke ruangan
Dokter Kepala!” terang dokter Adrian. “oh, benarkah? Ya sudah kalau begitu”
jawab Arsa dan mereka kemudian melangkahkan kaki mereka menuju ruangan dokter
kepala, namun...
Kemudian perawat itu melepaskan genggaman tangannya dan
menarik tangannya. Ia membalikan badannya. Tiba-tiba badannya berhenti
membalik. Seperti ada yang menahan tangannya. Ia membalikkan kepalanya dan
mendaratkan pandangannya ke arah tangannya. Betapa terkejutnya ia melihat
tangannya tengah digenggam erat oleh tangan wanita yang baru saja diumumkan
waktu kematiannya. Tanpa berusaha melepaskan genggamannya, perawat itu
berteriak memanggil dokter. “DOKTER!!! DOKTER!!! SINI DOKTER!!!”. Teriakan
perawat itu membuat dokter Adrian dan Arsa terkejut. Terutama dokter Adrian
yang sangat geram akan teriakan itu. Mereka berdua langsung berlari menuju
ruang ICU disusul dengan yang lain yang juga mendengar teriakan perawat itu.
“KAMU GILA YA, SUDAH SAYA BILANG JANGAN TERIAK-TERIAK!!” kata dokter Adrian
yang tak kuasa menahan emosinya. “Dok lihat!” kata perawat itu sambil menunjuk
ke arah tangannya. Betapa terkejutnya mereka ketika mereka melihat mayat
memegang tangan seseorang. “cepat lakukan pemeriksaan!” perintah Arsa.
Perkataan ini langsung membuat dokter Adrian dan beberapa perawat yang
kebetulan ada disana bergegas melakukan penanganan medis dan memeriksa
keadaanya. Mereka langsung memasang kembali alat-alat medis ke tubuh wanita
itu. Setelah semuanya terpasang dengan baik, “dok tekanan darah meningkat
menuju normal” kata perawat 1. “suhu tubuhnya tidak stabil dok, tapi menunjukan
peningkatan” sela perawat 2. “dia kembali, kakakku kembali” kata perawat yang
tadi berdebat dengan dokter Adrian. Arsa melangkah mendekati perawat itu dan
berkata “nama kamu siapa?”. “ah? Nama saya Ratih. Ratih pak” jawab perawat itu
yang ternyata diketahui bernama Ratih. “kamu, mendatangkan keajaiban. Kamu
telah membawanya kembali” kata Arsa.
tak butuh waktu lama, berita ini telah tersebar luas
hingga ke Dokter Kepala. “jadi, dia tidak mau matikan??” tanya dokter kepala
didepan dokter Adrian, pak Arsa dan beberapa dokter dan perawat lainnya di
depan ruang ICU. Arsa hanya menjawabnya dengan senyum simpulnya. Sedang dokter
Adrian menjawabnya dengan menunduk malu. “lalu bagaimana selanjutnya pak Arsa?”
tanya dokter Kepala lagi. “tentu saja, kami akan mengeluarkan dana untuk
pengobatannya” jawab Arsa. “tapi pak, kami tidak tahu kepada siapa dana ini
harus diberikan??” tanya Ratih. “ya kepada pasien itulah” jawab dokter Adrian.
“pasien itu,,lah. Bukan nama kan??” tanya Ratih lagi. “itu benar. Tanpa
identitas kami tidak bisa menerimanya. Terutama dalam berkasnya. Selama ini
kami hanya mengisi nama pasien itu dengan Korban Kecelakaan. Dan sepertinya itu
tidak pantas bukan. Coba pikirkan jika dia sadar dan melihat namanya sendiri
‘Korban Kecelakaan’ apa yang akan dia katakan?” tanya Dokter kepala. “ia,
bukankah ini bukan masalah baru dalam kasus ini. Saya akan membuat identitas
baru untuk dirinya” jawab Arsa. “identitas baru?” tanya Ratih bingung. “ ia
identitas sementara hingga ia sadar dan memberitahukan identitas aslinya kepada
kita semua” jawab Arsa. Perbincangan ini berakhir dengan perginya Arsa
meninggalkan rumah sakit dan menuju ke kantornya untuk mengurus semuanya,
termasuk identitas sementara untuk pasien itu.
Sesampainya di kantor, Arsa langsung bergegas
menyelesaikan tugasnya. Terakhir adalah membuat identitas sementara untuk
wanita anti maut itu. Pikir Arsa. Ketika matanya menuju tulisan nama, ia
termenung memikirkan nama apa yang cocok itu wanita itu. Kemudian ia memikirkan
sebuah nama. Nama yang sangat cocok dengan perjuangannya melawan maut ‘Maria’.
Nama itu yang terpikirkan olehnya. Ia mengingat perjuangan Bunda Maria dalam
melahirkan Tuhan Yesus. Nama itu begitu saja ia tulis dalam kolom nama. ‘Maria Zilvania’
yaitu Maria hadiah dari Tuhan berupa perempuan yang bermartabat. Kemudian
tanggal dan tempat lahir adalah di jakarta, 8 September tahun 1996. Dan beragama Kristen. Sama dengan Arsa. Semua data telah
selesai dibuat, tinggal menunggu persetujuan, maka dana pun langsung keluar.
Untuk mempercepat transaksi, seharusnya Arsa mengirimkan berkas itu melalui
seseorang detik ini juga. Namun ia malah membiarkan berkas itu berada di atas
mejanya hingga jam kerjanya usai. Diambilnya tasnya dan dimasukannya berkas
wanita yang kini ia namai dengan Maria Zilvania itu. Kemudian ia
melangkahkan kaki ke tempat parkir. Kakinya langsung menuju kesebuah mobil BMW
mini berwarna biru tua gelap. Di bukanya pintu mobilnya, dan dihempaskannya
pantatnya ke jok mobil yang sangat empuk itu. Di hidupkannya mobil mewah itu
dan ia lajukan mobil itu menuju ke rumah sakit.
BERSAMBUNG....
nantikan next LOST MEMORY, REBORN ya....!? ^,^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar